Rabu, 15 Juli 2026

Rupiah Tertekan Terhadap Dolar AS, Potensi Fluktuasi Masih Tinggi Hari Ini

Rupiah Tertekan Terhadap Dolar AS, Potensi Fluktuasi Masih Tinggi Hari Ini
Rupiah Tertekan Terhadap Dolar AS, Potensi Fluktuasi Masih Tinggi Hari Ini

JAKARTA - Nilai tukar rupiah terhadap dolar AS diperkirakan bergerak fluktuatif namun cenderung melemah pada perdagangan Jumat, 13 Februari 2026. 

Rupiah Kamis ditutup pada level Rp16.828 per dolar AS, melemah 0,25 persen dari penutupan sebelumnya. Tren pelemahan ini seiring dengan penguatan indeks dolar AS yang naik 0,01 persen ke posisi 96,84.

Sementara mata uang regional lainnya menunjukkan penguatan, termasuk yen Jepang 0,23 persen, dolar Hong Kong 0,02 persen, dan dolar Singapura 0,01 persen. Dolar Taiwan menguat 0,08 persen, won Korea 0,54 persen, peso Filipina 0,32 persen, rupee India 0,12 persen, yuan China 0,14 persen, ringgit Malaysia 0,12 persen, serta baht Thailand 0,14 persen. Kinerja regional ini menandakan rupiah tertinggal di tengah pelemahan global yang memengaruhi pasar mata uang Asia.

Baca Juga

Peringkat S&P Stabil, Menkeu Purbaya Ajak Investor Borong Saham

Tekanan Fiskal Mendorong Pelemahan Rupiah

Direktur Traze Andalan Futures Ibrahim Assuaibi menilai pelemahan rupiah disebabkan oleh tekanan fiskal dalam negeri yang semakin terasa. Belanja negara yang membengkak dan kewajiban utang pemerintah yang besar menekan pasar. Selain itu, penerimaan negara diproyeksi belum sepenuhnya pasti, sehingga investor menilai rupiah rentan terhadap tekanan eksternal.

Dalam APBN 2026, belanja negara ditetapkan sebesar Rp3.842,7 triliun, naik Rp391,3 triliun dibanding realisasi 2025 yang mencapai Rp3.451,44 triliun. Porsi terbesar dari belanja ini dialokasikan untuk pembayaran bunga utang sekitar 19 persen, belum termasuk cicilan pokok. Anggaran juga disiapkan untuk program Makan Bergizi Gratis (MBG) sebesar 8,51 persen dan Kementerian Pertahanan-TNI sekitar 5 persen dari total belanja pemerintah.

Defisit Anggaran dan Tantangan Penerimaan Negara

Ibrahim menambahkan, pemerintah menargetkan defisit anggaran sebesar Rp689,14 triliun atau setara 2,68 persen dari PDB. Upaya mengejar penerimaan negara dianggap tidak mudah, sehingga kondisi fiskal memberi tekanan pada rupiah. Investor cenderung berhati-hati karena kombinasi belanja besar dan defisit fiskal berpotensi menambah risiko volatilitas mata uang domestik.

Defisit ini juga menjadi sorotan pasar obligasi, yang berdampak pada ekspektasi suku bunga domestik. Tekanan fiskal yang tinggi dapat mendorong pemerintah menyesuaikan kebijakan fiskal dan moneter, sehingga memengaruhi pergerakan rupiah terhadap dolar AS dalam jangka pendek.

Sentimen Eksternal dan Pengaruh Data AS

Dari luar negeri, rupiah juga terpengaruh sentimen global. Presiden AS Donald Trump dilaporkan melakukan pembicaraan dengan Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu terkait negosiasi dengan Iran, namun belum mencapai kesepakatan pasti. Ketidakpastian geopolitik ini memberi tekanan tambahan pada mata uang Asia, termasuk rupiah.

Selain itu, data ketenagakerjaan AS Januari yang tertunda menunjukkan pasar tenaga kerja lebih kuat dari perkiraan. Kondisi ini mengurangi urgensi pemangkasan suku bunga The Fed dalam waktu dekat, sehingga memberikan dukungan jangka pendek kepada dolar AS dan menekan rupiah.

Prospek Rupiah dan Strategi Investor

Dengan kondisi fiskal domestik yang ketat dan sentimen eksternal yang menekan, rupiah diperkirakan bergerak fluktuatif di kisaran Rp16.820–Rp16.850 per dolar AS. Investor disarankan memantau perkembangan data makro domestik dan global secara berkala sebelum mengambil keputusan transaksi.

Trader juga perlu mengantisipasi volatilitas tinggi, memanfaatkan level support dan resistance, serta mempertimbangkan hedging jika memiliki eksposur besar dalam dolar AS. Pemantauan terhadap kebijakan moneter AS dan berita geopolitik juga menjadi kunci strategi dalam menghadapi pergerakan rupiah yang masih rentan.

Imbas ke Pasar dan Aktivitas Ekonomi

Pelemahan rupiah berdampak pada harga impor, terutama komoditas yang dibayar menggunakan dolar AS, sehingga memengaruhi inflasi domestik. Perusahaan yang memiliki kewajiban utang dalam dolar juga akan merasakan beban lebih tinggi, sedangkan eksportir bisa mendapatkan keuntungan dari rupiah yang lebih lemah.

Secara keseluruhan, pergerakan rupiah hari ini menjadi cermin tekanan fiskal domestik yang bersinggungan dengan sentimen eksternal. Pelaku pasar disarankan tetap waspada, mengelola risiko, dan menyesuaikan strategi investasi untuk menghadapi potensi fluktuasi yang masih tinggi di akhir pekan ini.

Ferdi Tri Nor Cahyo

Ferdi Tri Nor Cahyo

variabisnis.com adalah media online yang menyajikan berita sektor energi dan umum secara lengkap, akurat, dan tepercaya.

Rekomendasi

Berita Lainnya

OJK Dorong Penguatan GRC di Industri Keuangan demi Ketahanan Nasional

OJK Dorong Penguatan GRC di Industri Keuangan demi Ketahanan Nasional

Likuiditas Jadi Fokus, DPK Bank Danamon Tetap Sesuai Target

Likuiditas Jadi Fokus, DPK Bank Danamon Tetap Sesuai Target

Kemenko Perekonomian: Bank Emas Nasional Himpun 153 Ton Emas

Kemenko Perekonomian: Bank Emas Nasional Himpun 153 Ton Emas

OJK: Rating S&P Sinyal Positif Fundamental Ekonomi RI Terjaga

OJK: Rating S&P Sinyal Positif Fundamental Ekonomi RI Terjaga

Menkeu Purbaya Pastikan Tak Naikkan Tarif Pajak Jangka Menengah

Menkeu Purbaya Pastikan Tak Naikkan Tarif Pajak Jangka Menengah