Sabtu, 11 Juli 2026

Menkeu Targetkan Rupiah Menguat di Semester II Melalui Sinergi Fiskal

Menkeu Targetkan Rupiah Menguat di Semester II Melalui Sinergi Fiskal
Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa. (Sumber : NET)

JAKARTA - Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa menargetkan penguatan kurs rupiah pada semester II-2026 melalui sinergi kebijakan fiskal dan moneter yang semakin kuat.

“Rupiah akan kembali menguat secara bertahap pada semester II tahun 2026,” kata Purbaya dalam Rapat Kerja bersama Komisi XI DPR RI di Jakarta, Rabu (10/6/2026).

Purbaya memaparkan bahwa pemerintah memantau pergerakan nilai tukar rupiah hingga awal Juni 2026 yang sedang mendapat tekanan, yang utamanya dipicu oleh sentimen global, risiko pasar keuangan, serta beban dari transaksi berjalan dan transaksi finansial domestik.

Baca Juga

Meredanya Ketegangan AS-Iran Dorong Penguatan Rupiah Hari Ini

Walaupun demikian, berbagai langkah yang diambil diyakini mampu memulihkan nilai tukar rupiah, mencakup perbaikan koordinasi antara kebijakan fiskal, moneter, serta sektor keuangan.

Secara bersamaan, pemerintah pun membenahi tata kelola devisa hasil ekspor (DHE) dan memperdalam pasar keuangan, yang ditargetkan mampu meningkatkan pasokan valuta asing di dalam negeri.

Sejumlah langkah tersebut diharapkan mampu meningkatkan kepercayaan investor, sehingga memicu kembali penguatan rupiah pada paruh kedua 2026.

Kurs rupiah pada Rabu pagi tercatat menguat 158 poin atau 0,88 persen ke posisi Rp17.900 per dolar AS, setelah sebelumnya ditutup di level Rp18.058 per dolar AS.

Kenaikan rupiah ini diperkirakan dipicu oleh kenaikan harga Bahan Bakar Minyak (BBM) non subsidi yang memberikan dampak positif terhadap fiskal pemerintah.

Pertamina Patra Niaga menyatakan adanya penyesuaian harga BBM jenis Pertamax dan Pertamax Green efektif mulai 10 Juni 2026.

Tercatat, harga BBM non-subsidi Pertamax (RON 92) meningkat dari Rp12.300 menjadi Rp16.250 per liter, sementara Pertamax Green 95 (RON 95) meningkat dari Rp12.900 menjadi Rp17.000 per liter.

Sedangkan harga BBM non-subsidi Pertamax Turbo (RON 98) tetap di angka Rp20.750 per liter, Dexlite (CN 51) tetap Rp23.000 per liter, dan Pertamina Dex (CN 53) tetap Rp24.800 per liter.

Bahan bakar bersubsidi jenis Pertalite tetap dijual dengan harga Rp10 ribu per liter dan harga Biosolar tetap Rp6.800 per liter.

Sentimen positif lainnya datang dari keputusan Bank Indonesia (BI) yang menaikkan suku bunga acuan sebesar 25 basis points (bps) menjadi 5,5 persen, yang terlihat dari penguatan indeks saham serta terjaganya minat investor asing dalam lelang obligasi.

Arjun Septa Aji

Arjun Septa Aji

variabisnis.com adalah media online yang menyajikan berita sektor energi dan umum secara lengkap, akurat, dan tepercaya.

Rekomendasi

Berita Lainnya

Rayakan Satu Dekade, Borobudur Marathon Siapkan Ruang bagi 12.500 Pelari

Rayakan Satu Dekade, Borobudur Marathon Siapkan Ruang bagi 12.500 Pelari

Manfaatkan Dana IPO, RANS Bakal Gelar 16 Konser hingga 2028

Manfaatkan Dana IPO, RANS Bakal Gelar 16 Konser hingga 2028

Emas Galeri24, Antam, dan UBS di Pegadaian Alami Kenaikan Harga

Emas Galeri24, Antam, dan UBS di Pegadaian Alami Kenaikan Harga

IHSG Menguat Dipicu Kombinasi Sentimen Global dan Domestik

IHSG Menguat Dipicu Kombinasi Sentimen Global dan Domestik

Rupiah pada Jumat Pagi Menguat Jadi Rp18.065 per Dolar AS

Rupiah pada Jumat Pagi Menguat Jadi Rp18.065 per Dolar AS