JAKARTA - Ketidakstabilan harga karet kembali dirasakan petani di Kabupaten Bengkulu Utara. Harga jual karet kering yang sempat bertahan di angka Rp12.000 per kilogram, kini harus turun ke level Rp10.000/kg. Sedangkan karet basah hanya dihargai sekitar Rp9.000/kg.
Penurunan ini mulai terjadi secara bertahap sejak Mei 2025, dan hingga kini belum menunjukkan tanda-tanda membaik. Kondisi tersebut disampaikan oleh Jumadi, seorang petani sekaligus pengepul karet asal Desa Tebing Kaning, Kecamatan Arma Jaya. Ia mengungkapkan bahwa tren penurunan harga ini cukup memukul semangat petani untuk melakukan aktivitas panen secara maksimal.
“Harga karet sekarang turun, dari Rp12.000 menjadi Rp10.000 per kilogram untuk karet kering. Ini membuat semangat petani juga menurun,” ujar Jumadi.
Baca JugaTarif Listrik April Juni 2026 Tetap, Rincian Harga Token PLN Terbaru Lengkap
Penurunan Daya Tampung dan Produktivitas
Tak hanya berdampak pada motivasi petani, harga yang rendah juga turut memengaruhi jumlah karet yang ditampung oleh para pengepul. Dalam kondisi normal ketika harga masih di atas Rp11.500/kg, Jumadi mengaku mampu menampung 50–60 ton karet dalam sepekan. Namun kini, daya tampungnya menyusut hingga hanya sekitar 40 ton per minggu.
“Kondisi ini jelas berpengaruh. Dulu bisa sampai 60 ton per minggu, sekarang hanya sekitar 40 ton. Ini karena petani jadi enggan memanen saat harga sedang rendah,” tambahnya.
Ketika pendapatan dari panen dianggap tidak sepadan dengan tenaga dan biaya yang dikeluarkan, banyak petani memilih menunda atau mengurangi kegiatan panennya. Situasi ini memperparah kondisi ekonomi mereka yang sebagian besar bergantung pada komoditas karet sebagai mata pencaharian utama.
Harapan Kenaikan Harga dari Pihak Pabrik
Di tengah kondisi ini, para petani berharap adanya intervensi dari pihak pabrik dalam hal penyesuaian harga beli. Mereka menilai bahwa harga ideal untuk karet kering agar tetap memberikan keuntungan wajar bagi petani seharusnya berkisar antara Rp13.000 hingga Rp15.000 per kilogram.
Kenaikan harga di tingkat pabrik diyakini bisa menjadi solusi jangka pendek untuk mengembalikan semangat produksi para petani. Jika tidak, maka dikhawatirkan kondisi ini akan menurunkan produktivitas dan jumlah suplai karet dalam jangka panjang.
Situasi harga komoditas karet yang fluktuatif memang sudah menjadi masalah klasik, terutama di tingkat petani. Oleh karena itu, dorongan untuk menciptakan sistem yang lebih stabil dan berkeadilan kian mendesak agar petani tidak terus merugi.
Nathasya Zallianty
variabisnis.com adalah media online yang menyajikan berita sektor energi dan umum secara lengkap, akurat, dan tepercaya.
Rekomendasi
IHSG Melemah Sepekan Investor Waspadai Proyeksi Pergerakan Pasar Awal Pekan Mendatang
- Minggu, 29 Maret 2026
Investor Asing Jual Saham Bank Besar IHSG Melemah Pada Sesi Pertama Perdagangan
- Minggu, 29 Maret 2026
Rupiah Diproyeksi Melemah Pekan Depan Berpotensi Sentuh Level 17100 Per Dolar
- Minggu, 29 Maret 2026
Yield SBN Tenor Sepuluh Tahun Naik Rupiah Bertahan Dari Tekanan Global
- Minggu, 29 Maret 2026
Pelni Angkut 153 Ribu Penumpang Arus Balik Lebaran Hingga H Plus Tujuh
- Minggu, 29 Maret 2026
Berita Lainnya
Harga Pangan Akhir Pekan Turun Naik, Cabai Melemah Minyak Goreng Menguat Kembali
- Minggu, 29 Maret 2026
Harga Pangan Nasional Berubah Bawang Dan Beras Naik Cabai Turun Minggu Ini
- Minggu, 29 Maret 2026
Update Tarif Listrik 2026 Per kWh Lengkap Rumah Tangga Bisnis Industri Nasional
- Minggu, 29 Maret 2026
Harga BBM Naik 28 Maret 2026, Daftar Lengkap Terbaru Seluruh Indonesia Hari Ini
- Sabtu, 28 Maret 2026




.jpg)
.jpg)




.jpg)

