4 Faktor yang Memengaruhi Gangguan Berkemih, Usia hingga Hormon

Rabu, 01 Juli 2026 | 01:55:01 WIB
Kenali 4 Faktor Pemicu Gangguan Berkemih Menurut Spesialis [FOTO: NET].

JAKARTA - Kendala berkemih tidak semata-mata dipicu oleh keadaan kandung kemih saja. Beraneka rupa faktor, mulai dari jenis kelamin, bertambahnya umur, fluktuasi hormon, sampai pemakaian obat-obatan, dapat mengerek risiko seseorang menderita keluhan pada saluran kemih.

Dokter Spesialis Urologi Subspesialis Perempuan, Fungsional dan Neurologi, Prof. Dr. dr. Harrina E. Rahardjo, Sp.U (K), PhD memaparkan, pemicu gangguan berkemih pada tiap individu dapat berlainan. 

Oleh karena itu, tim dokter perlu mencermati beraneka faktor yang melandasinya supaya penanganan yang disodorkan sinkron dengan penyebabnya. Ada pun sederet aspek yang dapat memengaruhi terjadinya kendala berkemih.

4 Faktor pemicu munculnya gangguan berkemih

1. Jenis kelamin 

Jenis kelamin bertindak sebagai salah satu faktor primer yang memengaruhi mencuatnya gangguan berkemih. Kaum pria dan wanita dibekali struktur anatomi yang berlainan sehingga corak gangguan yang diderita pun tidak melulu seragam.

Prof. Harrina menerangkan, kehadiran prostat pada kaum pria bertindak sebagai salah satu faktor pembeda utama jika dikomparasikan dengan kaum wanita.

“Jenis kelamin memegang peranan cukup besar. Pada laki-laki ada prostat, sedangkan perempuan tidak punya. Hal ini sudah menjadi pembeda yang besar,” kata Prof. Harrina dalam Media Briefing Siloam Pelvic & Bladder Comprehensive Clinic di Jakarta Pusat, Senin (29/6/2026).

Pada pria, kendala berkemih acap kali beririsan dengan pembengkakan prostat yang menyumbat laju urine, sehingga kandung kemih tidak dapat dikosongkan secara maksimal.

“Untuk kasus inkontinensia urin atau sisa urinnya banyak, umumnya terjadi di laki-laki. Kami biasanya mencurigai karena pembesaran prostat yang jinak atau bahkan kanker prostat,” ujarnya.

Sementara itu, pada wanita, kendala berkemih lebih jamak berakar dari perubahan pada organ panggul yang berlangsung seiring perjalanan usia.

 Fase melahirkan ataupun pergeseran jaringan imbas menopause dapat memengaruhi tingkat kekuatan dasar panggul, sehingga menaikkan risiko timbulnya keluhan berkemih.

2. Usia 

Seiring bertambahnya umur, beraneka transformasi alamiah dapat berlangsung pada sistem saluran kemih. Berdasarkan penuturan Prof. Harrina, salah satu transformasi yang jamak dijumpai ialah melonjaknya sensitivitas kandung kemih.

“Usia menyebabkan banyak sekali perubahan di kandung kemih, misalnya membuat sensitivitas meningkat. Hal ini yang membuat orang lebih sering buang air kecil dan susah menahannya,” katanya.

Selain pergeseran pada kandung kemih, bertambahnya umur juga acap kali dibersamai dengan mencuatnya beraneka rupa penyakit kronis yang dapat mengintervensi fungsi saluran kemih.

“Usia juga terkait dengan penyakit penyerta yang makin banyak seperti diabetes melitus, kencing manis, hipertensi yang bermanifestasi kelainannya di saluran kencing,” ujar Prof. Harrina.

Oleh lantaran itu, keluhan berkemih pada kelompok lansia tidak jarang distimulasi oleh lebih dari satu faktor, sehingga memerlukan tahapan pemeriksaan yang menyeluruh.

3. Perubahan hormon 

Fluktuasi hormon yang berlangsung seiring proses penuaan juga dapat mendongkrak risiko gangguan berkemih, baik pada wanita maupun pria. Pada wanita, merosotnya hormon estrogen sewaktu menopause dapat memengaruhi tingkat kesehatan jaringan saluran kemih serta dasar panggul.

Sementara pada pria, pergeseran hormon yang berlangsung sewaktu andropause juga dapat berimbas negatif terhadap fungsi saluran kemih. Prof. Harrina menguraikan, pergeseran hormonal tersebut berkaitan erat dengan melonjaknya risiko beraneka rupa keluhan.

“Perempuan ada menopause, sedangkan laki-laki ada andropause. Pada perempuan risikonya bisa mudah mengompol atau terkena infeksi saluran kemih,” katanya.

Transformasi hormonal ini sepatutnya tidak dipandang sebagai proses alamiah semata apabila telah dibersamai oleh munculnya keluhan yang mengusik stabilitas mobilitas sehari-hari.

4. Konsumsi obat-obatan dan obesitas 

Menurut Prof. Harrina, obat-obatan yang dikonsumsi oleh pasien dapat memengaruhi kinerja fungsi saluran kemih, sehingga bertindak sebagai salah satu indikator yang rutin ditelaah sewaktu pemeriksaan berjalan.

“Pasien yang sering konsumsi obat-obatan juga berpengaruh. Obesitas sering dihubungkan dengan golongan stress incontinence yang ketika batuk bisa mengompol,” jelasnya.

Pada situasi obesitas, beban tekanan yang lebih besar pada sektor panggul dapat menaikkan risiko stress incontinence, yakni merembesnya urine tanpa disadari sewaktu terbatuk, bersin, tertawa, ataupun melakoni aktivitas yang memicu naiknya tekanan di dalam perut.

Lantaran akar pemicu gangguan berkemih dapat distimulasi oleh banyak aspek, Prof. Harrina mewanti-wanti agar keluhan layaknya kerap buang air kecil, sulit membendung kencing, ataupun urine yang merembes tanpa disadari sebaiknya tidak diklaim sebagai bagian lumrah dari proses penuaan.

 Pemeriksaan semenjak dini dapat menolong dokter mendeteksi pemicu yang melandasinya, sehingga tindakan penanganan dapat diaplikasikan secara lebih akurat selaras situasi tiap-tiap pasien.

Terkini