Minggu, 12 Juli 2026

Pengamat: Defisit APBN Semester I Belum Cukup Menopang Stabilitas Rupiah

Pengamat: Defisit APBN Semester I Belum Cukup Menopang Stabilitas Rupiah
Defisit APBN Masih Terkendali, Pengamat: Belum Cukup Perkuat Rupiah [FOTO: NET].

JAKARTA - Pengamat dari Departemen Ekonomi Universitas Andalas Padang, Syafruddin Karimi, berpendapat bahwa defisit Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) sebesar 0,76 persen terhadap produk domestik bruto (PDB) pada semester I 2026 menjadi indikator bahwa kondisi fiskal Indonesia saat ini masih dalam kendali. Walau begitu, kondisi ini dianggap belum memadai untuk menjadi penopang utama stabilitas nilai tukar rupiah.

"Defisit 0,76 persen PDB memang menunjukkan kondisi fiskal masih terkendali, tetapi stabilitas rupiah tidak cukup ditopang oleh angka defisit semester pertama saja," kata Syafruddin, Minggu (12/7/2026).

Menurut Syafruddin, penguatan nilai tukar rupiah tidak semata-mata bertumpu pada rendahnya defisit APBN. Stabilitas kurs juga dipengaruhi oleh perpaduan berbagai aspek, mulai dari kedisiplinan fiskal, kredibilitas pembiayaan, kecukupan cadangan devisa, ketegasan kebijakan moneter, hingga kepercayaan pasar terhadap arah kebijakan ekonomi pemerintah.

Baca Juga

BRI Terapkan Aturan Baru Rekening Aktif dan Dormant, Ini Rinciannya

Ia menjelaskan bahwa APBN dapat berfungsi sebagai penyangga stabilitas rupiah jika pemerintah mampu menjaga pelebaran defisit. Lebih lanjut, pemerintah diharapkan dapat menekan ketidakpastian terkait subsidi serta mengelola penerbitan surat utang negara (SBN) agar tidak memicu kenaikan imbal hasil (yield).

 Syafruddin juga menekankan pentingnya pemerintah memberikan sinyal yang meyakinkan kepada pasar bahwa tambahan belanja negara hanya akan dialokasikan untuk program-program produktif yang mampu memacu pertumbuhan ekonomi.

Ia memperingatkan bahwa defisit yang terlihat rendah di semester pertama bisa kehilangan maknanya apabila proyeksi APBN hingga akhir tahun justru mendekati batas 3 persen PDB, akibat belanja negara yang melampaui pagu di saat penerimaan negara melemah.

Meski posisi fiskal Indonesia saat ini dinilai cukup kuat untuk menyangga stabilitas rupiah, kekuatan tersebut hanya akan bertahan jika pemerintah mampu menjaga kredibilitas pengelolaan APBN hingga tutup tahun, bukan sekadar menunjukkan kinerja baik di paruh pertama.

"Sebaliknya, defisit yang tampak rendah pada semester pertama dapat kehilangan makna jika outlook akhir tahun mendekati 3 persen PDB akibat belanja melampaui pagu dan penerimaan melemah," tuturnya.

Sukirno

Sukirno

variabisnis.com adalah media online yang menyajikan berita sektor energi dan umum secara lengkap, akurat, dan tepercaya.

Rekomendasi

Berita Lainnya

Harga Emas Antam Sabtu Ini Naik Rp5.000 Jadi Rp2,655 Juta per Gram

Harga Emas Antam Sabtu Ini Naik Rp5.000 Jadi Rp2,655 Juta per Gram

OJK: RGS 2026 Perkuat Tata Kelola untuk Pertumbuhan Berkelanjutan

OJK: RGS 2026 Perkuat Tata Kelola untuk Pertumbuhan Berkelanjutan

Harga Emas Tiga Jenama di Pegadaian Sabtu Ini: Antam Rp2.762.000

Harga Emas Tiga Jenama di Pegadaian Sabtu Ini: Antam Rp2.762.000

Meredanya Ketegangan AS-Iran Dorong Penguatan Rupiah Hari Ini

Meredanya Ketegangan AS-Iran Dorong Penguatan Rupiah Hari Ini

Update Harga Emas Antam di Pegadaian, Jumat 10 Juli 2026

Update Harga Emas Antam di Pegadaian, Jumat 10 Juli 2026