Piala Dunia 2026 Pakai AI untuk Deteksi Offside, Ini Cara Kerjanya

Jumat, 12 Juni 2026 | 02:09:01 WIB
FIFA menyiapkan pembaruan teknologi di Piala Dunia 2026 [FOTO : NET].

JAKARTA - Federasi Sepak Bola Internasional (FIFA) menghadirkan sederet pembaruan aspek teknologi untuk pergelaran Piala Dunia 2026 yang dilangsungkan di Amerika Serikat, Kanada, serta Meksiko. 

Salah satu terobosan yang paling menarik atensi adalah pemanfaatan teknologi kecerdasan buatan (AI) guna membantu proses identifikasi offside sekaligus membidani pembuatan avatar 3D bagi seluruh pemain.

 Inovasi mutakhir ini merupakan wujud pengembangan dari sistem semi-otomatis terdahulu untuk Video Assistant Referee (VAR). Pihak FIFA mengklaim bahwa kapabilitas yang diusung teknologi ini jauh lebih mumpuni.

Mengenai mekanisme kerja sistem paling anyar ini, asisten wasit dilaporkan bakal memperoleh notifikasi audio secara real-time lewat alat penyuara telinga (earpiece) tatkala seorang pemain teridentifikasi berada pada posisi offside yang kentara.

 Pada sistem baru tersebut, notifikasi bakal dikirimkan ketika pemain berdiri lebih dari 10 cm di posisi offside. 

Batas ambang jarak ini terhitung lebih rendah ketimbang masa uji coba pada ajang Club World Cup serta Intercontinental Cup yang menerapkan batas jarak 50 cm.

Melalui penerapan sistem ini, hakim garis pun tidak perlu lagi menanti sebuah alur gempuran selesai sebelum mengangkat bendera tanda offside. Walau demikian, vonis final tetap berada di tangan asisten wasit yang bertugas di dalam lapangan. 

Mereka pun diperkenankan untuk memilih tidak mengangkat bendera jika mendeteksi adanya indikasi kekeliruan dari sistem baru tersebut. Kendati diklaim jauh lebih mumpuni, teknologi ini rupanya masih belum sanggup mengeksekusi situasi offside secara mandiri.

Untuk persoalan offside yang terbilang sangat tipis (marginal) ataupun kondisi yang melibatkan pergerakan banyak pemain, vonis akhir akan tetap diputuskan oleh VAR.

 Pihak FIFA sendiri menaruh harapan besar dengan kehadiran inovasi baru ini agar mampu mereduksi rasa kecewa yang kerap dirasakan oleh pemain maupun suporter akibat tersendatnya vonis offside. 

Teknologi ini pun diproyeksikan mampu meminimalkan risiko cedera akibat jalannya laga yang sejatinya sudah harus dihentikan lebih awal lantaran terjadi offside.

Membuat avatar AI untuk 1.248 pemain 

Di samping sistem pendeteksi offside baru, FIFA juga bakal memproduksi avatar 3D berbasis AI bagi seluruh pemain yang berlaga di pentas Piala Dunia 2026. Secara keseluruhan terdapat 1.248 pemain dari 48 negara kontestan yang masing-masing memboyong komposisi skuad berisi 26 pemain.

Tiap-tiap pemain nantinya bakal menjalani proses pemindaian tubuh yang memakan waktu kurang lebih 1 detik.

 Hasil pemindaian yang dilangsungkan kala sesi pemotretan resmi tersebut berikutnya bakal diaplikasikan untuk merancang avatar digital yang menyerupai bentuk tubuh asli pemain seakurat mungkin. Avatar digital tersebut juga dikabarkan bakal digunakan demi memproduksi animasi offside yang terkesan lebih realistis, kaya detail, serta mudah dicerna oleh para pemirsa maupun Piala Dunia mendatang.

Teknologi deteksi bola keluar lapangan

 FIFA pun turut menyiapkan inovasi teknologi baru yang diklaim dapat membantu memvalidasi apakah bola telah meluncur melewati garis samping lapangan (touchline) ataupun garis gawang (byline) sebelum terciptanya gol.

 Inovasi tersebut dihadirkan menyusul rentetan kontroversi yang mencuat dalam beberapa tahun ke belakang, termasuk yang paling hangat terjadi pada laga Premier League yang mempertemukan Aston Villa melawan Brentford.

Bukan hanya itu, FIFA pun memperluas implementasi teknologi "Real-time 3D Recreation" guna mempercepat sekaligus memperjelas penafsiran terkait "line of sight" atau garis pandang dalam rentetan kasus offside.

Sebagaimana dipaparkan oleh KompasTekno dari Times of India, FIFA juga bakal menyuguhkan dua opsi tayangan virtual yang dapat diakses oleh tim VAR maupun pemirsa di layar televisi.

 Tayangan itu menyajikan replikasi sudut pandang dari kedua penjaga gawang, sehingga membantu kelancaran proses pengambilan keputusan serta menjadikan pemaparan insiden di atas lapangan lebih mudah dimengerti.

Terkini