Selasa, 31 Maret 2026

Pertambangan Jadi Pilar Strategis Menuju Indonesia Emas 2045

Pertambangan Jadi Pilar Strategis Menuju Indonesia Emas 2045
Pertambangan Jadi Pilar Strategis Menuju Indonesia Emas 2045

JAKARTA - Indonesia tengah menapaki fase penting menuju visi Indonesia Emas 2045. 

Sektor pertambangan disebut sebagai tulang punggung yang menopang transformasi ekonomi dan perkembangan teknologi nasional.

Direktur Eksekutif Indonesia Mining Association (IMA), Hendra Sinadia, menekankan bahwa komoditas mineral seperti emas, perak, nikel, dan tembaga menjadi fondasi strategis Indonesia hingga 100 tahun sejak kemerdekaan. Namun, ia menegaskan pentingnya pengelolaan bijak agar cadangan tetap terjaga.

Baca Juga

Pemerintah Percepat Proyek Blok Masela Senilai US$20,9 Miliar Untuk Perkuat Ketahanan Energi Nasional 2026

“Kita memiliki banyak mineral kritis, tetapi tetap terbatas. Eksplorasi yang tepat dan bijak menjadi kunci untuk memastikan umur cadangannya panjang,” ujar Hendra.

Eksplorasi Jadi Kunci Cadangan Jangka Panjang

Hendra menjelaskan banyak wilayah tambang di Indonesia selama ini hanya mengandalkan deposit berkadar tinggi (high grade). Tanpa eksplorasi aktif, umur cadangan akan cepat menurun.

Eksplorasi bukan hanya kewajiban pemegang izin tambang, tetapi juga indikator penting ketika mereka mengajukan rencana kerja serta anggaran tahunan. Investor baru, khususnya junior mining companies, pun memiliki peluang besar di sektor hulu.

Dalam konteks global, Hendra menyoroti tembaga sebagai komoditas strategis yang berpotensi mengalami kelangkaan pada 2035. “Mengembangkan tambang tembaga butuh belasan tahun, bukan hanya di Indonesia tapi di seluruh dunia. Momennya harus sekarang,” katanya.

Tantangan Teknologi dan Hilirisasi

Hendra mengakui adanya masalah struktural dalam industri pertambangan Indonesia, terutama minimnya pendanaan untuk research & development (R&D). Secara nasional, alokasi R&D Indonesia berada pada level terendah di kawasan Asia.

Di sektor pertambangan, lemahnya investasi teknologi membuat Indonesia bergantung pada teknologi asing, contohnya dalam pengolahan nikel. “Kalau tidak ada Tiongkok, kita tidak bisa memproses nikel sampai teroperasi. Ini menunjukkan teknologi hilir kita masih tertinggal,” jelasnya.

Hendra mencontohkan sektor batu bara. Pemegang PKP2B dahulu dikenai royalti 13,5 persen, dengan 6,5 persen dirancang khusus untuk dana pengembangan batu bara termasuk teknologi bersih. Namun, dana tersebut masuk ke kas negara untuk operasional, sehingga pengembangan teknologi domestik tidak optimal.

“Kalau saja skema itu konsisten, seharusnya kita sudah punya teknologi batu bara bersih. Tapi kenyataannya tidak terjadi,” ujarnya, menekankan pentingnya kebijakan fiskal yang konsisten untuk memperkuat pengembangan teknologi pertambangan.

Membangun Fondasi Menuju Indonesia Emas 2045

Hendra menekankan bahwa pengelolaan mineral kritis harus dilakukan secara bijak, tepat, dan berkelanjutan. Eksplorasi yang dilakukan sekarang menjadi kunci agar cadangan tetap tersedia untuk generasi mendatang.

Hilirisasi dan pengembangan teknologi lokal juga menjadi faktor utama agar Indonesia tidak hanya menjadi pengekspor bahan mentah, tetapi mampu mengolah sendiri mineral strategis. Kombinasi eksplorasi, teknologi, dan kebijakan fiskal yang tepat akan menjadi fondasi menuju Indonesia Emas 2045.

Dengan strategi ini, sektor pertambangan tidak hanya menopang ekonomi nasional, tetapi juga berperan dalam rantai pasok global, khususnya di industri teknologi dan energi, memperkuat posisi Indonesia di kancah internasional.

Wildan Dwi Aldi Saputra

Wildan Dwi Aldi Saputra

variabisnis.com adalah media online yang menyajikan berita sektor energi dan umum secara lengkap, akurat, dan tepercaya.

Rekomendasi

Berita Lainnya

Pemerintah Pastikan Tarif Listrik Tetap Stabil Mulai 1 April 2026 Demi Daya Beli Masyarakat

Pemerintah Pastikan Tarif Listrik Tetap Stabil Mulai 1 April 2026 Demi Daya Beli Masyarakat

Pertamina Patra Niaga Pastikan Pasokan BBM Tetap Lancar Selama Arus Mudik dan Balik Lebaran 2026

Pertamina Patra Niaga Pastikan Pasokan BBM Tetap Lancar Selama Arus Mudik dan Balik Lebaran 2026

Indonesia dan Jepang Tandatangani Pinjaman Besar Untuk Percepatan Proyek Panas Bumi Hululais Hingga 2030

Indonesia dan Jepang Tandatangani Pinjaman Besar Untuk Percepatan Proyek Panas Bumi Hululais Hingga 2030

Pemerintah Mempercepat Persetujuan RKAB Batu Bara untuk Menjaga Pasokan dan Harga Komoditas Global

Pemerintah Mempercepat Persetujuan RKAB Batu Bara untuk Menjaga Pasokan dan Harga Komoditas Global

5 Rumah Murah di Parung Panjang Mulai Rp150 Jutaan Cocok Untuk Pekerja Jakarta

5 Rumah Murah di Parung Panjang Mulai Rp150 Jutaan Cocok Untuk Pekerja Jakarta