JAKARTA - Menteri Perdagangan, Budi Santoso, mengungkapkan bahwa Perjanjian Perdagangan Preferensial Indonesia-Tunisia (IT-PTA) akan rampung dan ditandatangani pada Januari 2026.
Ia menekankan bahwa substansi perjanjian telah selesai, sehingga tinggal menunggu waktu formalitas.
“Saya ingin menyampaikan bahwa perjanjian dagang dengan Tunisia nanti rencananya Januari kita akan tanda tangani. Sebenarnya, ini hanya masalah waktu saja, tapi perjanjiannya sudah selesai,” kata Budi saat membuka Strategic Forum “Perluasan Pasar Ekspor ke Peru dan Tunisia” di Jakarta, Selasa.
Baca JugaVolume Kendaraan Arus Balik Idulfitri 2026 ke Jabodetabek dan Jawa Barat Meningkat Signifikan
Perjanjian ini menjadi langkah strategis Indonesia untuk memperkuat hubungan dagang dengan kawasan Afrika Utara dan Mediterania, sekaligus membuka akses pasar baru bagi produk dalam negeri.
Cakupan Perjanjian: Tarif dan Nontarif
IT-PTA mencakup berbagai kebijakan mulai dari penurunan dan penghapusan tarif, hingga pengaturan nontarif. Beberapa aspek yang diatur antara lain standardisasi, anti-dumping, imbal dagang, serta prosedur kepabeanan dan fasilitasi perdagangan.
Mendag Budi menekankan pentingnya perjanjian ini untuk memperluas diversifikasi ekspor Indonesia dan memanfaatkan potensi pasar Tunisia yang selama ini belum optimal.
“IT-PTA memiliki peluang diversifikasi dan perluasan pasar ekspor Indonesia ke kawasan Afrika Utara dan Mediterania,” jelas Budi. Ia menambahkan, perjanjian ini juga diharapkan meningkatkan daya saing produk Indonesia di pasar Tunisia dan membuka peluang bagi UMKM melalui tarif preferensial.
Performa Perdagangan Indonesia-Tunisia
Kinerja perdagangan Indonesia-Tunisia menunjukkan tren positif. Tahun lalu, total perdagangan mencapai 169,3 juta dolar AS, sedangkan nilai investasi tercatat 1,1 miliar dolar AS. Ekspor Indonesia ke Tunisia meningkat 0,9 persen dibanding 2023, menandakan adanya peluang untuk memperkuat penetrasi pasar.
Budi mendorong pelaku usaha untuk segera memanfaatkan fasilitas yang diberikan IT-PTA. Dengan strategi yang tepat, peluang ekspor dapat dimaksimalkan, terutama untuk produk UMKM yang selama ini menghadapi kendala akses pasar.
“Nah, kita ingin semua perjanjian, baik dengan Peru, Tunisia, atau dengan (negara) mana pun, itu harus segera dimanfaatkan dengan baik,” tegas Budi.
Perluasan Pasar Global Indonesia
Selain Tunisia, Indonesia juga aktif menjalin perjanjian dagang internasional dengan berbagai negara dan kawasan, termasuk Uni Eropa, Kanada, Eurasia, dan Peru. Langkah ini sejalan dengan komitmen Indonesia terhadap keterbukaan perdagangan dan kerja sama ekonomi global.
Budi menekankan bahwa ekspor Indonesia terus mengalami pertumbuhan. Pada periode Januari-Agustus 2025, nilai ekspor naik 7,72 persen mencapai 185,13 miliar dolar AS dibanding periode yang sama pada 2024.
“Selama periode ini, Indonesia turut mencatat surplus perdagangan sebesar 29,14 miliar dolar AS dengan mempertahankan surplus perdagangan selama 64 bulan berturut-turut,” jelas Budi. Ia menargetkan kinerja ekspor tetap konsisten hingga akhir tahun.
“Kita tunggu sampai Desember (tahun ini), mudah-mudahan (kinerja ekspor) tetap konsisten di atas 7,1 persen,” tambahnya.
Manfaat IT-PTA bagi UMKM dan Produk Nasional
Perjanjian ini tidak hanya memberikan keuntungan bagi perusahaan besar, tetapi juga bagi pelaku usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM). Dengan tarif preferensial, produk UMKM Indonesia berpeluang masuk pasar Tunisia dengan biaya lebih rendah.
Selain itu, IT-PTA diharapkan memperkuat kerja sama bilateral dan menjadi landasan bagi pengembangan perdagangan lebih luas di masa depan. Budi mendorong semua pelaku usaha untuk memanfaatkan fasilitas perjanjian agar kinerja ekspor Indonesia terus positif.
Strategi Meningkatkan Daya Saing Produk
Dengan adanya IT-PTA, pemerintah menekankan pentingnya meningkatkan daya saing produk Indonesia, termasuk standarisasi dan kualitas produk ekspor. Hal ini penting untuk menghadapi kompetisi global, sekaligus membuka peluang baru bagi usaha lokal.
Budi menyatakan bahwa perjanjian dagang ini akan menjadi jembatan untuk akses pasar yang lebih luas, sekaligus meningkatkan nilai tambah produk ekspor Indonesia.
“Perjanjian ini akan membantu kita membuka peluang ekspor baru, meningkatkan daya saing, serta memberi manfaat langsung bagi pelaku usaha nasional,” pungkasnya.
Wildan Dwi Aldi Saputra
variabisnis.com adalah media online yang menyajikan berita sektor energi dan umum secara lengkap, akurat, dan tepercaya.
Rekomendasi
Arus Balik Lebaran Pelni H7 Angkut 153 Ribu Penumpang Tiket Terjual Tinggi
- Senin, 30 Maret 2026
Bank Indonesia Perkuat Instrumen SVBI Dan SUVBI Demi Stabilitas Rupiah Global
- Senin, 30 Maret 2026
Kurs Dolar Dekati Rp17000 Rupiah Melemah Dipicu Sentimen Global Dan Domestik
- Senin, 30 Maret 2026
Berita Lainnya
Menteri Lingkungan Hidup Hanif Faisol Tinjau Lokasi PSEL Energi Listrik Malang
- Senin, 30 Maret 2026












