Sabtu, 11 Juli 2026

Dampak Suku Bunga & Rupiah Lesu, Strategi Summarecon (SMRA)

Dampak Suku Bunga & Rupiah Lesu, Strategi Summarecon (SMRA)
PT Summarecon Agung Tbk. (SMRA). (Foto: NET)

JAKARTA — Tren peningkatan suku bunga acuan Bank Indonesia di saat nilai tukar rupiah tertekan, dipandang menciptakan tekanan ganda terhadap performa PT Summarecon Agung Tbk. (SMRA). 

Direktur Summarecon, Lydia Tjio, menjelaskan bahwa lonjakan suku bunga acuan berdampak pada berbagai komponen biaya pendanaan, mulai dari suku bunga kredit perumahan (KPR), pinjaman bank, hingga biaya material bahan baku. 

Situasi ini diperumit oleh ketegangan geopolitik global serta pelemahan rupiah yang terus berlanjut.

Baca Juga

Siasati Ketergantungan Figur, Raffi Ahmad Ubah RANS Jadi Institusi IP

Meskipun demikian, perusahaan masih terus memantau langkah dan kebijakan lanjutan dari pemerintah di tengah volatilitas mata uang saat ini. 

“Kami juga berusaha di dalam internal perusahaan, akan cukup mengelola dengan prudent. Segala pengeluaran, efisiensi akan kami lakukan dalam segala bidang,” ujarnya dalam sesi paparan publik SMRA, Kamis (11/6/2026).

Sejalan dengan hal tersebut, Presiden Direktur Summarecon, Adrianto Pitojo Adi, menyampaikan bahwa meski kenaikan suku bunga berpotensi meningkatkan biaya pinjaman dan KPR, kebijakan ini sekaligus memberikan penguatan bagi rupiah. 

Pihak manajemen menaruh optimisme bahwa pemerintah akan kembali merilis insentif untuk memitigasi risiko dari kenaikan suku bunga tersebut. 

“Sehingga ketika keluar kebijakan bagus tapi ada sisi lemahnya, Sumamrecon yakin sekali bahwa pemerintah akan bisa mengatasi itu,” ucapnya.

Manajemen SMRA mengungkapkan bahwa selama periode Januari hingga Mei 2026, perseroan tetap memprioritaskan penjualan bagi segmen menengah dan menengah atas, yang dinilai memiliki daya tahan ekonomi lebih kuat.

Sepanjang kuartal I/2026, SMRA membukukan pendapatan sebesar Rp2,23 triliun, tumbuh 6,1% dari Rp2,10 triliun pada periode yang sama tahun lalu. Namun, laba bersih yang diatribusikan kepada pemilik entitas induk tercatat sebesar Rp189,76 miliar, turun 20,3% dari Rp238,22 miliar di tahun sebelumnya.

Adhi menambahkan bahwa perseroan terus fokus pada pengembangan sembilan kawasan township sepanjang tahun ini. Perusahaan berharap daya beli masyarakat, khususnya di segmen menengah, dapat berangsur pulih. 

“Kami berharap pada tahun ini akan adanya pemulihan daya beli di segmen kelas menengah yang sebelumnya menghadapi tantangan,” tambahnya.

Arjun Septa Aji

Arjun Septa Aji

variabisnis.com adalah media online yang menyajikan berita sektor energi dan umum secara lengkap, akurat, dan tepercaya.

Rekomendasi

Berita Lainnya

Kredit Kendaraan Listrik di MUF Tumbuh Positif, Capai Rp3,5 Triliun

Kredit Kendaraan Listrik di MUF Tumbuh Positif, Capai Rp3,5 Triliun

IPO di Bursa Efek Indonesia, Saham RANS Langsung Tembus ARA

IPO di Bursa Efek Indonesia, Saham RANS Langsung Tembus ARA

Perkuat Kapasitas Petani, Syngenta Indonesia Gandeng KTNA

Perkuat Kapasitas Petani, Syngenta Indonesia Gandeng KTNA

BSI dan BPJS Ketenagakerjaan Kolaborasi Buka Akses KPR Syariah 30 Tahun untuk Jutaan Pekerja

BSI dan BPJS Ketenagakerjaan Kolaborasi Buka Akses KPR Syariah 30 Tahun untuk Jutaan Pekerja

Sukses Naikkan Skor ESG FTSE Russell, AVIA Masuk Top 12% Global

Sukses Naikkan Skor ESG FTSE Russell, AVIA Masuk Top 12% Global