Riset: Screen Time Berlebih pada Balita Turunkan Prestasi Belajar

Kamis, 09 Juli 2026 | 03:26:31 WIB
Bahaya Screen Time Berlebih Sejak Dini bagi Prestasi Akademik Anak [FOTO: NET].

JAKARTA - Pemberian durasi paparan layar atau screen time yang berlebihi pada anak di usia dini memiliki kaitan erat dengan merosotnya capaian prestasi akademik serta kualitas kemampuan memori kerja saat mereka beranjak ke masa kanak-kanak, merujuk pada temuan hasil penelitian teranyar.

Disadur dari halaman New York Post pada Senin (29/6), riset yang digulirkan oleh kelompok peneliti asal French National Institute of Health and Medical Research (Inserm) di Prancis yang bekerja sama dengan National University of Singapore mendapati bahwa tingginya tingkat aktivitas penggunaan layar pada fase periode perkembangan spesifik berpotensi memengaruhi kompetensi belajar anak di masa depan.

Studi ilmiah yang telah resmi diterbitkan ke dalam jurnal World of Pediatrics pada edisi April 2026 tersebut mengamati sebanyak 502 anak yang dipantau perkembangannya semenjak masa bayi hingga menginjak usia pertengahan kanak-kanak.

Berdasarkan kesimpulan hasil riset, efek buruk yang paling kentara di lapangan dijumpai pada kelompok anak yang menerima paparan screen time secara berlebih saat masih berada di usia bayi dan ketika mulai menginjak usia sekolah. 

Kemerosotan capaian prestasi akademik secara umum juga dijumpai pada kelompok anak tersebut, di mana dampak paling signifikan terjadi pada anak yang sudah terbiasa mendapatkan paparan gawai berlebih semenjak menginjak umur satu tahun.

Berdasarkan pemaparan salah satu penulis studi, fase masa bayi awal merupakan jendela periode di mana organ otak tengah mengalami proses pertumbuhan yang sangat akseleratif, sehingga menjadi jauh lebih rentan terhadap risiko berkurangnya aktivitas interaksi belajar secara tatap muka langsung akibat tersita oleh penggunaan layar.

Pihak peneliti juga mengidentifikasi bahwa aktivitas penggunaan gawai pada anak di rentang usia dua sampai tiga tahun tidak memperlihatkan adanya korelasi yang signifikan dengan penurunan kompetensi tersebut. 

Kendati demikian, hubungan korelasi itu terpantau kembali muncul ketika anak menyentuh usia sekitar enam tahun atau saat mulai menempuh jenjang pendidikan formal.

Hasil temuan tersebut diperkuat oleh studi lain yang dieksekusi oleh tim Action on Digital Device Immersive Conditions (ADDICT), yang merupakan bentuk kolaborasi dari empat perguruan tinggi di Inggris dengan disokong oleh 1,001 Critical Days Foundation. 

Riset tersebut memperlihatkan bahwa kebiasaan penggunaan layar pada anak dengan usia di bawah dua tahun berkorelasi terhadap munculnya dampak jangka panjang bagi sektor kesehatan serta kualitas hidup, mencakup risiko overstimulasi, kendala gangguan tidur, problem kesehatan organ mata, hingga potensi obesitas.

Oleh karena itu, para peneliti memberikan rekomendasi agar anak yang masih berada di bawah usia dua tahun tidak difasilitasi dengan paparan layar gawai secara rutin. 

Walau begitu, aktivitas pemakaian layar dalam koridor situasi tertentu, semisal agenda panggilan video bersama sanak keluarga atau rutinitas kegiatan belajar yang dijalani dengan pendampingan orang tua, dinilai masih bisa ditoleransi.

Terkini