Harga Buyback Emas Antam Ambles Rp596.000 dari Rekor Tertinggi
- Rabu, 08 Juli 2026
JAKARTA – Tren pergerakan nilai beli kembali (buyback) emas Antam terpantau merosot cukup dalam dari rekor paling tinggi sepanjang sejarah. Berdasarkan publikasi data Logam Mulia pada Rabu (8/7/2026), nilai buyback emas Antam merosot Rp21.000 menjadi Rp2.393.000. Posisi tersebut kian menjauh dari rekor all time high (ATH).
Sebagaimana diketahui bersama, nilai buyback emas Antam mencatatkan rekor tertinggi ATH terakhir kali pada level Rp2.989.000 di pengujung Januari 2026. Dengan demikian, terdapat margin sebesar Rp596.000 jika disandingkan dengan posisi pada hari ini.
Nilai buyback emas Antam sendiri menjadi tolok ukur pembelian kembali oleh PT Aneka Tambang Tbk. (ANTM) untuk satuan ukuran 1 gram. Pergerakan angka ini beriringan dengan fluktuasi nilai logam mulia di pasar internasional.
Baca JugaHarga Buyback Emas Antam, UBS, & Galeri 24 di Pegadaian Rabu 8 Juli
Proses buyback emas merupakan aktivitas melepas kembali kepemilikan emas, baik yang berupa produk logam mulia, batangan, ataupun perhiasan. Pada umumnya, nominal yang ditetapkan akan berada di bawah harga jual pada periode berjalan.
Kendati begitu, agenda buyback emas ini tetap berpotensi menyuguhkan keuntungan apabila terdapat margin yang lebar antara harga beli awal dengan nilai buyback terkini.
Selaras dengan ketentuan PMK No. 34/PMK.10/2017, pelepasan kembali komoditas emas batangan kepada Antam dengan nominal transaksi di atas Rp10 juta bakal dikenakan potongan PPh 22 senilai 1,5% bagi pemilik NPWP serta tarif 3% bagi non-NPWP.
Adapun pungutan PPh 22 untuk aktivitas buyback ini langsung dipotong dari jumlah keseluruhan nilai transaksi buyback.
Melandaskan pada pemberitaan Bisnis sebelumnya, Analis Dupoin Futures Geraldo Kofit memaparkan bahwa dari aspek fundamental, proyeksi positif bagi pergerakan nilai emas turut ditopang oleh melonjaknya minat pasar terhadap aset perlindungan (safe haven).
Situasi ketidakpastian ekonomi global yang terus membayangi pasar, ditambah dengan dinamika risiko geopolitik di sejumlah wilayah, memicu para pelaku pasar untuk kembali mempertebal portofolio emas mereka sebagai instrumen lindung nilai.
Di samping faktor geopolitik, proyeksi menyangkut kiblat kebijakan moneter di Amerika Serikat ikut menjadi fokus pemantauan utama bagi para investor.
Pelaku pasar mulai mengalkulasi kans Federal Reserve untuk mengadopsi langkah yang lebih akomodatif sekiranya beberapa indikator ekonomi memperlihatkan grafik perlambatan.
Kondisi inflasi yang mulai melandai, pertumbuhan ekonomi yang berjalan lebih moderat, hingga pelemahan di sektor pasar tenaga kerja berpotensi membuka celah bagi bank sentral AS untuk mengawali pelonggaran kebijakan moneter mereka.
“Apabila skenario tersebut terealisasi, tekanan terhadap dolar Amerika Serikat dan imbal hasil obligasi pemerintah AS diperkirakan akan meningkat,” ujarnya.
Andika Riyan Satriya Nugraha
variabisnis.com adalah media online yang menyajikan berita sektor energi dan umum secara lengkap, akurat, dan tepercaya.












