Lonjakan Ekspor Kelapa RI ke China Picu Krisis Bahan Baku Dalam Negeri
- Selasa, 02 Desember 2025
JAKARTA - Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat kinerja ekspor kelapa bulat (HS 08011200) melonjak signifikan sepanjang Januari—Oktober 2025. Deputi Bidang Statistik Distribusi dan Jasa BPS, Pudji Ismartini, mengatakan total ekspor mencapai US$208,2 juta, naik 143,90% dibanding periode sama tahun 2024.
China menjadi tujuan ekspor terbesar dengan nilai US$171,3 juta. Posisi kedua ditempati Vietnam senilai US$34,4 juta dan Malaysia US$1,2 juta selama periode tersebut.
“Negara tujuan utama ekspor kelapa bulat dari Januari—Oktober 2025, ini yang pertama adalah China, itu sebesar US$171,3 juta, kemudian Vietnam sebesar US$34,4 juta, dan Malaysia sebesar US$1,2 juta,” ujar Pudji.
Baca JugaTarif Listrik PLN Stabil April–Juni 2026 Meski Krisis Energi Global Melanda Dunia
Secara tahunan, ekspor kelapa bulat Indonesia juga meningkat menjadi US$22,8 juta. Angka ini tumbuh 71,37% year-on-year (YoY), meski secara month-to-month (MtM) turun tipis 1,29%.
Dampak Lonjakan Ekspor terhadap Industri Domestik
Lonjakan ekspor ini ternyata menimbulkan tekanan pada industri dalam negeri. Banyak pabrik hanya mampu beroperasi di kapasitas minim karena kekurangan bahan baku kelapa.
Center of Reform on Economics (Core) Indonesia mencatat peningkatan ekspor ke China membuat industri domestik kesulitan memenuhi kebutuhan bahan baku. Beberapa pabrik bahkan terpaksa melakukan pemutusan hubungan kerja (PHK).
Pengamat Pertanian dari Core Indonesia, Eliza Mardian, menuturkan tren ekspor kelapa bulat dan kopra selama 2–3 tahun terakhir meningkat signifikan. “Tren ekspor kelapa khususnya kelapa bulat dan kopra menunjukkan kenaikan yang cukup signifikan, baik dari sisi nilai maupun kuantitasnya karena ada kenaikan permintaan global di tengah supply terbatas,” kata Eliza.
Lonjakan ekspor lebih banyak dipicu oleh harga internasional yang menarik daripada peningkatan produksi domestik. “Karena harga ekspor lebih menarik, banyak yang memilih ekspor ketimbang pemenuhan dalam negeri. Makanya harga di dalam negeri melonjak,” ungkapnya.
Krisis Bahan Baku dan Kapasitas Produksi
Beberapa perusahaan industri kelapa harus beroperasi di kapasitas hanya sekitar 33% dari total kapasitas. Kondisi ini menyebabkan sebagian pabrik terpaksa melakukan PHK pekerja karena kesulitan memperoleh bahan baku.
“Industri kesulitan bahan baku, kapasitas idle-nya masih besar. Beberapa pabrik bahkan harus PHK pekerjanya,” pungkas Eliza. Situasi ini memperlihatkan ketergantungan industri dalam negeri terhadap aliran pasokan kelapa yang kini lebih banyak diarahkan ke pasar ekspor.
Selain itu, meningkatnya permintaan global juga mendorong harga kelapa dalam negeri melonjak. Kenaikan harga ini menimbulkan tekanan tambahan bagi pelaku industri lokal, terutama mereka yang mengandalkan kelapa sebagai bahan baku utama.
Strategi Menghadapi Lonjakan Permintaan Global
Lonjakan ekspor yang pesat menunjukkan peluang besar bagi pendapatan negara. Namun, pemerintah dan pelaku industri perlu menyeimbangkan antara kepentingan ekspor dan kebutuhan domestik.
Peningkatan harga kelapa dan kelangkaan bahan baku bisa memicu inflasi dalam sektor industri pengolahan. Oleh karena itu, pengaturan kuota ekspor atau pemberian insentif untuk produksi dalam negeri menjadi langkah strategis yang patut dipertimbangkan.
Dengan manajemen yang tepat, Indonesia tetap bisa memanfaatkan momentum ekspor ke China tanpa menimbulkan krisis bahan baku. Sinergi antara pemerintah, eksportir, dan industri domestik menjadi kunci menjaga keseimbangan pasokan dan permintaan.
Lonjakan ekspor kelapa bulat ke China sepanjang Januari—Oktober 2025 memang menguntungkan dari sisi nilai. Namun, dampaknya terhadap industri dalam negeri dan tenaga kerja harus menjadi perhatian utama agar pertumbuhan ekonomi tetap berkelanjutan.
Nathasya Zallianty
variabisnis.com adalah media online yang menyajikan berita sektor energi dan umum secara lengkap, akurat, dan tepercaya.
Rekomendasi
Arus Balik Lebaran Pelni H7 Angkut 153 Ribu Penumpang Tiket Terjual Tinggi
- Senin, 30 Maret 2026
Bank Indonesia Perkuat Instrumen SVBI Dan SUVBI Demi Stabilitas Rupiah Global
- Senin, 30 Maret 2026
Kurs Dolar Dekati Rp17000 Rupiah Melemah Dipicu Sentimen Global Dan Domestik
- Senin, 30 Maret 2026
Berita Lainnya
Update Lengkap Harga BBM Pertamina Hari Ini Senin 30 Maret 2026 di Seluruh Indonesia
- Senin, 30 Maret 2026
Tarif Listrik PLN Triwulan II Tahun 2026 Tetap, Simak Cara Hitung Token Efisien
- Senin, 30 Maret 2026
Inilah 5 Pilihan Rumah Subsidi Murah di Majalengka yang Cocok Untuk Keluarga Muda
- Senin, 30 Maret 2026












