Senin, 23 Maret 2026

Bank Indonesia Turunkan Suku Bunga Dasar Kredit untuk Dorong Pertumbuhan Kredit Perbankan

Bank Indonesia Turunkan Suku Bunga Dasar Kredit untuk Dorong Pertumbuhan Kredit Perbankan
Bank Indonesia Turunkan Suku Bunga Dasar Kredit untuk Dorong Pertumbuhan Kredit Perbankan

JAKARTA - Bank Indonesia menurunkan Suku Bunga Dasar Kredit (SBDK) secara agregat menjadi 9,06% per Desember 2025. Penurunan sebesar lima basis poin ini dipengaruhi oleh turunnya biaya dana perbankan.

Likuiditas perbankan yang semakin membaik menjadi faktor utama penurunan SBDK. Pertumbuhan kredit perbankan tercatat sebesar 9,6% (yoy) pada Desember 2025, sementara Januari 2026 tumbuh 10,2% (yoy).

Kontribusi Penurunan SBDK Berdasarkan Kelompok Bank

Baca Juga

BRI Dirikan Posko Mudik BRImo 2026 di 5 Rest Area Tol Jawa, Hadirkan Layanan Istirahat, Kesehatan, dan Promo untuk Pemudik Lebaran

Penurunan SBDK secara agregat didorong oleh kelompok bank BUMN dan Bank Umum Swasta Nasional (BUSN). SBDK BUMN turun 7 bps menjadi 9,40%, sedangkan BUSN turun 6 bps menjadi 8,59%.

Sebaliknya, Bank Pembangunan Daerah (BPD) mengalami kenaikan SBDK sebesar 15 bps menjadi 9,96%. Kantor Cabang Bank Asing (KCBA) juga meningkat 2 bps menjadi 4,99%, menunjukkan perbedaan respons terhadap risiko kredit antar bank.

Faktor Biaya Dana dan Likuiditas Perbankan

BI mencatat biaya dana per Desember 2025 turun 3,35% secara bulanan. Penurunan ini mencerminkan meredanya tekanan pendanaan serta menurunnya persaingan suku bunga antar bank.

Likuiditas perbankan yang solid menjadi indikator tren positif dalam pertumbuhan kredit. Penurunan SBDK diharapkan mendorong bank meningkatkan pemberian kredit ke sektor riil secara lebih optimal.

Implikasi Penurunan SBDK Terhadap Pasar Kredit

Penurunan SBDK memberikan sinyal positif bagi pelaku usaha dan masyarakat yang memerlukan pembiayaan. Biaya kredit yang lebih rendah diharapkan mendorong investasi dan konsumsi, sekaligus memperkuat stabilitas sektor perbankan.

Perbedaan perubahan SBDK antar kelompok bank perlu diperhatikan investor dan nasabah. Hal ini menunjukkan risiko kredit dan strategi penanganan masing-masing bank berbeda, sehingga memengaruhi biaya pinjaman yang diterima debitur.

Prospek Pertumbuhan Kredit dan Stabilitas Perbankan

Dengan tren likuiditas membaik dan penurunan biaya dana, pertumbuhan kredit diperkirakan akan tetap solid. BI menegaskan langkah ini sejalan dengan upaya menjaga stabilitas sistem keuangan dan mendukung pertumbuhan ekonomi nasional.

Penurunan SBDK di tengah pertumbuhan kredit yang meningkat menjadi momentum bagi bank untuk memperluas portofolio kreditnya. Kebijakan ini diharapkan memacu penyaluran kredit yang lebih efisien dan kompetitif di seluruh segmen pasar.

Nathasya Zallianty

Nathasya Zallianty

variabisnis.com adalah media online yang menyajikan berita sektor energi dan umum secara lengkap, akurat, dan tepercaya.

Rekomendasi

Berita Lainnya

BNI Tambah Fasilitas Kredit Rp10 Triliun ke Pegadaian, Total Pembiayaan Tembus Rp25,1 Triliun untuk Perkuat Akses Pendanaan Nasional

BNI Tambah Fasilitas Kredit Rp10 Triliun ke Pegadaian, Total Pembiayaan Tembus Rp25,1 Triliun untuk Perkuat Akses Pendanaan Nasional

Jadwal Lengkap Operasional Bank BCA Saat Libur Nyepi dan Lebaran 2026, Ini Daftar Layanan Cabang yang Tetap Buka

Jadwal Lengkap Operasional Bank BCA Saat Libur Nyepi dan Lebaran 2026, Ini Daftar Layanan Cabang yang Tetap Buka

Bank Indonesia Catat Penukaran Uang Baru Jelang Lebaran 2026 Naik 85,4 Persen, Layanan Diperluas Hingga Ribuan Titik

Bank Indonesia Catat Penukaran Uang Baru Jelang Lebaran 2026 Naik 85,4 Persen, Layanan Diperluas Hingga Ribuan Titik

Harga Emas Antam di Pegadaian 17 Maret 2026 Turun Rp5.000, Simak Daftar Jual dan Buyback

Harga Emas Antam di Pegadaian 17 Maret 2026 Turun Rp5.000, Simak Daftar Jual dan Buyback

Update Harga Buyback Emas Antam 17 Maret 2026, Cocok untuk Investor dan Pemula

Update Harga Buyback Emas Antam 17 Maret 2026, Cocok untuk Investor dan Pemula