Sabtu, 11 Juli 2026

Studi Ungkap Bayi Bisa Berbohong Sejak Dini, Wajarkah?

Studi Ungkap Bayi Bisa Berbohong Sejak Dini, Wajarkah?
Bayi Mulai Berbohong Sejak Usia 8 Bulan, Ini Kata Ahli [FOTO: NET].

JAKARTA - Aktivitas berbohong rasanya jarang disangkutpautkan dengan sosok bayi ataupun balita karena mereka kerap diibaratkan seperti lembaran kertas putih yang bersih dan jujur. Akan tetapi, sebuah penelitian bertajuk "The Early Deception Survey (EDS): Its psychometric properties in children aged 10–47 months" yang dipublikasikan dalam jurnal Cognitive Development (2026) menunjukkan hasil yang kontras.

 Mengutip laporan Parents, Jumat (3/7/2026), seorang anak rupanya telah mampu mendeteksi serta mempraktikkan kebohongan pada usia yang amat muda, bahkan sejak menginjak umur delapan bulan.

Sanam Hafeez, PsyD, seorang pakar neuropsikologi sekaligus direktur Comprehend the Mind, menjelaskan bahwa fenomena ini bukan menandakan si kecil memiliki sifat yang culas. 

Baca Juga

Deretan Aksi Romantis Travis Kelce untuk Taylor Swift

Tahapan tersebut murni menjadi masa bagi anak untuk mulai mengenali esensi dari kebohongan. "Kami tidak membicarakan 'kebohongan' yang direncanakan di sini, seperti yang mungkin dikarang oleh anak-anak kami yang lebih besar dan remaja," kata dia.

Memahami Konsep Kebohongan pada Bayi

Apa sebetulnya arti dari kebohongan di usia awal pertumbuhan? Tim peneliti mengartikan kebohongan usia dini sebagai sebuah perbuatan yang sengaja keliru dilakukan demi menghindari imbas negatif atau demi memperoleh profit yang berwujud materi.

"Definisi berbohong ini mungkin cocok untuk balita atau anak prasekolah," kata psikolog klinis berlisensi di Phoenix Children’s, Emma Murray, PhD. "Tapi bagi bayi, perilaku tersebut kemungkinan besar hanyalah asumsi orangtua semata, bukan berarti bayinya benar-benar sengaja berbohong," lanjut dia.

Aksi tipu-tipu pada fase ini tergolong sangat simpel. Sebagai gambaran, seorang bayi berpura-pura menangis keras supaya Anda bersedia mendekat dan menggendongnya, tetapi ia akan langsung terdiam begitu berada di dekapan. 

Contoh lainnya adalah anak balita yang mendadak menyembunyikan permen saat mendeteksi kehadiran bapak atau ibunya, hingga anak umur dua tahun yang mulutnya masih belepotan sisa cokelat namun tetap bersikeras mengelak telah memakannya. Polah tersebut dikategorikan sangat lumrah.

"Orangtua sering terkejut saat saya meyakinkan mereka bahwa ini normal. Manipulatif? Mungkin. Tapi ini juga tentang anak yang belajar bagaimana memperhitungkan apa yang diketahui atau tidak diketahui orang lain, dan mendasarkan tindakan mereka dari pengetahuan itu," ungkap Hafeez.

Analisis Riset Perilaku Menipu pada Bayi dan Balita

Dalam riset teranyar itu, tim peneliti mengumpulkan data survei dari 750 lebih orangtua mengenai riwayat kebohongan yang dilakukan oleh buah hati mereka. 

Lingkup observasi ini menyasar anak usia 0 hingga 47 bulan. Data konkret riset ini murni mengacu pada kesaksian dari orangtua, bukan lewat pengawasan orisinal terhadap gerak-gerik sang anak secara langsung.

Menurut pandangan Murray, metode survei semacam ini memang berfaedah guna membaca sebuah pola, namun hasil akhirnya cenderung sukar untuk diimplementasikan secara riil pada kehidupan nyata.

 "Apalagi pada bayi, di mana perilaku dan niat asli mereka memang sangat sulit dipastikan dan diukur," ucap dia.

Di samping memaparkan temuan perihal pemahaman manipulasi pada umur delapan bulan, kajian ilmiah tersebut turut memprediksikan bahwa 25 persen anak diduga sudah mengerti arti kebohongan di usia 18 bulan, serta mulai bereksperimen mempraktikkannya saat menyentuh usia 16 bulan.

Kebohongan sebagai Indikator Perkembangan Otak

Apa alasan yang membuat balita terkadang tidak jujur? Sikap ini bukanlah sebuah siasat buruk, melainkan bagian alami dari jenjang tumbuh kembang anak. 

"Sebagai ahli, saya melihat bahwa kebohongan pada bayi sebenarnya adalah tanda perkembangan otak yang sehat, bukan perilaku bermasalah. Penelitian ini sangat penting karena berhasil meluruskan pandangan tersebut," tutur Hafeez.

Langkah coba-coba yang ditunjukkan bayi mengonfirmasi bahwa inteligensi sosial mereka sudah aktif jauh lebih awal daripada perkiraan para ilmuwan. Molly O’Shea, MD, selaku dokter spesialis anak dan pengamat pola asuh, mengamini pandangan itu. 

Demi bisa mengelabui orang lain, seorang anak dituntut untuk menyadari bahwa ada info yang ia simpan sendiri, lalu ia harus menerka bagaimana cara Anda akan merespons tindakannya.

 Menurut dr. O'Shea, proses berpikir semacam ini terhitung sangat maju bagi kapasitas anak yang baru menginjak usia satu atau dua tahun.

Mendapati buah hati yang masih balita mulai tidak jujur sejatinya tidak perlu memicu kecemasan mendalam bagi orangtua, melainkan justru dapat disikapi secara bijak sebab polah manipulatif tersebut adalah hal wajar.

 "Hal ini penting, karena reaksi orang dewasa terhadap perilaku anak akan membentuk rasa percaya mereka yang sedang berkembang," papar Hafeez.

Andika Riyan Satriya Nugraha

Andika Riyan Satriya Nugraha

variabisnis.com adalah media online yang menyajikan berita sektor energi dan umum secara lengkap, akurat, dan tepercaya.

Rekomendasi

Berita Lainnya

Waspada Batuk Kronik Berulang pada Anak akibat Polusi Udara

Waspada Batuk Kronik Berulang pada Anak akibat Polusi Udara

Sering Mengompol Saat Hamil, Normal atau Bahaya? Ini Kata Ahli

Sering Mengompol Saat Hamil, Normal atau Bahaya? Ini Kata Ahli

Bahaya Gula Tambahan Bisa Bikin Anak Kecanduan Manis

Bahaya Gula Tambahan Bisa Bikin Anak Kecanduan Manis

Inhaler vs Nebulizer untuk Asma Anak, Mana Lebih Efektif?

Inhaler vs Nebulizer untuk Asma Anak, Mana Lebih Efektif?

Ramalan Zodiak 6-12 Juli 2026: Saatnya Realistis Kejar Target

Ramalan Zodiak 6-12 Juli 2026: Saatnya Realistis Kejar Target