JAKARTA - Pasar energi internasional kembali menunjukkan ketidakpastian tinggi sepanjang pekan lalu. Harga minyak mentah global bergerak fluktuatif, mulai dari pelemahan di awal pekan, sempat menguat di pertengahan, lalu terkoreksi, hingga akhirnya ditutup dengan kenaikan tipis pada akhir pekan. Kondisi ini memperlihatkan betapa rapuhnya keseimbangan antara permintaan, pasokan, dan dinamika geopolitik yang terus bergulir.
Selama periode 8–13 September 2025, harga minyak mentah Brent dan West Texas Intermediate (WTI) dipengaruhi sejumlah faktor mulai dari data ekonomi Amerika Serikat yang lebih lemah dari perkiraan, kebijakan produksi OPEC+, potensi gangguan pasokan dari Rusia, hingga tensi geopolitik yang memanas akibat konflik di kawasan Eropa Timur.
Pergerakan Harga Harian Sepanjang Pekan
Baca JugaTarif Listrik PLN Stabil April–Juni 2026 Meski Krisis Energi Global Melanda Dunia
Pada Senin, 8 September 2025, harga minyak justru dibuka dengan pelemahan. Brent turun 0,2% menjadi US$ 66,10 per barel, sementara WTI terkoreksi 0,4% ke US$ 62,20 per barel. Tekanan ini datang dari kekhawatiran permintaan global, setelah rilis data ekonomi Amerika Serikat menunjukkan hasil di bawah ekspektasi.
Keesokan harinya, Selasa, 9 September 2025, pasar berbalik arah. Pembatasan produksi OPEC+ serta risiko pasokan dari Rusia kembali menguatkan sentimen positif. Brent naik tipis 0,2% menjadi US$ 66,24 per barel, sedangkan WTI menguat 0,5% ke US$ 62,50 per barel.
Kenaikan berlanjut pada Rabu, 10 September 2025. Brent melonjak 1,1% menjadi US$ 66,95 per barel, sementara WTI naik 0,9% ke US$ 63,05 per barel. Optimisme pemulihan permintaan energi global menjadi pendorong utama penguatan harga pada pertengahan pekan.
Namun, tren positif ini tidak berlangsung lama. Kamis, 11 September 2025, harga kembali melemah. Brent terkoreksi 0,3% ke US$ 66,74 per barel, sementara WTI turun 0,6% ke US$ 62,88 per barel. Kekhawatiran terkait permintaan energi di Amerika Serikat serta potensi kelebihan pasokan global kembali membayangi pasar.
Pelemahan semakin terasa pada Jumat, 12 September 2025. Brent merosot 1,2% menjadi US$ 66,49 per barel, sedangkan WTI turun 0,8% ke US$ 62,40 per barel. Kondisi ini membuat harga minyak mencatat level terendah dalam sepekan terakhir.
Memasuki akhir pekan, Sabtu, 13 September 2025, harga kembali bangkit meski dengan kenaikan terbatas. Brent menguat 0,93% ke US$ 66,99 per barel, sedangkan WTI naik 0,7% ke US$ 62,85 per barel. Pemicu utamanya adalah meningkatnya ketegangan geopolitik setelah Ukraina melancarkan serangan ke pelabuhan penting di Rusia bagian barat.
Nathasya Zallianty
variabisnis.com adalah media online yang menyajikan berita sektor energi dan umum secara lengkap, akurat, dan tepercaya.
Rekomendasi
Arus Balik Lebaran Pelni H7 Angkut 153 Ribu Penumpang Tiket Terjual Tinggi
- Senin, 30 Maret 2026
Bank Indonesia Perkuat Instrumen SVBI Dan SUVBI Demi Stabilitas Rupiah Global
- Senin, 30 Maret 2026
Kurs Dolar Dekati Rp17000 Rupiah Melemah Dipicu Sentimen Global Dan Domestik
- Senin, 30 Maret 2026
Berita Lainnya
Update Lengkap Harga BBM Pertamina Hari Ini Senin 30 Maret 2026 di Seluruh Indonesia
- Senin, 30 Maret 2026
Tarif Listrik PLN Triwulan II Tahun 2026 Tetap, Simak Cara Hitung Token Efisien
- Senin, 30 Maret 2026
Inilah 5 Pilihan Rumah Subsidi Murah di Majalengka yang Cocok Untuk Keluarga Muda
- Senin, 30 Maret 2026












