Strategi Semester II/2026, Erajaya Fokus Efisiensi & Tambah Brand

Selasa, 30 Juni 2026 | 23:05:31 WIB
Hadapi Tantangan Ekonomi, Erajaya Targetkan Ekspansi Konservatif [FOTO: NET].

JAKARTA — PT Erajaya Swasembada Tbk. (ERAA) memastikan bakal konsisten menggulirkan program rencana ekspansi bisnis pada paruh kedua tahun 2026 secara lebih konservatif seiring dengan eskalasi ketidakpastian kondisi ekonomi yang belum kunjung mereda.

Direktur ERAA Patrick Adhiatmadja memaparkan bahwa alokasi belanja modal (capital expenditure) pada tahun ini pada hakikatnya tidak memiliki perbedaan jauh jika disandingkan dengan realisasi tahun 2025.

 Kendati demikian, situasi eksternal menuntut pihak perusahaan untuk bersikap lebih berhati-hati dalam meresmikan gerai baru maupun melebarkan sayap rantai jaringan usaha. 

Menurut pandangannya, tiap-tiap investasi demi kebutuhan pengembangan bisnis kini dieksekusi lewat proses seleksi yang kian ketat supaya tetap sanggup menyumbang imbal hasil secara optimal.

"Kami masih optimistis tapi penuh kehati-hatian. Harapan kami kondisi membaik, perang Teluk bisa lebih jelas ujungnya, sehingga kita bisa ngegas pada semester II/2026 ini," ujar Patrick dalam paparan publik virtual dikutip, Selasa (30/6/2026).

Ia menguraikan bahwa laju pertumbuhan perseroan saat ini tidak melulu menggantungkan diri pada aspek pembukaan gerai baru.

 Pihak korporasi juga mengarahkan fokus untuk mendongkrak produktivitas bisnis yang telah berjalan, dibarengi dengan pengokohan efisiensi operasional supaya performa kinerja tetap tumbuh positif di tengah dinamika situasi ekonomi.

"Kami melihat pertumbuhan dari produktivitas usaha yang sudah ada dengan mengetatkan ikat pinggang. Kita harap bisa tumbuh tetap sehat dibanding pertumbuhan GDP Indonesia sehingga kita bisa tetap bertumbuh pasarnya," imbuhnya.

Skema strategi tersebut terefleksikan lewat capaian laporan kinerja keuangan perseroan di sepanjang periode kuartal I/2026. 

ERAA mengantongi angka pendapatan menembus Rp22,4 triliun, alias meroket sebesar 41,1% secara tahunan (year-on-year) yang didorong oleh kuatnya pertumbuhan di seluruh sektor lini bisnis. 

Selaras dengan lonjakan nilai penjualan, perolehan laba kotor ikut terkerek naik sebesar 33,1% YoY menuju level Rp2,4 triliun, dengan raihan gross profit margin (GPM) bertengger di angka 10,7%.

Pihak perseroan pun terbilang sukses melejitkan tingkat efisiensi operasional. Angka rasio beban operasional (OPEX) terhadap volume penjualan mencatatkan perbaikan menjadi 7,1% pada periode kuartal I/2026, jika dibandingkan dengan angka 8,6% pada rentang waktu yang sama di tahun lalu, yang menggambarkan kedisiplinan alokasi biaya yang semakin mumpuni.

 Berkat perpaduan antara pertumbuhan roda penjualan beserta efisiensi dimaksud, angka laba bersih yang bisa diatribusikan kepada pemilik entitas induk melonjak tajam hingga 122,7% secara tahunan menuju angka Rp453 miliar, di mana posisi margin turut mengantongi eskalasi sebesar 2%.

Pada koridor operasional, Erajaya konsisten memperkokoh ekosistem jaringan ritelnya di bermacam segmen roda bisnis. Pada unit usaha Erajaya Digital, akumulasi total gerai merangkak naik dari posisi 1.808 menjadi 1.859 toko hingga akhir periode kuartal I/2026. 

Perolehan tambahan bersih sebanyak 51 gerai tersebut bersumber dari pembukaan 68 toko baru beriringan dengan penutupan 17 toko. Pihak perseroan tetap menitikberatkan fokus untuk memperluas jangkauan outlet demi memperbesar dominasi pangsa pasar pada segmen perangkat seluler.

Sementara itu, untuk lini unit Erajaya Active Lifestyle yang menaungi sektor bisnis gaya hidup serta Internet of Things (IoT) membukukan kenaikan jumlah outlet dari 205 menjadi 219 toko. 

Tambahan bersih sebanyak 14 gerai diperoleh dari pembukaan 18 toko serta penutupan empat toko. Menatap masa depan, perseroan membidik target penambahan berkisar 50 sampai 60 gerai anyar untuk setiap tahunnya, dibarengi langkah masuknya rentetan merek baru secara selektif.

Adapun untuk segmen Erajaya Food & Nourishment (F&B), akumulasi unit gerai bertambah dari 77 menjadi 84 toko, membawa penambahan bersih sejumlah tujuh gerai tanpa mencatatkan adanya aksi penutupan di sepanjang kuartal pertama. 

Mayoritas dari agenda pembukaan toko baru berasal dari langkah ekspansi jenama minuman teh premium, Chagee.

Patrick mengutarakan bahwa strategi diversifikasi merek bertindak selaku salah satu roda penggerak pertumbuhan baru untuk pihak perseroan.

 Melalui langkah menyajikan lebih banyak brand internasional, perseroan menaruh harapan dapat memperlebar bentangan jaringan gerai sekaligus mendongkrak kontribusi perolehan pendapatan di tahun-tahun mendatang.

"Target kami adalah menambah brand. With bertambahnya brand, kami juga akan menambah outlet dan penjualan sehingga dapat meningkatkan revenue perusahaan ke depannya," ujarnya.

Sementara itu, pada koridor bisnis internasional, akumulasi jumlah gerai terekam berada di angka 242 toko, membukukan sedikit penurunan jika disandingkan dengan raihan 243 toko pada rentang periode yang sama di tahun sebelumnya.

Menerapkan Langkah Hedging

Vice President Director ERAA Hasan Aula memaparkan bahwasanya tekanan akibat tren menguatnya mata uang dolar AS dirasakan pada hampir segenap lini bisnis. 

Oleh sebab itu, pihak perusahaan mengaplikasikan manajemen pengelolaan risiko valuta asing secara jauh lebih disiplin, termasuk lewat instrumen strategi lindung nilai alias hedging.

Menurut pemaparan Hasan, setiap kali mencuat adanya kebutuhan untuk transaksi pembelian dalam denominasi mata uang dolar AS, pihak korporasi bakal melangsungkan langkah antisipatif dengan mempertimbangkan parameter kondisi pasar sekaligus proyeksi arah pergerakan kurs.

"Kita tetap mengelola forex dengan lebih hati-hati dan melakukan pendekatan yang forward looking," terangnya.

Bukan sebatas menerapkan instrumen strategi hedging, Hasan menilai implikasi dari pelemahan nilai tukar rupiah terhadap rapor kinerja perseroan tergolong relatif lebih bisa dikendalikan lantaran sebagian besar produk yang dipasarkan didapatkan dari pihak pemasok domestik. 

Ia menguraikan hanya ada sebagian kecil porsi produk, khususnya pada kategori gawai elektronik, yang sejauh ini masih didatangkan melalui keran impor secara langsung. 

Sementara itu, mayoritas barang dagangan yang dijajakan oleh Erajaya berasal dari transaksi pembelian di dalam negeri, sehingga eksposur terhadap gejolak fluktuasi nilai tukar mata uang menjadi jauh lebih terbatas.

Terkini