JAKATRA - Harga minyak dunia kembali naik tipis pada Kamis, 4 Desember 2025, dipicu serangan terbaru terhadap infrastruktur energi Rusia dan lambannya kemajuan diplomasi untuk mengakhiri perang di Ukraina.
Dilansir dari Investing.com, Jumat, minyak berjangka Brent untuk kontrak Februari naik 0,4 persen menjadi USD 62,94 per barel, sedangkan WTI naik 0,6 persen menjadi USD 59,28 per barel.
Serangan terhadap pipa Druzhba di Tambov, Rusia tengah, memicu kekhawatiran gangguan ekspor minyak Rusia. Meski operator pipa memastikan pasokan tetap berjalan, pasar tetap merespons dengan kenaikan harga tipis.
Baca JugaTarif Listrik April Juni 2026 Tetap, Rincian Harga Token PLN Terbaru Lengkap
Perundingan damai antara pejabat AS dan Rusia awal pekan ini juga berakhir tanpa terobosan, menambah ketidakpastian bagi pedagang minyak global.
Data Inventaris AS Tekan Sentimen Kenaikan
Sebelumnya, ekspektasi berakhirnya perang sempat menekan harga, karena pasar mengantisipasi pencabutan sanksi terhadap Rusia yang memungkinkan minyak kembali ke pasar.
Namun, data inventaris minyak mentah AS menunjukkan stok naik 574 ribu barel pada pekan yang berakhir 28 November, melampaui ekspektasi penurunan 1,9 juta barel. Stok bensin meningkat 4,52 juta barel, sementara stok sulingan naik 2,1 juta barel.
Kondisi ini menegaskan permintaan yang masih lemah di konsumen minyak terbesar dunia, sehingga menahan kenaikan harga yang dipicu faktor risiko geopolitik.
Ekspektasi Penurunan Suku Bunga Dukung Permintaan
Kenaikan harga minyak juga mendapat dukungan dari ekspektasi pelonggaran suku bunga The Fed, yang melemahkan dolar dan mendorong aktivitas ekonomi.
Data pasar tenaga kerja sektor swasta AS yang mengejutkan menunjukkan penurunan 32 ribu pekerja pada November, jauh di bawah perkiraan kenaikan. Selain itu, indeks jasa ISM November mencapai 52,6 dengan indikator harga melemah, memberi sinyal inflasi yang lebih terkendali.
Ekspektasi ini mendorong optimisme bahwa konsumsi bahan bakar global akan tetap stabil meski pasokan melimpah.
Proyeksi Pasar dan Penyesuaian Rating
Di sisi lain, Fitch Ratings menurunkan asumsi harga minyak 2025–2027 karena proyeksi pasokan yang berlebihan dan produksi yang diperkirakan melampaui permintaan.
Kondisi ini mengindikasikan bahwa meski risiko geopolitik dan faktor moneter mendukung harga, tekanan fundamental dari pasokan global tetap membatasi kenaikan.
Pasar kini bergerak tipis, menyeimbangkan risiko gangguan ekspor dengan persediaan yang meningkat dan proyeksi pertumbuhan ekonomi global yang moderat.
Wildan Dwi Aldi Saputra
variabisnis.com adalah media online yang menyajikan berita sektor energi dan umum secara lengkap, akurat, dan tepercaya.
Rekomendasi
IHSG Melemah Sepekan Investor Waspadai Proyeksi Pergerakan Pasar Awal Pekan Mendatang
- Minggu, 29 Maret 2026
Investor Asing Jual Saham Bank Besar IHSG Melemah Pada Sesi Pertama Perdagangan
- Minggu, 29 Maret 2026
Rupiah Diproyeksi Melemah Pekan Depan Berpotensi Sentuh Level 17100 Per Dolar
- Minggu, 29 Maret 2026
Yield SBN Tenor Sepuluh Tahun Naik Rupiah Bertahan Dari Tekanan Global
- Minggu, 29 Maret 2026
Pelni Angkut 153 Ribu Penumpang Arus Balik Lebaran Hingga H Plus Tujuh
- Minggu, 29 Maret 2026
Berita Lainnya
Harga Pangan Akhir Pekan Turun Naik, Cabai Melemah Minyak Goreng Menguat Kembali
- Minggu, 29 Maret 2026
Harga Pangan Nasional Berubah Bawang Dan Beras Naik Cabai Turun Minggu Ini
- Minggu, 29 Maret 2026
Update Tarif Listrik 2026 Per kWh Lengkap Rumah Tangga Bisnis Industri Nasional
- Minggu, 29 Maret 2026
Harga BBM Naik 28 Maret 2026, Daftar Lengkap Terbaru Seluruh Indonesia Hari Ini
- Sabtu, 28 Maret 2026




.jpg)
.jpg)




.jpg)

