Viral Diet Tayyibat untuk Penyakit Kronis, Dokter Ingatkan Risikonya
- Selasa, 16 Juni 2026
JAKARTA – Metode diet Tayyibat tengah menjadi topik perbincangan hangat di sejumlah negara kawasan Timur Tengah usai diklaim sanggup membantu menangani aneka penyakit kronis semata-mata lewat pengaturan menu makanan.
Akan tetapi, pada saat bersamaan, lembaga kesehatan di Arab Saudi serta Mesir malah menerbitkan peringatan keras terhadap penerapan pola makan tersebut. Diambil dari The National News (5/6/2026) dan Gulf News (8/6/2026), tren diet ini menjadi viral di jagat media sosial lantaran dinilai menyajikan metode alami guna memulihkan kesehatan fisik tanpa perlu bergantung pada konsumsi obat-obatan.
Walau begitu, para pejabat kesehatan mengingatkan bahwa mempraktikkan pola makan itu tanpa adanya pengawasan dari tenaga medis bisa mendatangkan risiko serius, khususnya untuk penderita penyakit kronis.
Baca Juga
Apa itu diet Tayyibat?
Diet Tayyibat atau nizam el tayyibat dipahami sebagai "sistem makanan baik". Aturan makan ini dipopulerkan oleh seorang dokter asal Mesir, Diaa El Awady, yang sebelumnya berprofesi di bidang anestesi serta perawatan intensif sebelum akhirnya bertransformasi menjadi sosok populer di ranah nutrisi terapeutik.
Melalui konsepnya, bahan makanan dikelompokkan menjadi dua klasifikasi, yakni bahan makanan yang dipandang "baik" (tayyibat) dan bahan makanan yang dipandang "buruk" (khabithat).
Para pendukung metode diet ini memercayai bahwa bermacam penyakit kronis bisa membaik dengan cara membenahi kondisi sistem pencernaan serta menjauhi makanan yang dirasa memicu inflamasi.
Pola diet tersebut merekomendasikan konsumsi daging sapi serta kambing, kentang, nasi, buah kurma, pisang, anggur, keju jenis tertentu, hingga lemak hewani. Sebaliknya, sejumlah komoditas pangan yang umumnya dinilai sehat malah dibatasi atau dijauhi.
Banyak makanan bergizi justru dibatasi
Diet Tayyibat melarang atau membatasi secara ketat konsumsi telur, daging ayam, susu segar, yoghurt, bermacam varian ikan serta hidangan laut, sayur-sayuran hijau, tomat, bawang, hingga kelompok kacang-kacangan layaknya lentil dan kacang merah.
Hidangan pasta, sebagian besar produk yang berbahan dasar tepung gandum, serta minuman ringan juga masuk ke dalam deretan menu yang tidak direkomendasikan.
Pihak pendukung metode diet ini menganggap bahwa pembatasan tersebut bisa berkontribusi dalam "menenangkan" saluran pencernaan sehingga fisik mampu meregenerasi dirinya sendiri. Akan tetapi, strategi tersebut memicu kekhawatiran besar di kalangan praktisi kesehatan.
Arab Saudi keluarkan peringatan
Kementerian Kesehatan Arab Saudi membeberkan fakta bahwa sejumlah pasien terpaksa dilarikan ke unit perawatan intensif pasca memutuskan berhenti menggunakan insulin dan berpindah ke pola makan yang tidak mempunyai landasan ilmiah kuat.
Melalui pernyataan resmi yang dikutip Gulf News, kementerian tersebut menegaskan bahwa belum ada bukti ilmiah memadai guna menyokong pemanfaatan diet Tayyibat sebagai opsi pengganti pengobatan medis yang sudah diinstruksikan oleh dokter.
Pihak kementerian pun mewanti-wanti bahwa menghentikan atau mengikis dosis obat diabetes tanpa adanya konsultasi dengan dokter dapat memicu komplikasi fatal yang mengancam keselamatan jiwa.
Dikhawatirkan memicu kekurangan gizi
Di samping bahaya nyata akibat penyetopan obat-obatan, otoritas medis juga menyoroti potensi timbulnya defisit zat gizi.
Kementerian Kesehatan Arab Saudi mengutarakan bahwa mengeliminasi kelompok makanan penting tanpa adanya alasan medis yang valid dapat memicu defisiensi nutrisi yang sejatinya diperlukan oleh tubuh untuk menjalankan fungsi standarnya.
Kekhawatiran yang serupa pun muncul di negara Mesir. Pakar gizi beserta dokter spesialis endokrin melayangkan peringatan bahwa pola diet Tayyibat berpeluang memangkas konsumsi protein, kalsium, zat besi, serta aneka vitamin esensial.
Di sisi lain, metode diet ini malah mendorong konsumsi beberapa pasokan gula serta pati dalam jumlah yang tergolong besar.
Para ahli juga mencemaskan adanya peluang pasien diabetes, hipertensi, maupun gangguan ginjal menghentikan konsumsi obat-obatan mereka lantaran telanjur meyakini bahwa pengaturan makanan saja sudah memadai untuk mengontrol penyakit tersebut.
Tetap populer di media sosial
Walaupun telah memperoleh peringatan dari lembaga kesehatan resmi, tingkat popularitas dari diet Tayyibat belum memperlihatkan tanda-tanda akan merosot.
Di bermacam grup Telegram serta platform media sosial layaknya TikTok, para anggotanya masih gencar menyebarkan pengalaman pribadi mereka, termasuk klaim seputar peningkatan mutu tidur, penambahan energi, hingga perbaikan kondisi gangguan kesehatan tertentu.
Fenomena tersebut bahkan memicu lahirnya restoran serta bisnis kuliner yang secara spesifik menjajakan hidangan yang selaras dengan prinsip diet Tayyibat.
Di tengah pusaran kontroversi itu, pihak otoritas kesehatan di Arab Saudi menegaskan kembali bahwa pola makan yang sehat semestinya bersandar pada aspek keseimbangan, keberagaman, serta panduan nutrisi yang berbasis pada bukti ilmiah, bukan berdasarkan klaim kesehatan yang belum teruji kebenarannya.
Andika Riyan Satriya Nugraha
variabisnis.com adalah media online yang menyajikan berita sektor energi dan umum secara lengkap, akurat, dan tepercaya.












