JAKARTA - Memasuki bulan suci Ramadan di tahun 2026, keragaman kuliner Nusantara kembali menunjukkan pesonanya yang tak tertandingi. Dari sekian banyak takjil populer, ada satu hidangan yang selalu menjadi primadona dan warisan budaya yang tak lekang oleh waktu di Kota Udang, yakni Bubur Harisah.
Sajian ini bukan sekadar makanan pembatal puasa biasa, melainkan simbol tradisi yang merekatkan hubungan antara sejarah, agama, dan kebersamaan masyarakat Cirebon. Bubur Harisah dikenal karena cita rasanya yang sangat khas, memadukan tekstur lembut dengan kekayaan rempah yang mampu memulihkan energi seketika setelah seharian menahan lapar dan dahaga.
Keberadaan Bubur Harisah di Cirebon memiliki akar sejarah yang kuat, terutama di lingkungan pesantren dan pemukiman keturunan Arab di kawasan Jagabayan atau Panjunan. Bagi masyarakat setempat, Ramadan terasa kurang lengkap tanpa kehadiran aroma harum dari bubur yang dimasak dengan proses tradisional ini.
Di tengah serbuan kuliner modern, Bubur Harisah tetap bertahan sebagai identitas lokal yang selalu dinanti kehadirannya. Keunikannya terletak pada bahan baku dan proses pembuatannya yang memerlukan ketelatenan tinggi, menjadikannya sebuah karya kuliner yang penuh dengan filosofi kesabaran.
Filosofi Dan Sejarah Panjang Di Balik Semangkuk Bubur Harisah Khas Cirebon
Asal-usul Bubur Harisah sering dikaitkan dengan tradisi kuliner dari Timur Tengah yang kemudian berakulturasi dengan lidah masyarakat lokal Cirebon. Kata "Harisah" sendiri dalam bahasa Arab merujuk pada hidangan yang terbuat dari gandum yang ditumbuk halus.
Di Cirebon, resep ini mengalami adaptasi dengan penggunaan bahan-bahan lokal namun tetap mempertahankan karakter aslinya yang mengenyangkan. Konon, bubur ini dahulunya merupakan hidangan istimewa yang disajikan untuk para ulama dan bangsawan saat menyambut bulan suci, sebelum akhirnya menjadi sajian yang dapat dinikmati oleh seluruh lapisan masyarakat.
Proses memasak Bubur Harisah juga mencerminkan semangat gotong royong. Biasanya, bubur ini dimasak dalam kuali besar atau kawah, melibatkan banyak orang untuk mengaduk adonan bubur secara bergantian selama berjam-jam.
Hal ini menjadi cerminan bahwa dalam ibadah puasa, terdapat nilai kebersamaan yang kuat. Bubur Harisah sering kali dibagikan secara gratis di masjid-masjid tua di Cirebon, menjadikannya sarana sedekah dan sarana mempererat tali silaturahmi antarwarga yang datang untuk berbuka puasa bersama.
Ragam Bahan Baku Dan Rahasia Rempah Dalam Pembuatan Bubur Harisah
Apa yang membuat Bubur Harisah begitu istimewa dibandingkan jenis bubur lainnya? Kuncinya terletak pada bahan utama dan campuran bumbunya. Bubur ini terbuat dari gandum utuh atau beras yang dimasak bersama kaldu daging kambing yang kental.
Penggunaan daging kambing bukan tanpa alasan; selain memberikan rasa gurih yang mendalam, daging kambing dipercaya memberikan stamina tambahan bagi tubuh setelah berpuasa. Daging tersebut dimasak sedemikian lama hingga serat-seratnya menyatu sempurna dengan tekstur bubur yang lembut.
Keistimewaan lainnya adalah penggunaan rempah-rempah seperti kapulaga, kayu manis, cengkeh, dan jahe. Perpaduan rempah ini memberikan efek hangat di perut, sangat cocok untuk mengawali metabolisme tubuh saat berbuka puasa. Aroma rempahnya yang menyeruak kuat mampu membangkitkan selera makan sekaligus memberikan efek relaksasi.
Di beberapa tempat, Bubur Harisah disajikan dengan siraman minyak samin atau taburan bawang goreng dan potongan daging kambing ekstra di atasnya, menciptakan perpaduan rasa gurih, sedikit manis, dan rempah yang meledak di mulut.
Proses Pembuatan Tradisional Yang Menjaga Keaslian Rasa Selama Puluhan Tahun
Membuat Bubur Harisah bukanlah perkara mudah yang bisa dilakukan dalam waktu singkat. Gandum atau beras harus direndam terlebih dahulu agar teksturnya mudah hancur saat dimasak. Proses pengadukan di atas api kayu bakar membutuhkan waktu minimal 4 hingga 6 jam agar bubur mencapai tingkat kekentalan atau "tanak" yang sempurna.
Penggunaan kayu bakar dipercaya memberikan aroma asap (smoky) yang khas, yang tidak bisa dihasilkan oleh kompor gas modern. Inilah yang membuat pelanggan setia selalu kembali mencari Bubur Harisah di sudut-sudut kota tua Cirebon.
Para pembuat Bubur Harisah biasanya adalah keluarga yang sudah turun-temurun menjaga resep ini secara rahasia. Mereka menjaga konsistensi rasa dengan sangat ketat, mulai dari pemilihan kualitas daging kambing hingga perbandingan jumlah rempah yang digunakan.
Ketekunan para pengrajin kuliner ini memastikan bahwa generasi muda Cirebon di tahun 2026 masih bisa merasakan cita rasa yang sama dengan yang dinikmati oleh kakek-nenek mereka puluhan tahun silam. Keaslian proses inilah yang membuat Bubur Harisah tetap memiliki nilai eksklusivitas tersendiri di tengah maraknya makanan cepat saji.
Melestarikan Warisan Kuliner Sebagai Daya Tarik Wisata Religi Di Cirebon
Saat ini, Bubur Harisah telah bertransformasi bukan hanya sebagai menu berbuka, tetapi juga sebagai daya tarik wisata religi dan kuliner di Cirebon. Banyak wisatawan dari luar kota sengaja datang ke kawasan masjid-masjid bersejarah di Cirebon saat menjelang Magrib hanya untuk mencicipi kelezatan bubur ini.
Hal ini memberikan dampak ekonomi positif bagi warga sekitar yang menjajakan takjil. Melalui dokumentasi foto dan cerita di media sosial, popularitas Bubur Harisah semakin meningkat, menjadikannya salah satu ikon Ramadan yang wajib dikunjungi.
Pemerintah kota dan komunitas lokal terus berupaya melestarikan Bubur Harisah agar tidak hilang ditelan zaman. Festival kuliner Ramadan sering kali menempatkan bubur ini sebagai menu utama yang diperkenalkan kepada khalayak luas. Menjaga Bubur Harisah berarti menjaga potongan sejarah Cirebon yang kaya akan nilai toleransi dan akulturasi budaya.
Dengan menyantap semangkuk Bubur Harisah, kita tidak hanya memuaskan rasa lapar, tetapi juga meresapi nilai-nilai luhur yang terkandung dalam setiap suapannya. Semoga tradisi harumnya Bubur Harisah akan terus mewarnai senja di Kota Cirebon pada Ramadan-Ramadan berikutnya.