Selasa, 14 Juli 2026

Pasar Belum Jelas, Hilirisasi Batubara Tetap Dilanjutkan

Pasar Belum Jelas, Hilirisasi Batubara Tetap Dilanjutkan
Pasar Belum Jelas, Hilirisasi Batubara Tetap Dilanjutkan

JAKARTA - Upaya pemerintah mendorong hilirisasi batubara menjadi Dimethyl Ether (DME) terus bergulir. Enam proyek baru secara resmi telah diajukan oleh Ketua Satuan Tugas Percepatan Hilirisasi dan Ketahanan Energi Nasional, yang juga menjabat sebagai Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM), Bahlil Lahadalia. Proyek-proyek ini menjadi bagian dari strategi besar pengurangan impor Liquefied Petroleum Gas (LPG) dan meningkatkan kemandirian energi nasional.

Pengajuan ini merupakan bagian dari total 18 proyek hilirisasi lintas sektor yang telah disampaikan ke Danantara pada Selasa, 22 Juli 2025. Enam proyek di antaranya fokus pada hilirisasi batubara menjadi DME.

“Agenda hilirisasi sesuai dengan apa yang diamanatkan dalam keputusan Presiden, kami ada sekitar 18 proyek yang sudah siap pra FS. Dengan total investasi sebesar US$ 38,63 miliar, atau setara dengan Rp 618,3 triliun,” ujar Bahlil saat konferensi pers di kantor Kementerian ESDM, Jakarta.

Baca Juga

Bulog Kejar Kesepakatan Ekspor Beras ke Malaysia dan Singapura

Investasi Besar, Lokasi Strategis

Keenam proyek DME tersebut akan dibangun di sejumlah lokasi strategis di Indonesia, yaitu:

Bulungan, Kalimantan Utara

Kutai Timur, Kalimantan Timur

Kota Baru, Kalimantan Selatan

Muara Enim, Sumatera Selatan

Pali, Sumatera Selatan

Banyuasin, Sumatera Selatan

Jika seluruh proyek ini berhasil direalisasikan, total investasi yang dibutuhkan mencapai Rp 164 triliun.

Respons Dunia Usaha: Tantangan Keekonomian dan Pasar

Langkah ini mendapat dukungan dari pelaku industri, meskipun masih dibayangi sejumlah tantangan. Direktur Eksekutif Indonesia Mining Association (IMA), Hendra Sinadia, mengapresiasi niat baik pemerintah dan Danantara. Menurutnya, jika berhasil, proyek DME bisa memberikan nilai tambah yang besar bagi sektor pertambangan batubara.

“Saya kira niatnya positif ya bahwa Danantara dan dukungan dari pemerintah, harapannya proyek ini (DME) bisa berjalan,” kata Hendra di Jakarta, Rabu (23/07).

Meski demikian, Hendra menyoroti sejumlah hambatan yang perlu diatasi, terutama terkait keekonomian proyek. Teknologi gasifikasi yang dibutuhkan dalam proses konversi batubara ke DME masih tergolong mahal, sehingga berpotensi membuat harga produk akhir lebih tinggi dibandingkan LPG.

“Jadi mungkin kendala faktor kelayakan ekonomi bisa diatasi dengan Danantara ikut terlibat,” tambahnya.

Selain itu, Hendra mengingatkan bahwa proyek DME bukanlah investasi jangka pendek. Menurutnya, butuh waktu sekitar tiga hingga empat tahun untuk melihat hasil nyata dari hilirisasi ini, yang artinya manfaatnya baru bisa dirasakan sekitar tahun 2030.

“Proyeknya mungkin tiga sampai empat tahun lagi, kira-kira di 2030. Karena pengelolaan ini gasifikasi kan Itu lebih ke kalori yang rendah kan supaya bisa di-utilize (manfaatkan) lebih,” jelasnya.

Masih Mencari Pasar DME yang Pasti

Tantangan lain yang tak kalah penting menurut Hendra adalah kepastian pasar. Ia mengungkapkan bahwa saat ini pelaku industri masih sulit memetakan siapa yang akan menyerap DME dalam jumlah besar.

“Kita menghasilkan DME, kita gak tau DME harganya bagaimana ya, dan itu kan proyeknya jangka panjang, jadi kita juga sama sekali bisa dikatakan blank, gak tau marketnya,” ujarnya.

Maka dari itu, ia menekankan pentingnya peran pemerintah dan Danantara dalam menggarap proyek ini dengan serius. Ia berharap perencanaan dan pemetaan pasar dilakukan secara matang agar proyek DME dapat berjalan efektif dan memberi dampak nyata ke depan.

“Poin-poin itu kan harusnya sudah well taken by government, udah tau ya dan dipetakan. Apalagi Danantara kan banyak expert di situ,” pungkas Hendra.

Nathasya Zallianty

Nathasya Zallianty

variabisnis.com adalah media online yang menyajikan berita sektor energi dan umum secara lengkap, akurat, dan tepercaya.

Rekomendasi

Berita Lainnya

emenekraf: JKN Jaga Produktivitas 27,4 Juta Pelaku Ekraf

emenekraf: JKN Jaga Produktivitas 27,4 Juta Pelaku Ekraf

Mentrans Targetkan Jepang Jadi Pasar Ekspor Mangga Jawa Timur

Mentrans Targetkan Jepang Jadi Pasar Ekspor Mangga Jawa Timur

Agrinas Palma Bangun Ekosistem Perkebunan Berbasis Koperasi

Agrinas Palma Bangun Ekosistem Perkebunan Berbasis Koperasi

Update Harga Pangan Strategis Nasional: Cabai Rawit Rp57.250/kg

Update Harga Pangan Strategis Nasional: Cabai Rawit Rp57.250/kg

Pameran D-8 Halal Expo Indonesia Catat Transaksi Rp242,6 Miliar

Pameran D-8 Halal Expo Indonesia Catat Transaksi Rp242,6 Miliar