Rupiah Melemah ke Rp17.794 per Dolar AS Terimbas Kenaikan BI-Rate
- Kamis, 18 Juni 2026
JAKARTA – Kurs rupiah ditutup terkoreksi 0,18% atau 32 poin menjadi Rp17.794 per dolar AS pada perdagangan Kamis (18/6/2026). Bersamaan dengan itu, indeks dolar AS (DXY) mengalami penguatan 0,26% ke level 100,34.
Pengamat mata uang dan komoditas Ibrahim Assuaibi mencatat bahwa dalam perdagangan intraday hari ini rupiah sempat terdepresiasi sebesar 60 poin, namun tekanan mereda di akhir sesi sehingga rupiah menetap di posisi Rp17.794 per dolar AS.
Menurut Ibrahim, hari ini pasar keuangan sangat dipengaruhi oleh sentimen kebijakan moneter. Rapat Dewan Gubernur (RDG) Bank Indonesia pada 18-19 Juni 2026 memutuskan untuk menaikkan BI-Rate sebesar 25 basis poin (bps) menjadi 5,75%. Suku bunga Deposit Facility turut dinaikkan 25 bps menjadi 4,75%, dan suku bunga Lending Facility naik 25 bps menjadi 6,50%.
Baca JugaHarga Emas Antam Sabtu Ini Naik Rp5.000 Jadi Rp2,655 Juta per Gram
"Kenaikan ini sebagai langkah lanjutan untuk memperkuat stabilisasi nilai tukar rupiah, serta sebagai langkah pre-emptive untuk menjaga inflasi pada tahun 2026 dan 2027 agar tetap berada dalam kisaran sasaran 2,5±1% yang ditetapkan pemerintah," ujar Ibrahim, Kamis (18/6/2026).
Sebelumnya, pada rapat reguler Senin (9/6/2026), BI telah menaikkan BI-Rate sebesar 25 basis poin menjadi 5,50%.
Dengan demikian, dalam kurun waktu kurang dari sebulan, BI telah menaikkan suku bunga acuan dengan total 75 basis poin.
Langkah bank sentral ini sejalan dengan tren outflow asing yang masif di pasar modal, yang memicu pelemahan rupiah sepanjang tahun berjalan.
Ibrahim melihat pasar Indonesia sedang mengalami tekanan dan volatilitas tinggi akibat sikap wait and see pelaku pasar.
Menurut Ibrahim, investor global dan institusi cenderung menahan diri sembari menanti dua keputusan krusial dari MSCI mengenai status Indonesia di emerging market serta potensi pencabutan pembekuan konstituen. Sementara itu, di level global, investor memantau kesepakatan damai antara AS dan Iran.
Deeskalasi konflik menyebabkan harga minyak dunia turun dari US$100 ke kisaran US$80 per barel. Sebagai negara net importir minyak, tingginya harga komoditas ini sebelumnya menekan rupiah akibat beban impor yang membengkak.
"Perjanjian damai tersebut telah membantu meredakan kekhawatiran akan guncangan pasokan minyak yang berkepanjangan, mengurangi kekhawatiran tentang inflasi yang didorong oleh energi dan mendukung permintaan emas sebagai lindung nilai portofolio," tegasnya.
Menanggapi berbagai sentimen tersebut, Ibrahim memproyeksikan rupiah akan bergerak fluktuatif pada perdagangan besok, Jumat (19/06/2026), dengan potensi penutupan di kisaran Rp17.790 hingga Rp17.840 per dolar AS.
Andika Riyan Satriya Nugraha
variabisnis.com adalah media online yang menyajikan berita sektor energi dan umum secara lengkap, akurat, dan tepercaya.
Rekomendasi
Berita Lainnya
Rayakan Satu Dekade, Borobudur Marathon Siapkan Ruang bagi 12.500 Pelari
- Jumat, 10 Juli 2026












