APPBI: Gangguan Listrik Bikin Biaya Operasional Mal Bengkak 200%

Jumat, 10 Juli 2026 | 22:05:03 WIB
APPBI Sebut Gangguan Listrik Picu Biaya Operasional Mal Melonjak [FOTO: NET].

JAKARTA — Asosiasi Pengelola Pusat Belanja Indonesia (APPBI) menyatakan kendala pasokan listrik mengakibatkan pengeluaran operasional pusat perbelanjaan melonjak sampai 200% ketimbang pemakaian aliran listrik dari PLN.

Ketua Umum APPBI Alphonzus Widjaja memaparkan tatkala mendapati kendala listrik, pusat perbelanjaan mutlak harus tetap melangsungkan aktivitas pelayanan sehingga terpaksa bertumpu pada genset dengan sokongan bahan bakar solar nonsubsidi yang nilainya sudah merangkak naik.

“Gangguan listrik berarti kan pusat perbelanjaan tetap harus melayani masyarakat. Harus tetap buka. Artinya apa? Menggunakan genset. Genset itu bahan bakarnya solar. Solarnya naik. Solar nonsubsidi ya. Kan naiknya luar biasa, itu membuat biaya operasional meningkat,” kata Alphonzus saat ditemui di Trans Studio Mall Cibubur, Jawa Barat, Kamis (9/7/2026).

Menurut pandangan Alphonzus, ongkos pemanfaatan genset guna menyuplai daya listrik malahan dapat menyentuh angka dua kali lipat dibanding ongkos listrik dari pihak PLN.

“Ini sekadar contoh saja. Biaya kalau kami menggunakan genset untuk pasokan listrik, itu biayanya bisa sampai 200% dibandingkan dengan biaya PLN. Apalagi kemarin kan ditambah harga solarnya kan naiknya luar biasa,” ujarnya.

Berdasarkan penilaiannya, pemerintah wajib berupaya memelihara keadaan di dalam negeri tetap kondusif, termasuk menjamin tiada kendala pasokan listrik yang dapat memperberat beban dunia usaha.

Ia menganggap keadaan tersebut mesti lekas diredam lantaran bergulir tatkala industri ritel tengah memasuki fase low season. Lonjakan pengeluaran operasional, menurutnya, sukar diimbangi melalui pemacuan penjualan sehingga kian menjepit performa pelaku usaha.

“Jadi saya kira hal-hal ini yang harus dikurangi, diredam. Karena kalau nggak ini akan menekan kondisi. Kan tadi situasinya kami lagi low season,” imbuhnya.

Lebih mendalam, Alphonzus menguraikan, pada keadaan normal kenaikan pengeluaran operasional masih dapat ditanggulangi dengan memacu omzet penjualan. Akan tetapi, siasat itu pelik diaplikasikan sewaktu daya beli konsumen masih lesu.

“Biaya operasional naik, sebetulnya kami bisa atasi dengan mendorong penjualan kan? Tetapi sekarang low season. Nggak bisa didorong penjualannya. Jadi akhirnya biayanya naik. Sedangkan biaya naik di tengah-tengah kondisi kami berada pada saat low season,” pungkasnya.

Terkini