Sabtu, 11 Juli 2026

KAI Pastikan Seluruh Lokomotif Siap Gunakan Biodiesel B50

KAI Pastikan Seluruh Lokomotif Siap Gunakan Biodiesel B50
Dukung Energi Hijau, KAI Siap Terapkan Biodiesel B50 [FOTO: NET].

JAKARTA — PT Kereta Api Indonesia (Persero) alias PT KAI memberikan garansi bahwa armada lokomotif beserta kereta pembangkit bermesin diesel telah siap mengonsumsi biodiesel B50.

Vice President Corporate Communication KAI, Anne Purba, menyampaikan bahwa tingkat kesiapan KAI ini berjalan laras dengan kebijakan mandatori biodiesel B50 yang resmi diterapkan pemerintah mulai 1 Juli 2026.

KAI berkomitmen menyokong penuh regulasi pemerintah untuk mengoptimalkan penyerapan energi nabati yang bersumber dari kekayaan alam dalam negeri. 

Baca Juga

Raih GCG Awards 2026, PNM Layani 23,

Perwujudan dukungan ini diimplementasikan lewat kesiapan fasilitas sarana, serangkaian uji coba teknis, hingga pengokohan aspek keamanan serta keandalan jalannya operasional.

“Dari sisi sarana, seluruh lokomotif dan sarana diesel KAI telah siap menerapkan B50 setelah melalui uji terap teknis serta penguatan aspek keselamatan operasional,” ujar Anne dalam keterangan resmi, Kamis (2/7/2026).

Pada pelaksanaannya, Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral menyebutkan bahwa implementasi B50 bakal dibarengi dengan masa transisi sepanjang 3 bulan sebagai jeda penyesuaian di lapangan, mencakup tata kelola persediaan stok lama hingga proses migrasi total menuju penggunaan B50. 

Pasalnya, aplikasi B50 pada moda perkeretaapian memerlukan kalkulasi kesiapan teknis yang matang. Oleh sebab itu, KAI intens menggelar pengujian, pengawasan, serta evaluasi komprehensif agar pemanfaatannya senantiasa sejalan dengan pakem keselamatan operasi kereta api.

Rangkaian pengujian yang sudah bergulir sejak April lalu ini bertujuan untuk menggaransi bahwa operasional B50 klop dengan karakteristik dinamis perjalanan kereta api, baik di unit lokomotif maupun kereta pembangkit. 

Untuk armada lokomotif, pengetesan difokuskan demi memantau respons kinerja mesin ketika menenggak B50 dalam rute perjalanan riil. 

Langkah monitoring diarahkan pada aspek performa mekanis, kestabilan sistem pembakaran, efisiensi bahan bakar, hingga kondisi suku cadang utama agar seluruh sarana tetap prima kala mengantar penumpang.

Sedangkan pada unit kereta pembangkit, proses pengujian dijalankan lewat inspeksi performa mesin genset, tingkat konsumsi BBM, sisa emisi gas buang, kelayakan filter, hingga daya tahan operasional. 

Proses ini terbilang krusial mengingat kereta pembangkit memegang peran vital dalam mengalirkan pasokan listrik demi menjamin kenyamanan para penumpang di sepanjang koridor perjalanan.

Meninjau dari aspek keberlanjutan lingkungan, implementasi B50 mempertegas andil KAI dalam menyukseskan program transisi energi nasional. 

Eskalasi bauran biodiesel ini berkontribusi memperluas pemanfaatan energi hijau lokal, mereduksi ketergantungan pada solar berbahan fosil, serta menyokong gerakan penekanan emisi karbon di dunia transportasi.

Sebagai informasi, KAI sejatinya telah mengadopsi bahan bakar biodiesel secara bertahap untuk lini operasional bermesin dieselnya, dimulai dari varian B35 hingga melangkah ke B40. 

Rekam jejak pengalaman tersebut menjadi modal berharga bagi kesiapan KAI kala melangkah ke fase B50 menggunakan metodologi teknis yang aman, terukur, serta presisi sesuai kebutuhan operasional lapangan.

“Seluruh sarana diesel telah kami siapkan sehingga transisi energi ini dapat berjalan dengan tetap menjaga keselamatan perjalanan, keandalan operasi, dan kualitas layanan kepada masyarakat,” tutup Anne.

Sepanjang tahun 2025, pemanfaatan biodiesel jenis B40 pada armada kereta api relasi jarak jauh menorehkan angka akumulasi emisi karbon senilai 127.315.192 kg CO?e atau setara kurang lebih 127.300 ton dari total 47,4 juta pengguna jasa.

Melangkah ke tahun 2026, tren ramah lingkungan ini terus dipertahankan. Sampai dengan triwulan I/2026, jumlah penumpang kereta api relasi jarak jauh menembus angka 14.515.350 orang, membawa perkiraan emisi di kisaran 38.900 ton CO?e yang berhasil ditekan berkat konsistensi pemanfaatan bahan bakar ramah lingkungan berbahan biodiesel.

Jika disandingkan pada level mobilitas yang setara, operasional kendaraan pribadi berisiko memproduksi gas emisi yang jauh lebih masif. 

Rata-rata emisi dari perjalanan kendaraan pribadi sanggup menyentuh kisaran 36–45 kg CO? per individu untuk rute jarak menengah, sedangkan moda kereta api hanya memicu emisi sekitar 2,7 kg CO? per individu. 

Komparasi ini memperlihatkan bahwa mobilisasi menggunakan kereta api sanggup mereduksi emisi hingga menginjak angka 90 persen untuk tiap perjalanannya.

Bersandarkan pada kuantitas jumlah pelanggan tersebut, pemanfaatan transportasi kereta api diproyeksikan telah menyumbang andil dalam potensi pemangkasan emisi sekitar 480.000 sampai 610.000 ton CO?e, ketimbang jika perjalanan tersebut ditempuh masyarakat dengan mengendarai kendaraan pribadi masing-masing.

Andika Riyan Satriya Nugraha

Andika Riyan Satriya Nugraha

variabisnis.com adalah media online yang menyajikan berita sektor energi dan umum secara lengkap, akurat, dan tepercaya.

Rekomendasi

Berita Lainnya

Surge (WIFI) Tebar Dividen Rp10,6 Miliar, Cek Jadwalnya di Sini

Surge (WIFI) Tebar Dividen Rp10,6 Miliar, Cek Jadwalnya di Sini

Produksi CPO Naik, Laba Bersih PalmCo Melesat Jadi Rp7,08 Triliun

Produksi CPO Naik, Laba Bersih PalmCo Melesat Jadi Rp7,08 Triliun

Krakatau Steel Lepas Aset Hotel Rp312 Miliar ke HIN & InJourney

Krakatau Steel Lepas Aset Hotel Rp312 Miliar ke HIN & InJourney

Laba Q1/2026 Turun, Nusantara Sawit Siapkan Strategi Profit

Laba Q1/2026 Turun, Nusantara Sawit Siapkan Strategi Profit

Tampilan Makin Modern, Suzuki New XL7 Bersolek di Sektor Eksterior

Tampilan Makin Modern, Suzuki New XL7 Bersolek di Sektor Eksterior