Kamis, 26 Maret 2026

Siasat Wijaya Karya (WIKA) yang Gagal Bayar Obligasi dan Sukuk

Siasat Wijaya Karya (WIKA) yang Gagal Bayar Obligasi dan Sukuk
Siasat Wijaya Karya (WIKA) yang Gagal Bayar Obligasi dan Sukuk

JAKARTA — Emiten BUMN Karya, PT Wijaya Karya (Persero) Tbk. (WIKA) telah gagal melunasi obligasi serta sukuk yang telah jatuh tempo bulan ini. WIKA pun telah melaporkan kondisi usaha industri konstruksi yang menantang, termasuk penurunan kontrak baru pada 2024. Sebagaimana diketahui, pada 2022, WIKA telah menerbitkan Obligasi Berkelanjutan II Wijaya Karya Tahap II Tahun 2022 Seri A senilai Rp593,95 miliar. WIKA juga menerbitkan Sukuk Mudharabah II Wijaya Karya Tahap II Tahun 2022 Seri A dengan jumlah pokok yang ditawarkan sebesar Rp412,90 miliar. Obligasi serta sukuk itu jatuh tempo pada  Februari 2025. Sementara, mengacu surat PT Kustodian Sentral Efek Indonesia (KSEI). Februari 2025, WIKA telah menunda pembayaran pokok obligasi serta sukuknya yang jatuh tempo Februari 2025 itu. Atas kondisi tersebut, Bursa Efek Indonesia (BEI) memberikan suspensi atau menghentikan sementara saham WIKA. Dalam pengumumannya, BEI menilai gagalnya pelunasan obligasi dan sukuk mengindikasikan adanya permasalahan pada kelangsungan usaha WIKA. 

"Dengan mempertimbangkan hal tersebut, Bursa memutuskan untuk melakukan penghentian sementara perdagangan efek WIKA di seluruh pasar," tulis BEI di pengumumannya.  
Penghentian sementara saham WIKA terhitung sejak prapembukaan perdagangan efek pada Februari 2025, hingga pengumuman Bursa lebih lanjut. Dalam keterbukaan informasi baru-baru ini, Manajemen WIKA juga menjelaskan bahwa perseroan masih dalam keterbatasan likuiditas yang dilatar belakangi kondisi usaha industri konstruksi yang menantang. Kondisi tersebut didorong oleh adanya penurunan tender proyek pada 2024, baik pemerintah, BUMN maupun swasta.  "Penurunan perolehan kontrak baru mengakibatkan turunnya penjualan sehingga membuat arus kas masuk menurun," tulis Sekretaris Perusahaan Wijaya Karya Mahendra Vijaya di keterbukaan informasi pada akhir pekan lalu . Sebelumnya, WIKA melaporoan telah membukukan kontrak baru sebesar Rp20,7 triliun pada 2024. 

Jumlah itu turun dari realisasi tahun sebelumnya yang meraih Rp29,1 triliun. Mahendra mengatakan bahwa perolehan kontrak baru pada tahun lalu mayoritas berasal dari sektor infrastruktur dan gedung dengan kontribusi mencapai 42% dari total nilai kontrak baru. Selanjutnya, sektor industri memiliki porsi sebesar 32% dari total nilai kontrak baru, sektor engineering, procurement, construction, and commissioning (EPCC) berkontribusi hingga 20%, dan sektor properti menyumbang 6%. WIKA juga mengalami keterbatasan unrestrictred cash dikarenakan penyerapan penyertaan modal negara (PMN) yang diterima pada 2024 belum dapat dilakukan sesuai rencana awal akibat adanya dinamika kebijakan dan kondisi proyek.

Baca Juga

Infrastruktur Jalan Jateng Prima Saat Lebaran 2026 Pemudik Beri Apresiasi Tinggi

Herman

Herman

variabisnis.com adalah media online yang menyajikan berita sektor energi dan umum secara lengkap, akurat, dan tepercaya.

Rekomendasi

Berita Lainnya

Arus Balik Lebaran 2026 Memuncak Moda Transportasi Padat Menuju Jabodetabek

Arus Balik Lebaran 2026 Memuncak Moda Transportasi Padat Menuju Jabodetabek

Arus Balik Lebaran 2026 Puncak Kedatangan Penumpang Kereta Api Jakarta Meningkat

Arus Balik Lebaran 2026 Puncak Kedatangan Penumpang Kereta Api Jakarta Meningkat

Diskon Tiket Kereta Api Lebaran 2026 Solo Balapan Gambir Masih Berlaku

Diskon Tiket Kereta Api Lebaran 2026 Solo Balapan Gambir Masih Berlaku

Mobil Listrik Terbaik Indonesia 2026 Harga Turun Persaingan Semakin Ketat

Mobil Listrik Terbaik Indonesia 2026 Harga Turun Persaingan Semakin Ketat

Mobil Listrik Xiaomi SU7 2026 Laris 15 Ribu Unit Dalam 34 Menit

Mobil Listrik Xiaomi SU7 2026 Laris 15 Ribu Unit Dalam 34 Menit