Biaya Penyimpanan Baterai Turun Rekor 2025, Energi Terbarukan Kini Lebih Kompetitif
- Jumat, 20 Februari 2026
JAKARTA - Biaya penyimpanan energi baterai mengalami penurunan signifikan pada 2025, mencatat rekor terendah sepanjang sejarah. Tren ini membuka peluang lebih besar bagi proyek energi terbarukan, terutama pembangkit surya dan angin.
BloombergNEF (BNEF) mencatat levelized cost of electricity (LCOE) untuk proyek baterai berdurasi empat jam secara standalone merosot 27% menjadi US$78 per megawatt-jam (MWh). Harga ini diproyeksikan menurun lagi menjadi US$58 per MWh pada 2035.
Amar Vasdev, Senior Energy Economics Associate BNEF, menekankan bahwa penurunan biaya baterai akan memperkuat pendapatan proyek surya. Selain itu, hal ini mendukung ekspansi energi terbarukan lebih luas dan percepatan sistem penyeimbang berbasis baterai dibandingkan pembangkit fosil puncak.
Baca JugaPT Sinar Terang Mandiri Tbk Catat Pertumbuhan Pendapatan dan Aset Sepanjang Tahun 2025
Peran Baterai dalam Sistem Energi Terbarukan
Teknologi penyimpanan energi memungkinkan listrik berlebih pada siang hari disimpan dan dilepaskan saat permintaan meningkat pada malam hari. Fungsi ini menjadi penting seiring lonjakan kapasitas surya dan angin yang mulai membebani jaringan listrik di berbagai negara.
Adopsi baterai juga meningkatkan ketahanan infrastruktur kelistrikan saat lonjakan permintaan listrik terjadi. Misalnya, membantu meredam dampak badai musim dingin ekstrem di Amerika Serikat bulan lalu.
Bagi negara berkembang, penyimpanan baterai membuat energi bersih lebih murah dan andal. Hal ini berpotensi meningkatkan daya saing energi bersih dibandingkan bahan bakar fosil sekaligus mendorong dekarbonisasi.
Perbandingan Tren Biaya Energi Lain
Sementara biaya baterai turun drastis, teknologi energi lain mengalami kenaikan harga pada 2025. Kenaikan ini terjadi akibat kendala rantai pasok, faktor produksi, dan tekanan pada pembangkit angin, proyek surya fixed-axis, serta turbin gas siklus gabungan.
Penurunan harga baterai disebabkan efisiensi desain, kompetisi lebih ketat, dan penurunan harga sel baterai. Hal ini melampaui proyeksi awal BNEF yang memperkirakan penurunan hanya 11% pada 2025.
Proyeksi Pertumbuhan Kapasitas Penyimpanan Energi
Dalam laporan terpisah, BNEF memproyeksikan kapasitas penyimpanan energi stasioner meningkat sepertiga pada 2026 menjadi 122,5 gigawatt (GW). Pertumbuhan ini terutama ditopang oleh Eropa, Timur Tengah, Afrika, dan Amerika Latin.
Ekspansi proyek skala utilitas, permintaan residensial, dan integrasi baterai dengan pembangkit surya menjadi faktor utama pertumbuhan. Walaupun biaya pembiayaan tinggi, tekanan proteksionis, dan gangguan rantai pasok masih ada, inovasi dan kompetisi diperkirakan menekan biaya lebih jauh.
Hingga 2035, tambahan penurunan LCOE diperkirakan mencapai 30% untuk surya, 25% untuk penyimpanan baterai, 23% untuk angin darat, dan 20% untuk angin lepas pantai. Penurunan ini menjadikan energi terbarukan lebih kompetitif dan menarik bagi investasi global.
Dampak Ekonomi dan Lingkungan dari Penyimpanan Baterai
Penyimpanan baterai tidak hanya meningkatkan efisiensi proyek energi terbarukan, tetapi juga menurunkan ketergantungan pada energi fosil. Hal ini berdampak positif terhadap emisi karbon dan upaya mitigasi perubahan iklim.
Dengan biaya lebih murah dan sistem yang lebih andal, negara-negara bisa mempercepat peralihan ke energi bersih. Baterai menjadi kunci transisi energi yang berkelanjutan, mendukung kemandirian energi, dan memfasilitasi integrasi energi terbarukan secara luas.
Inovasi dalam teknologi baterai juga mendorong pengembangan pasar energi baru. Negara-negara yang mengadopsi baterai secara masif berpotensi meningkatkan daya saing ekonomi melalui energi bersih.
Selain itu, kapasitas baterai yang meningkat membantu stabilisasi jaringan listrik global. Sistem ini mampu menyerap fluktuasi produksi energi terbarukan, mengurangi risiko pemadaman, dan meningkatkan keandalan pasokan listrik.
Pertumbuhan pesat kapasitas baterai di berbagai wilayah menunjukkan bahwa tren energi terbarukan semakin menarik bagi investor. Hal ini memperkuat posisi energi bersih dalam strategi energi nasional dan global.
Dengan LCOE baterai yang terus menurun, proyek surya dan angin kini bisa menghasilkan listrik dengan harga lebih kompetitif. Kondisi ini membuka peluang kolaborasi antara sektor publik dan swasta untuk mempercepat transisi energi.
Penyimpanan energi baterai juga meningkatkan fleksibilitas sistem energi. Dengan kemampuan menahan dan melepas energi sesuai permintaan, integrasi energi terbarukan menjadi lebih lancar dan stabil.
Tren global menunjukkan bahwa kombinasi baterai dan energi terbarukan adalah solusi strategis menghadapi lonjakan permintaan listrik. Penurunan biaya dan peningkatan efisiensi mempercepat tercapainya tujuan dekarbonisasi di berbagai negara.
Nathasya Zallianty
variabisnis.com adalah media online yang menyajikan berita sektor energi dan umum secara lengkap, akurat, dan tepercaya.
Rekomendasi
7 Menu Lebaran Tanpa Santan yang Tetap Gurih Nikmat dan Cocok Untuk Keluarga
- Selasa, 17 Maret 2026
11 Ide Lauk Kering Praktis untuk Bekal Perjalanan Mudik Jauh Agar Tetap Nikmat
- Selasa, 17 Maret 2026
8 Inovasi Nastar Kekinian Unik dan Lezat yang Wajib Dicoba Saat Hari Raya
- Selasa, 17 Maret 2026
Tips Menikmati Gohu Ikan Segar Khas Ternate di Meja Berbuka Puasa Praktis
- Selasa, 17 Maret 2026
Berita Lainnya
Deretan Rumah Subsidi di Kabupaten Buleleng Bali yang Bisa Dibeli Hanya Rp 185 Juta
- Senin, 16 Maret 2026
Update Lengkap Harga BBM Pertamina Terbaru Seluruh Indonesia Per 16 Maret 2026
- Senin, 16 Maret 2026













