Rabu, 25 Maret 2026

Strategi Astra International Hadapi Tantangan Harga Batu Bara dan Pasar Mobil 2025

Strategi Astra International Hadapi Tantangan Harga Batu Bara dan Pasar Mobil 2025
Strategi Astra International Hadapi Tantangan Harga Batu Bara dan Pasar Mobil 2025

JAKARTA - PT Astra International Tbk. (ASII) mencatat penurunan pendapatan dan laba bersih sepanjang 2025. Pendapatan bersih perusahaan mencapai Rp323,39 triliun, turun 1,54% dibandingkan Rp328,48 triliun pada 2024.

Penurunan ini dipengaruhi melemahnya harga batu bara dan permintaan mobil baru. Namun, sektor pertambangan emas, jasa keuangan, dan sepeda motor mencatat kinerja positif.

Beban Operasional dan Laba Bruto

Baca Juga

Tour & MICE KAI Wisata Dukung Angkutan Rombongan Mudik Lebaran 2026

Beban pokok pendapatan ASII tercatat Rp251,94 triliun pada 2025, lebih rendah dibandingkan Rp255,42 triliun pada tahun sebelumnya. Laba bruto perusahaan turun 2,21% menjadi Rp71,44 triliun dari Rp73,06 triliun pada 2024.

Selain itu, ASII mengeluarkan beban penjualan Rp11,74 triliun, beban umum dan administrasi Rp21,03 triliun, beban keuangan Rp3,73 triliun, dan pajak penghasilan Rp9,08 triliun. Penurunan laba bersih tercatat 3,34% YoY menjadi Rp32,76 triliun dari Rp33,9 triliun.

Kontribusi Divisi Bisnis

Djony Bunarto Tjondro, Presiden Direktur Astra International, menyatakan kontraksi kinerja dipicu oleh harga batu bara yang lebih rendah dan pasar mobil baru yang lemah. “Namun, kinerja grup tetap resilien didukung kontribusi positif dari divisi lainnya,” ujarnya pada Jumat, 27 Februari 2026.

Laba bersih 2025 terbagi dari divisi otomotif & mobilitas Rp11,36 triliun, jasa keuangan Rp8,95 triliun, alat berat, pertambangan, konstruksi dan energi Rp9,09 triliun, infrastruktur Rp1,25 triliun, agribisnis Rp1,17 triliun, properti Rp719 miliar, dan teknologi informasi Rp208 miliar.

Penurunan Divisi Alat Berat dan Pertambangan

Kontribusi divisi alat berat, pertambangan, konstruksi, dan energi merosot 24% YoY dari Rp11,99 triliun pada 2024. Penurunan ini menjadi faktor utama melemahnya laba keseluruhan perseroan.

Meskipun demikian, beberapa divisi lain mampu menahan tekanan sehingga kinerja grup tetap stabil. Kinerja sektor pertambangan emas dan jasa keuangan menjadi penopang utama bagi profitabilitas perusahaan.

Proyeksi dan Strategi Masa Depan

Djony menyebut, meski operasional beberapa bisnis masih menantang, sentimen konsumen diprediksi membaik ke depan. “Astra akan tetap fokus pada keunggulan operasional dan alokasi modal yang disiplin,” ujarnya.

Perusahaan memanfaatkan posisi neraca yang kuat untuk mendukung penciptaan nilai berkelanjutan bagi pemangku kepentingan. Strategi ini diharapkan menjaga kinerja tetap stabil dan memperkuat daya saing Astra di masa mendatang.

Nathasya Zallianty

Nathasya Zallianty

variabisnis.com adalah media online yang menyajikan berita sektor energi dan umum secara lengkap, akurat, dan tepercaya.

Rekomendasi

Berita Lainnya

Buka Delapan Posko Mudik di Jalur Padat Jawa-Sumatra, BSI Hadirkan Layanan Kesehatan hingga Transaksi Digital bagi Pemudik

Buka Delapan Posko Mudik di Jalur Padat Jawa-Sumatra, BSI Hadirkan Layanan Kesehatan hingga Transaksi Digital bagi Pemudik

Program Mudik Gratis MyPertamina Untuk Mitra Ojol Bawa Kenyamanan Pulang Kampung Saat Lebaran

Program Mudik Gratis MyPertamina Untuk Mitra Ojol Bawa Kenyamanan Pulang Kampung Saat Lebaran

AirAsia Indonesia Catat Pendapatan Fantastis dan Strategi Perluas Jaringan Penerbangan 2026

AirAsia Indonesia Catat Pendapatan Fantastis dan Strategi Perluas Jaringan Penerbangan 2026

PT Pelabuhan Tanjung Priok Siapkan Strategi Optimal Distribusi Logistik Selama Lebaran 2026

PT Pelabuhan Tanjung Priok Siapkan Strategi Optimal Distribusi Logistik Selama Lebaran 2026

ASSA Maksimalkan Momentum Ramadan dan Lebaran 2026 Lewat Ekspansi Bisnis Logistik Terintegrasi

ASSA Maksimalkan Momentum Ramadan dan Lebaran 2026 Lewat Ekspansi Bisnis Logistik Terintegrasi