JAKARTA - Indonesia dikenal sebagai negara dengan cadangan nikel terbesar di dunia. Status ini membawa peluang besar sekaligus tantangan dalam pengelolaan sumber daya alam tersebut.
Sebagai produsen nikel terbesar, Indonesia memiliki posisi strategis dalam industri pertambangan global. Namun, kegiatan pertambangan harus dijalankan dengan memperhatikan dampak lingkungan agar keberlanjutan sumber daya tetap terjaga.
Direktur Eksekutif ReforMiner Institute, Komaidi Notonegoro, menilai prospek industri nikel di Indonesia cukup menjanjikan. Hal ini didukung oleh komitmen pemerintah dalam mengembangkan hilirisasi nikel dan industri kendaraan listrik (electric vehicle/EV).
Baca JugaTarif Listrik PLN Stabil April–Juni 2026 Meski Krisis Energi Global Melanda Dunia
“Kita memang menguasai sebagian cadangan nikel dunia dan industri EV membutuhkan baterai yang sebagian besar komponennya dari nikel. Saya kira prospeknya cukup baik,” ujar Komaidi dalam keterangan tertulis pada Selasa, 22 September 2025.
Peluang dari Industri Kendaraan Listrik
Perkembangan teknologi baterai dan kendaraan listrik menjadi faktor penting dalam memperkuat prospek nikel Indonesia. Meskipun baterai EV dapat menggunakan bahan baku lain, nikel tetap menjadi komponen utama dalam pembuatan baterai tersebut.
Komaidi menegaskan pentingnya kesadaran untuk memanfaatkan peluang ini secara optimal. Namun, hal ini tidak boleh mengabaikan prinsip-prinsip pertambangan yang berkelanjutan dan bertanggung jawab.
“Saya kira kita perlu awareness untuk memanfaatkan peluang ini. Tetapi, momentum ini seharusnya tidak mengesampingkan kaidah-kaidah pertambangan yang baik dan sustainable,” tambahnya.
Cadangan dan Produksi Nikel Indonesia
Berdasarkan data Neraca Sumber Daya dan Cadangan Mineral dan Batu Bara Indonesia tahun 2025, yang dirilis oleh Badan Geologi Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral, total cadangan bijih nikel pada akhir Desember 2024 mencapai 5,931 miliar ton.
Jumlah tersebut terdiri dari cadangan terkira sebesar 3,818 miliar ton dan cadangan terbukti sebanyak 2,095 miliar ton. Produksi bijih nikel di Indonesia diperkirakan mencapai 173 juta ton per tahun pada 2024.
Namun, sisa umur cadangan nikel diperkirakan hanya tersisa sekitar 34 tahun jika produksi berjalan pada tingkat yang sama.
Zahra Kurniawati
variabisnis.com adalah media online yang menyajikan berita sektor energi dan umum secara lengkap, akurat, dan tepercaya.
Rekomendasi
Arus Balik Lebaran Pelni H7 Angkut 153 Ribu Penumpang Tiket Terjual Tinggi
- Senin, 30 Maret 2026
Bank Indonesia Perkuat Instrumen SVBI Dan SUVBI Demi Stabilitas Rupiah Global
- Senin, 30 Maret 2026
Kurs Dolar Dekati Rp17000 Rupiah Melemah Dipicu Sentimen Global Dan Domestik
- Senin, 30 Maret 2026
Berita Lainnya
Update Lengkap Harga BBM Pertamina Hari Ini Senin 30 Maret 2026 di Seluruh Indonesia
- Senin, 30 Maret 2026
Tarif Listrik PLN Triwulan II Tahun 2026 Tetap, Simak Cara Hitung Token Efisien
- Senin, 30 Maret 2026
Inilah 5 Pilihan Rumah Subsidi Murah di Majalengka yang Cocok Untuk Keluarga Muda
- Senin, 30 Maret 2026












