Rabu, 25 Maret 2026

Dari Surya hingga Panas Bumi: Menggali Potensi Energi Bersih 3.600 GW di Indonesia

Dari Surya hingga Panas Bumi: Menggali Potensi Energi Bersih 3.600 GW di Indonesia
Dari Surya hingga Panas Bumi: Menggali Potensi Energi Bersih 3.600 GW di Indonesia

JAKARTA - Perubahan iklim kini menjadi ancaman nyata bagi keberlanjutan kehidupan di Bumi. Laporan Panel Antarpemerintah tentang Perubahan Iklim (IPCC) mengungkapkan bahwa sektor energi berkontribusi lebih dari 70% terhadap emisi gas rumah kaca global, dengan pembakaran bahan bakar fosil sebagai penyumbang utama. Fenomena ini mendorong urgensi peralihan menuju sumber energi bersih dan terbarukan.

Kontribusi Sektor Energi terhadap Emisi Global

Menurut laporan IPCC, sektor energi menyumbang sekitar 70% dari total emisi gas rumah kaca global. Emisi ini sebagian besar berasal dari pembakaran bahan bakar fosil seperti batu bara, minyak, dan gas alam untuk keperluan pembangkit listrik, industri, dan transportasi. Secara rinci, batu bara menyumbang sekitar 44%, minyak 34%, dan gas alam 22% dari total emisi sektor energi pada tahun 2019 .

Baca Juga

Dorongan DMO Gas Bumi Dinilai Krusial Jaga Daya Saing Industri Keramik Nasional

Dampak Perubahan Iklim yang Semakin Nyata

Perubahan iklim memicu berbagai bencana lingkungan yang merugikan. Peningkatan suhu global menyebabkan mencairnya es di kutub, naiknya permukaan air laut, serta cuaca ekstrem seperti banjir dan kekeringan. Fenomena El Niño yang intens juga memperburuk kondisi ini, meningkatkan frekuensi dan intensitas bencana alam di berbagai belahan dunia .

Peralihan Menuju Energi Bersih: Solusi yang Dapat Dicapai

IPCC menekankan bahwa untuk membatasi pemanasan global hingga 1,5°C, penggunaan batu bara, minyak, dan gas harus dikurangi secara signifikan pada tahun 2050. Sebagai alternatif, proporsi energi bersih dalam bauran energi global perlu ditingkatkan, dengan target 95% dari total pembangkit listrik pada tahun 2050 .

Beruntung, teknologi energi bersih semakin terjangkau. Biaya pembangkit listrik tenaga surya (PLTS) dan angin turun masing-masing sebesar 56% dan 45% antara tahun 2015 hingga 2020. Selain itu, harga baterai turun hingga 64%, menjadikan penyimpanan energi lebih efisien dan ekonomis .

Tantangan dalam Sektor Transportasi dan Industri

Sektor transportasi menyumbang sekitar 15% dari total emisi gas rumah kaca global, dengan kendaraan bermotor sebagai kontributor utama. Meskipun ada upaya untuk beralih ke kendaraan listrik, pertumbuhan kendaraan berbahan bakar fosil masih tinggi, terutama di negara berkembang. Selain itu, sektor industri juga berkontribusi signifikan terhadap emisi, terutama dari proses produksi yang bergantung pada energi fosil .

Risiko Investasi dalam Infrastruktur Energi Fosil

IPCC memperingatkan bahwa investasi berkelanjutan dalam infrastruktur energi fosil dapat mengarah pada aset yang terdampar (stranded assets). Hal ini terjadi karena nilai investasi tersebut akan menurun seiring dengan peralihan global menuju energi bersih. Diperkirakan, antara tahun 2015 hingga 2050, sektor energi dapat mengalami kerugian hingga $4 triliun akibat aset yang terdampar .

Langkah Indonesia dalam Transisi Energi

Indonesia, sebagai negara berkembang dengan populasi besar, menghadapi tantangan besar dalam transisi energi. Namun, pemerintah telah menetapkan target ambisius untuk mencapai 23% bauran energi terbarukan dalam total konsumsi energi primer pada tahun 2025. Selain itu, Indonesia berkomitmen untuk menurunkan emisi gas rumah kaca sebesar 29% dengan upaya sendiri dan 41% dengan dukungan internasional pada tahun 2030.

Beberapa proyek energi terbarukan, seperti PLTS dan pembangkit listrik tenaga air, telah mulai dikembangkan. Namun, tantangan dalam hal pendanaan, infrastruktur, dan kebijakan masih perlu diatasi untuk memastikan transisi energi yang adil dan berkelanjutan.

Peran Masyarakat dalam Transisi Energi

Masyarakat juga memiliki peran penting dalam transisi energi. Dengan mengurangi konsumsi energi, memilih produk yang ramah lingkungan, dan mendukung kebijakan pemerintah yang pro-lingkungan, masyarakat dapat membantu mempercepat peralihan ke energi bersih.

Perubahan iklim adalah tantangan global yang memerlukan tindakan segera. Sektor energi, sebagai penyumbang utama emisi gas rumah kaca, harus menjadi fokus utama dalam upaya mitigasi perubahan iklim. Dengan beralih ke energi bersih, mengurangi konsumsi energi, dan mendukung kebijakan yang ramah lingkungan, kita dapat bersama-sama menjaga keberlanjutan bumi untuk generasi mendatang.

Wildan Dwi Aldi Saputra

Wildan Dwi Aldi Saputra

variabisnis.com adalah media online yang menyajikan berita sektor energi dan umum secara lengkap, akurat, dan tepercaya.

Rekomendasi

Berita Lainnya

Beban Puncak Listrik Lebaran 2026 Capai 34,7 GW Sistem Tetap Aman

Beban Puncak Listrik Lebaran 2026 Capai 34,7 GW Sistem Tetap Aman

Strategi PLN Jaga Pasokan Listrik Nasional Saat Salat Idulfitri Tetap Andal

Strategi PLN Jaga Pasokan Listrik Nasional Saat Salat Idulfitri Tetap Andal

Konsumsi Batu Bara Vale Naik 13 Persen Seiring Stabilnya Produksi Nikel

Konsumsi Batu Bara Vale Naik 13 Persen Seiring Stabilnya Produksi Nikel

Forum TAKJIL MIND ID Bedah Data Kebijakan Strategis Pertambangan Nasional Indonesia

Forum TAKJIL MIND ID Bedah Data Kebijakan Strategis Pertambangan Nasional Indonesia

BREN Targetkan Kapasitas Panas Bumi Tembus 1 GW Perkuat Energi Terbarukan

BREN Targetkan Kapasitas Panas Bumi Tembus 1 GW Perkuat Energi Terbarukan