Prancis vs Senegal: Memori Piala Dunia 2002 Hantui Les Bleus

Selasa, 16 Juni 2026 | 03:59:02 WIB
Piala Dunia 2026: Prancis Mengusung Misi Balas Dendam Lawan Senegal [FOTO : NET].

JAKARTA - Prancis mulai menancapkan kehadirannya di Senegal pada tahun 1659 dan secara bertahap mentransformasikannya menjadi wilayah koloni sampai berada seutuhnya di bawah kendali kolonial pada abad ke-19. 

Senegal selanjutnya berhasil mengklaim kemerdekaannya pada 4 April 1960. Sebelum merdeka, teritorial Senegal merupakan bagian dari Imperium Prancis. 

Oleh sebab itu, dalam lembaran sejarah FIFA, Senegal dinilai turut tergabung dalam entitas politik yang mewakili Prancis sewaktu lima pergelaran pertama Piala Dunia dilangsungkan, yakni dari rentang 1930 hingga 1954.

Selang 42 tahun pasca mengemas kemerdekaan, Senegal melakoni debutnya di panggung Piala Dunia pada 2002, di saat Jepang dan Korea Selatan bertindak sebagai tuan rumah.

 Mereka seketika membuat kejutan dengan menyudahi Piala Dunia pertamanya lewat status sebagai perempat finalis. 

Piala Dunia 2026 bertindak sebagai edisi keempat yang diarungi oleh Senegal sekaligus yang ketiga kalinya secara beruntun semenjak edisi 2018 dan 2022 ketika mereka finis di fase 16 besar.

Kampiun Piala Afrika 2021 serta posisi kedua Piala Afrika 2002, 2019, dan 2025 ini mengantongi jalinan emosi serta kultural yang pekat dengan Prancis. 

Perkara itu tercipta bukan cuma lantaran Senegal berstatus bekas jajahan Prancis dan menjadi salah satu bagian anggota Persemakmuran Prancis atau La Francophonie, melainkan juga dikarenakan mayoritas pemain Senegal mengantongi rekam jejak Prancis.

Sepuluh dari total 26 penggawa Senegal dilahirkan di Prancis, bahkan seluruh dari tiga penjaga gawang mereka, termasuk kiper utama Edouard Mendy. 

Seluruh dari 26 pemain Senegal tersebut merumput di jajaran klub luar Senegal, yang mayoritas berada di benua Eropa di mana Liga Inggris serta Liga Prancis menjadi penyumbang paling masif untuk komposisi skuad Singa Teranga.

Uniknya, skuad Prancis sendiri tidak terpisah jauh dari Benua Afrika, lantaran 10 dari 26 penggawa Les Bleus mengalir darah Afrika, termasuk di antaranya N'Golo Kante, Aurelien Tchouameni, Ousmane Dembele, Kylian Mbappe, Rayan Cherki, serta Michael Olise. 

Bahkan salah satu dari tiga kiper mereka, Brice Bamba, dilahirkan di Kongo. Keunikan akar Prancis tersebut rupanya juga merembet ke tim-tim di luar Senegal.

Secara total, terdapat 75 pemain kelahiran Prancis yang berlaga dalam ajang Piala Dunia 2026, dengan porsi terbesar memperkuat negara Senegal, Aljazair, Haiti, dan Kongo, yang seluruhnya merupakan eks koloni Prancis. 

Kendati demikian, hanya Prancis yang tercatat paling rutin berpartisipasi dalam Piala Dunia, bahkan sukses dua kali menyabet gelar juara pada 1998 dan 2018, serta menjadi posisi kedua pada 2006 dan 2022.

Tetap Kuatkah?

Kampiun Eropa sebanyak dua kali tersebut tercatat cuma absen enam kali dari total 23 edisi Piala Dunia sejak 1930. Namun semenjak memenangi Piala Dunia 1998, Les Bleus tidak pernah absen menjadi kontestan Piala Dunia. 

Dalam pergelaran Piala Dunia 2026, Prancis bertindak sebagai salah satu dari dua tim yang paling diunggulkan untuk keluar sebagai juara, di samping Spanyol. 

Sang juara bertahan Argentina yang menundukkan mereka di partai final empat tahun lalu di Qatar bahkan kurang difavoritkan jika disejajarkan dengan mereka.

Mereka bakal menginjakkan kaki di lapangan Stadion MetLife di Rutherford, New Jersey, Amerika Serikat, pada Rabu dini hari pukul 02.00 WIB, dengan status sebagai tim yang merajai Grup D Kualifikasi Piala Dunia 2026 zona Eropa usai mengemas lima kemenangan dan satu kali imbang.

 Walau sempat tumbang 1-2 di tangan Pantai Gading dalam salah satu dari empat laga uji coba menjelang Piala Dunia 2026, Prancis dinilai tetap tangguh pasca menumbangkan Brasil, Kolombia, serta Irlandia Utara.

Kendati demikian, apakah mereka bakal tetap perkasa saat bersua Senegal nanti, hal tersebut masih memicu tanda tanya. Perkara itu didasari oleh fakta bahwa dalam satu-satunya duel kontra Senegal sebelum ini, yakni pada babak grup Piala Dunia 2002 tanggal 31 Mei, Prancis terpaksa menyerah dengan skor 0-1. 

Prancis pun menjadi tim yang menderita kekalahan saat berhadapan dengan tim-tim asal Afrika dalam tiga dari empat edisi Piala Dunia belakangan ini. Dua tim Afrika lain yang sukses menjatuhkan Prancis ialah Afrika Selatan pada 2010 serta Tunisia pada 2022.

Hal tersebut bisa menjadi momok yang menghantui Prancis, namun memori kelam Piala Dunia 2002 boleh jadi menjadi perkara yang paling melekat di benak mereka. Pada tahun itu, gol tunggal Papa Bouba Diop mengantarkan Senegal menjatuhkan Prancis yang kala itu diperkuat trio penyerang jaminan gol; Thierry Henry, David Trezeguet, dan Djibril Cisse.

 Kala itu Prancis mendominasi jalannya laga lewat penguasaan bola serta penciptaan peluang gol yang jauh lebih superior atas Senegal. Namun, mereka tetap saja menderita kekalahan.

Pihak Senegal sendiri tampaknya bakal menghadapi laga ini dengan berkaca pada catatan kesuksesan tahun 2002. 

Mereka bakal tetap bertarung dalam napas filosofi permainan yang mengandalkan kerapian organisasi lini belakang serta skema transisi menyerang yang kilat sekaligus presisi. 

Fondasi tersebut pula yang bertindak sebagai modal kesuksesan Senegal beberapa tahun belakangan ini, hingga mereka berhasil memenangi Piala Afrika 2025, sebelum predikat itu dianulir menyusul insiden walk out di laga final yang mengakibatkan trofi juara kemudian dialihkan kepada Maroko.

Ambisi Deschamps

Semenjak melakoni debut pada Piala Dunia 2002, Senegal terus berevolusi menjadi tim tangguh yang konsisten memadukan aspek keterampilan, kecepatan, serta kecerdasan taktik. Prancis sudah semestinya waspada saat meladeni tim yang dipimpin oleh kapten Kalidou Koulibaly itu. 

Di samping itu, Prancis juga berhadapan dengan skuad yang akrab dengan iklim kompetisi elite Eropa, serta memahami struktur sekaligus pola permainan Les Bleus, terutama karena delapan pilar skuad mereka berkarier di Liga Prancis.

Walaupun Les Bleus tidak merepresentasikan Liga Prancis, namun klub-klub Prancis pada umumnya mengusung pola bermain yang mirip dengan yang diterapkan oleh timnas Prancis.

 Filosofi sepak bola Prancis sendiri mengawinkan teknik level tinggi dengan kemahiran taktik yang adaptif, keunggulan fisik, serta pemberian ruang lapang kepada tiap pemain guna mengekspresikan kelebihan mereka.

Les Bleus wajib jeli menghadapi lawan yang menitikberatkan duel fisik, pressing tinggi, serta transisi dari bertahan ke menyerang yang kilat, lewat strategi menempatkan tiga atau lima gelandang dalam pakem formasi 4-3-3 dan 4-2-3-1. 

Namun Didier Deschamps yang menakhodai Prancis semenjak 2012 selalu mengantongi strategi bagaimana meredam seluruh rumpun lawan, terlebih tim dengan orientasi permainan terbuka layaknya Senegal.

Deschamps yang membidik partai final Piala Dunia ketiga kalinya secara beruntun dan merupakan orang ketiga di dunia yang sukses menjuarai Piala Dunia baik sebagai pemain maupun pelatih setelah Mario Zagallo dan Franz Beckenbauer, bakal mengoptimalkan kelebihan skuad bertabur bintangnya serta jam terbangnya sendiri dalam mengakali beraneka situasi yang dihadapi pasukannya selagi bertanding.

Prinsip kerja kepelatihannya bersandar pada analisis tajam jalannya laga, penekanan aspek penguasaan bola, serta krusialnya sebuah transisi. 

Melalui formula tersebut, Deschamps berhasil membawa Prancis bertengger di level tertinggi hingga federasi sepak bola Prancis tidak sudi berpaling ke arsitek lain. 

Dua kali bertindak sebagai finalis Piala Dunia yang salah satunya membuahkan trofi juara pada 2018, posisi kedua Euro 2016, serta babak semifinal Euro 2024, bertindak sebagai buktinya.

Jika nanti Les Bleus berhasil membalas kekalahan dari Senegal pada 2002, maka kredit terbesar harus diberikan kepada Deschamps.

 Namun Pape Thiaw yang bertindak sebagai pemain yang tidak diturunkan sewaktu Senegal menggebuk Prancis 1-0 pada Piala Dunia 2002 itu, tidak akan membiarkan Senegal langsung tumbang dalam laga pertamanya di Grup I Piala Dunia 2026 ini.

 Sebaliknya, dirinya bakal berupaya menularkan spirit 2002 kepada para pemain Senegal, guna memberikan luka kepada Kylian Mbappe cs seperti yang dilakukan oleh tim Afrika lainnya, Tunisia, pada laga ketiga fase grup Piala Dunia 2022.

Terkini