Selasa, 31 Maret 2026

Kinerja Impor Indonesia Oktober 2025 Turun, Migas Menjadi Faktor Utama

Kinerja Impor Indonesia Oktober 2025 Turun, Migas Menjadi Faktor Utama
Kinerja Impor Indonesia Oktober 2025 Turun, Migas Menjadi Faktor Utama

JAKARTA - Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat kinerja impor Indonesia pada Oktober 2025 mencapai US$ 21,84 miliar. Nilai ini turun 1,15% secara year on year dibanding Oktober 2024, menunjukkan perlambatan pertumbuhan impor.

Deputi Bidang Statistik Distribusi dan Jasa BPS, Pudji Ismartini, menyampaikan bahwa kinerja impor terdiri dari impor migas dan nonmigas. Penurunan total impor terutama disebabkan oleh menurunnya impor migas, meski impor nonmigas mengalami pertumbuhan.

Impor migas pada Oktober 2025 tercatat US$ 2,81 miliar, turun 23,32% YoY. Sementara itu, impor nonmigas mencapai US$ 19,03 miliar atau naik 3,26% YoY, menandakan ketahanan permintaan barang nonenergi.

Baca Juga

Tarif Listrik PLN Stabil April–Juni 2026 Meski Krisis Energi Global Melanda Dunia

Pudji menjelaskan bahwa penurunan impor migas memberikan kontribusi terbesar terhadap penurunan total impor, yakni andil -3,87%. Hal ini mencerminkan pengaruh fluktuasi harga energi dan permintaan domestik terhadap struktur impor.

Capaian Kumulatif Januari–Oktober 2025

Secara kumulatif, nilai impor sepanjang Januari hingga Oktober 2025 mencapai US$ 198,16 miliar. Angka ini naik 2,19% dibanding periode sama tahun sebelumnya, menunjukkan adanya pertumbuhan perdagangan tahunan meski di bulan Oktober terjadi perlambatan.

Impor migas sepanjang Januari–Oktober tercatat US$ 26,56 miliar, turun 12,67% YoY. Sebaliknya, impor nonmigas mencapai US$ 171,61 miliar atau naik 4,95%, menjadi motor utama peningkatan nilai impor tahunan.

Peningkatan impor nonmigas didorong oleh pertumbuhan impor barang modal. Nilai impor barang modal sepanjang Januari–Oktober 2025 mencapai US$ 40,55 miliar atau naik 18,67% dibanding periode sama tahun sebelumnya.

Di sisi lain, impor bahan baku atau penolong mengalami penurunan 1,25% YoY menjadi US$ 139,60 miliar. Sementara impor konsumsi turun 2,05% YoY menjadi US$ 18,02 miliar, menunjukkan adanya penyesuaian kebutuhan domestik.

Komposisi dan Penggunaan Impor

Berdasarkan penggunaannya, barang modal menjadi penyumbang utama peningkatan impor. Lonjakan impor barang modal sebesar 18,67% menunjukkan permintaan yang tinggi untuk mesin, peralatan produksi, dan investasi industri.

Impor bahan baku/penolong justru mengalami penurunan 1,25% YoY, menandakan adanya efisiensi produksi atau penyesuaian stok. Sementara impor barang konsumsi turun 2,05%, yang mungkin dipengaruhi oleh perubahan pola konsumsi masyarakat.

Penurunan impor migas menjadi sorotan utama karena dampaknya yang signifikan terhadap total impor. Penurunan ini terkait dengan fluktuasi harga minyak global, pengurangan kebutuhan energi, atau peningkatan efisiensi konsumsi energi domestik.

Meski demikian, pertumbuhan impor barang modal mencerminkan tren investasi dan pembangunan infrastruktur yang tetap berlangsung. Hal ini penting untuk menjaga kapasitas produksi industri dan mendukung pertumbuhan ekonomi jangka panjang.

Implikasi dan Tantangan ke Depan

Penurunan impor migas menjadi perhatian karena dapat mempengaruhi ketersediaan energi dan biaya produksi. Sementara itu, kenaikan impor nonmigas, terutama barang modal, menunjukkan ekonomi domestik masih aktif melakukan investasi dan produksi.

Secara keseluruhan, tren impor menunjukkan dinamika yang seimbang antara kebutuhan energi yang menurun dan permintaan barang modal yang meningkat. Hal ini dapat menjadi sinyal bagi pembuat kebijakan untuk menyesuaikan strategi perdagangan dan industri.

Pertumbuhan impor nonmigas juga menandakan peluang bagi sektor industri dalam negeri untuk meningkatkan kapasitas produksi. Pemerintah perlu memantau komposisi impor agar tidak mengganggu neraca perdagangan dan menjaga ketersediaan barang strategis.

Selain itu, penurunan impor bahan baku/penolong dan konsumsi menandakan perlunya efisiensi produksi dan pengelolaan stok yang lebih baik. Hal ini penting untuk mengantisipasi fluktuasi pasar global dan menjaga stabilitas harga domestik.

Oktober 2025 mencatat penurunan total impor Indonesia menjadi US$ 21,84 miliar, terutama disebabkan oleh penurunan impor migas. Di sisi lain, pertumbuhan impor nonmigas, terutama barang modal, menandakan aktivitas ekonomi domestik tetap bergerak positif.

Kinerja impor kumulatif Januari–Oktober 2025 mencapai US$ 198,16 miliar atau naik 2,19% YoY. Struktur impor yang seimbang antara penurunan migas dan pertumbuhan nonmigas menunjukkan dinamika perdagangan yang kompleks, namun tetap mengarah pada stabilitas ekonomi.

Tren ini menggarisbawahi pentingnya strategi kebijakan perdagangan dan pengelolaan impor. Pemerintah perlu menyesuaikan regulasi dan pengawasan agar mendukung investasi industri, menjaga ketersediaan energi, dan menyeimbangkan kebutuhan konsumen.

Nathasya Zallianty

Nathasya Zallianty

variabisnis.com adalah media online yang menyajikan berita sektor energi dan umum secara lengkap, akurat, dan tepercaya.

Rekomendasi

Berita Lainnya

Update Lengkap Harga BBM Pertamina Hari Ini Senin 30 Maret 2026 di Seluruh Indonesia

Update Lengkap Harga BBM Pertamina Hari Ini Senin 30 Maret 2026 di Seluruh Indonesia

Tarif Listrik PLN Triwulan II Tahun 2026 Tetap, Simak Cara Hitung Token Efisien

Tarif Listrik PLN Triwulan II Tahun 2026 Tetap, Simak Cara Hitung Token Efisien

Inilah 5 Pilihan Rumah Subsidi Murah di Majalengka yang Cocok Untuk Keluarga Muda

Inilah 5 Pilihan Rumah Subsidi Murah di Majalengka yang Cocok Untuk Keluarga Muda

Harga BBM Pertamina, Shell, BP, dan Vivo Tetap Stabil Pekan Terakhir Maret 2026 Meski Konflik Internasional Memanas

Harga BBM Pertamina, Shell, BP, dan Vivo Tetap Stabil Pekan Terakhir Maret 2026 Meski Konflik Internasional Memanas

BPJPH Tingkatkan Kepatuhan Pedagang Pasar Kramat Jati Demi Perlindungan Konsumen Halal

BPJPH Tingkatkan Kepatuhan Pedagang Pasar Kramat Jati Demi Perlindungan Konsumen Halal