Rupiah Dibuka Lesu ke Rp17.928 per Dolar AS Pagi Ini

Rabu, 24 Juni 2026 | 21:08:31 WIB
Dolar AS Menguat, Rupiah Hari Ini Dibuka Melemah ke Rp17.928 [FOTO: NET].

JAKARTA — Posisi mata uang rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) mengawali perdagangan dengan bergerak melemah menuju Rp17.928 pada sesi transaksi hari ini, Rabu (24/6/2026). Di waktu yang bersamaan, greenback terpantau menorehkan penguatan.

Merujuk pada data pasar, nilai rupiah dibuka menyusut sebanyak 69 poin atau berkisar 0,39% ke posisi Rp17.928 per dolar AS. Sementara itu, indeks dolar AS bergerak naik 0,01% menuju area 101,41.

Di sisi lain, sebagian besar mata uang di kawasan Asia turut mengawali hari dengan melemah. Yen Jepang terpantau terdepresiasi sebesar 0,02% diiringi oleh won Korea yang merosot 0,13%. 

Ringgit Malaysia serta baht Thailand juga kompak terpuruk masing-masing sebesar 0,10% dan 0,44% di hadapan dolar AS.

Direktur PT Traze Andalan Futures Ibrahim Assuaibi memproyeksikan bahwa mata uang rupiah bakal fluktuatif pada koridor Rp17.850 sampai Rp17.900 per dolar AS sepanjang hari ini. 

Prediksi itu mengekor tren transaksi sebelumnya di mana rupiah berakhir loyo dengan penurunan 16 poin menuju level Rp17.859.

Melihat aspek eksternal, dirinya memaparkan bahwa indeks dolar AS terlihat menguat pasca-Washington menerbitkan izin umum berdurasi 60 hari yang mengizinkan aktivitas penjualan, pengapalan, serta impor komoditas minyak mentah dari Iran. 

Sedangkan dari lini domestik, para pemodal di dalam negeri saat ini sedang mencermati secara saksama rilis hasil tinjauan dari indeks global MSCI.

“Ada sejumlah catatan terkait transparansi struktur kepemilikan free float serta indikasi aktivitas perdagangan yang dinilai terkoordinasi,” ujar Ibrahim.

Bukan cuma hembusan sentimen MSCI, situasi pasar pun tetap mengawal rangkaian kendala yang melanda beberapa korporasi manufaktur dalam negeri akhir-akhir ini. 

Topik seputar penyetopan operasional produksi, penundaan hak upah karyawan, hingga potensi pemutusan hubungan kerja (PHK) secara massal dipandang sebagai indikasi penurunan daya saing sektor industri domestik.

Terkini