JAKARTA - PT Vale Indonesia Tbk (INCO) menyikapi pergerakan harga nikel global yang melandai dengan sejumlah langkah strategis. Menurut Head of Corporate Finance & Investor Relations Vale Indonesia, Andaru Brahmono Adi, efisiensi biaya operasional telah dilakukan sejak akhir 2024 dan terus berlanjut hingga saat ini.
Langkah ini menjadi prioritas internal perusahaan untuk menjaga kinerja tetap optimal di tengah tekanan harga pasar. Upaya efisiensi menjadi pijakan utama dalam mempertahankan keberlanjutan operasi.
Diversifikasi Produk Tambang Tambah Pendapatan
Selama puluhan tahun, Vale Indonesia dikenal sebagai produsen nikel matte untuk pasar ekspor, khususnya Jepang. Namun kini, perusahaan memperluas portofolio produknya dengan mulai menjual nikel ore saprolit secara domestik.
Baca JugaHarga BBM Naik 28 Maret 2026, Daftar Lengkap Terbaru Seluruh Indonesia Hari Ini
“Sekarang kami sudah bisa jual nikel ore saprolit secara domestik, sehingga itu bisa menambah pendapatan,” jelas Andaru. Diversifikasi ini diharapkan menjadi penopang tambahan pendapatan perusahaan di tengah harga yang belum pulih sepenuhnya.
Improvisasi Teknologi Tingkatkan Efisiensi Investasi
INCO juga mengupayakan penerapan teknologi baru dalam proses pertambangan dan pengolahan hasil tambang. Improvisasi tersebut ditargetkan mampu meningkatkan efisiensi dalam penggunaan investasi.
Teknologi diharapkan menjadi faktor pembeda dalam menjaga daya saing perusahaan, terutama saat harga komoditas berada pada tekanan global.
Revisi RKAB Jadi Kunci Akselerasi Produksi
Proses revisi terhadap Rancangan Kerja dan Anggaran Biaya (RKAB) 2025 menjadi salah satu fokus Vale Indonesia. Perusahaan telah mengajukan revisi sejak April dan menargetkan perubahan produksi di tambang Blok Bahodopi.
“Kami sudah lolos evaluasi dan dapat tanda tangan dari beberapa direktur di Direktorat Minerba ESDM. Kami masih tunggu untuk final approve. Kami optimis bisa dapat (revisi RKAB),” ujar Andaru. Jika disetujui, produksi nikel di tambang Bahodopi berpotensi meningkat tahun ini.
Ekspektasi Pasar Dukung Pemulihan Kinerja INCO
Meski harga nikel global berada di kisaran rendah, analis dari Korea Investment & Sekuritas Indonesia (KISI), Muhammad Wafi, menyebutkan bahwa peluang koreksi lebih dalam tergolong terbatas.
Ia memproyeksikan harga nikel rata-rata tahun ini bisa mencapai antara US$ 15.500 hingga US$ 16.000 per ton. Dengan proyeksi tersebut, INCO dinilai berpeluang mengoptimalkan kinerja operasionalnya, terutama pada semester II-2025. Saham INCO pun direkomendasikan untuk beli, dengan target harga Rp 4.300 per saham.
Zahra Kurniawati
variabisnis.com adalah media online yang menyajikan berita sektor energi dan umum secara lengkap, akurat, dan tepercaya.
Rekomendasi
Prakiraan Cuaca Jakarta Sabtu Hujan Ringan Hingga Sedang BMKG Imbau Waspada
- Sabtu, 28 Maret 2026
BMKG Peringatkan Banjir Rob Pesisir Jawa Hingga Pertengahan April 2026 Waspada
- Sabtu, 28 Maret 2026
Jadwal Kapal Pelni Rute Dobo ke Merauke April 2026 Lengkap Harga Tiket
- Sabtu, 28 Maret 2026
Berita Lainnya
Harga Pangan Depok Pasca Lebaran Stabil, Cabai Rawit Masih Rp120 Ribu Kilogram
- Sabtu, 28 Maret 2026
Pendapatan ABM Investama Turun 13,5 Persen Akibat Tekanan Harga Batu Bara Global
- Sabtu, 28 Maret 2026
Strategi Pemerintah Antisipasi Krisis Pangan Nasional Saat Ancaman El Nino Menguat
- Jumat, 27 Maret 2026













