Dana SAL Rp400 Triliun Kembali ke Himbara, Kredit Diprediksi Melesat
- Sabtu, 27 Juni 2026
JAKARTA - Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa optimistis pertumbuhan kredit perbankan mampu mencapai 14 hingga 15 persen pada tahun 2026. Keyakinan tersebut muncul setelah pemerintah memutuskan untuk mengembalikan serta menambah penempatan dana Saldo Anggaran Lebih (SAL) di bank-bank Himpunan Bank Milik Negara (Himbara) hingga mencapai sekitar Rp 400 triliun.
Menurut Purbaya, tambahan dana tersebut akan memperkuat likuiditas perbankan sehingga biaya dana (cost of fund) dapat ditekan.
Kondisi ini diharapkan memotivasi perbankan untuk menurunkan suku bunga kredit serta meningkatkan agresivitas penyaluran kredit kepada masyarakat dan dunia usaha.
Baca JugaMeredanya Ketegangan AS-Iran Dorong Penguatan Rupiah Hari Ini
"Pertumbuhan kredit kalau mereka bilang hitungan saya sampai 14-15 persen. Otomatis kalau uangnya ada, bunga akan relatif turun," ujarnya saat media briefing di kantornya, Jakarta, Jumat (26/6/2026).
Purbaya menjelaskan, setelah sempat ditarik, sisa penempatan dana SAL di Himbara berada di angka Rp 170 triliun. Pemerintah lantas mengembalikannya menjadi Rp 200 triliun dengan tenor jangka panjang.
Selanjutnya, Kemenkeu menambah lagi Rp 100 triliun dengan jangka waktu tiga hingga empat bulan, serta tambahan Rp 100 triliun lainnya dengan tenor yang lebih fleksibel.
Penempatan ini dilakukan karena pemerintah melihat likuiditas perbankan sempat mengetat yang dikeluhkan oleh para pimpinan bank.
"Katanya sebelumnya kredit bank tumbuh 11,5 persen. Tapi tadi para pimpinan bank tadi bilang bisa turun signifikan sekali kalau tidak diperbaiki kondisi likuiditasnya. Ini juga menunjukkan bahwa kebijakan saya berpengaruh ke perekonomian dan perbankan. Selama ini itu yang menopang pertumbuhan ekonomi tumbuh di atas 5,5 persen," ucapnya.
Menurutnya, langkah ini akan memberikan ruang lebih besar bagi bank untuk menyalurkan kredit yang dampaknya akan dirasakan oleh seluruh sistem perbankan.
Ia mencontohkan, ketika masyarakat mendapatkan kredit dan melakukan transaksi, uang tersebut akan kembali ke sistem perbankan dalam bentuk simpanan.
"Satu orang di daerah misalnya pinjam ke BRI, beli makanan. Yang jual makanan punya duit, mungkin ditaruh di BPR, bisa juga di BPD. Eventually itu akan masuk ke semua sistem perekonomian," tuturnya.
Andika Riyan Satriya Nugraha
variabisnis.com adalah media online yang menyajikan berita sektor energi dan umum secara lengkap, akurat, dan tepercaya.
Rekomendasi
Berita Lainnya
Rayakan Satu Dekade, Borobudur Marathon Siapkan Ruang bagi 12.500 Pelari
- Jumat, 10 Juli 2026












