Rabu, 08 Juli 2026

Rupiah Menguat ke Rp17.797 di Tengah Sentimen Damai AS-Iran

Rupiah Menguat ke Rp17.797 di Tengah Sentimen Damai AS-Iran
Sentimen Damai AS-Iran Bawa Rupiah Ditutup Menguat ke Rp17.797 [FOTO : NET].

JAKARTA — Nilai tukar rupiah berakhir menguat terhadap dolar Amerika Serikat di angka Rp17.797 per dolar AS pada penutupan perdagangan akhir pekan, Jumat (19/6/2026). Merujuk data RTI Infokom, rupiah menguat 0,24% menuju level Rp17.797 per dolar AS. 

Di sisi lain, pergerakan mata uang Asia Pasifik cenderung variatif. Yuan China turun 0,32%, dolar Hong Kong melemah 0,01%, dan yen Jepang menguat 0,06%. Sementara itu, won Korea Selatan naik 0,68%, dolar Singapura terdepresiasi 0,09%, baht Thailand turun 0,18%, dan dolar Taiwan melemah 0,02%.

Pengamat mata uang dan komoditas Ibrahim Assuaibi sentimen pasar telah membaik secara signifikan sejak Washington dan Teheran menandatangani kesepakatan sementara yang bertujuan untuk mengakhiri permusuhan dan memulihkan navigasi komersial melalui Selat Hormuz, jalur air vital yang biasanya mengangkut sekitar seperlima pengiriman minyak global.

Baca Juga

Fokus Dana Murah dan Digital, Laba BRIS Melaju hingga Mei 2026

Kesepakatan tersebut telah meningkatkan harapan bahwa jutaan barel minyak mentah yang terdampar secara bertahap dapat kembali ke pasar internasional dalam beberapa minggu dan bulan mendatang. 

AS menyatakan telah mencabut blokade terhadap Iran pada hari Kamis seiring berlakunya kesepakatan sementara tersebut. Laporan menyebutkan, kapal-kapal pembawa minyak yang sempat tertahan mulai keluar dari jalur air itu pada Kamis.

Di sisi lain, sembilan dari 19 pembuat kebijakan The Fed memprediksi setidaknya ada satu kenaikan suku bunga tahun ini, yang memperkuat ekspektasi bahwa biaya pinjaman akan tetap tinggi dalam durasi lebih panjang. 

Meski The Fed menahan suku bunga pada Rabu, komentar Ketua Kevin Warsh dianggap pasar sangat agresif, yang kemudian menaikkan imbal hasil obligasi pemerintah serta mendorong dolar AS ke level terkuatnya dalam setahun terakhir.

Dari dalam negeri, menurut Ibrahim sentimen muncul dari keputusan Morgan Stanley Capital International (MSCI) terkait peringkat kriteria arus informasi. Lembaga tersebut menetapkan peringkat kriteria arus informasi (information flow) Indonesia menjadi negatif dalam laporan 2026 Global Market Accessibility Review.

Keputusan itu diambil menyusul kekhawatiran MSCI mengenai transparansi struktur kepemilikan saham serta adanya indikasi perdagangan semu atau terkoordinasi di pasar saham domestik. 

Namun, MSCI tetap mempertahankan posisi Indonesia sebagai negara berkembang atau Emerging Market berkat keunggulan pada aspek keterbukaan pasar.

Hal ini menjadi faktor pendukung MSCI tetap mempertahankan Indonesia di kelas negara berkembang, setelah sempat muncul sinyal penurunan kelas, sehingga memicu optimisme pasar bahwa arus modal asing akan kembali masuk ke pasar keuangan Indonesia. 

Adapun Ibrahim memproyeksikan rupiah akan melemah pada perdagangan Senin depan di rentang Rp17.800–Rp17.850, sementara untuk sepekan ke depan berada pada kisaran Rp17.500–Rp18.000 per dolar AS.

Andika Riyan Satriya Nugraha

Andika Riyan Satriya Nugraha

variabisnis.com adalah media online yang menyajikan berita sektor energi dan umum secara lengkap, akurat, dan tepercaya.

Rekomendasi

Berita Lainnya

Suku Bunga Tinggi Jadi Pemicu Maraknya IPO pada Semester II/2026

Suku Bunga Tinggi Jadi Pemicu Maraknya IPO pada Semester II/2026

OJK Catat Kredit Perbankan Mei 2026 Tumbuh 11,51 Persen

OJK Catat Kredit Perbankan Mei 2026 Tumbuh 11,51 Persen

Uang Primer Indonesia Tembus Rp2.228 Triliun per Juni 2026

Uang Primer Indonesia Tembus Rp2.228 Triliun per Juni 2026

Rupiah Hari Ini Diprediksi Tertekan di Rentang Rp17.950-Rp18.050

Rupiah Hari Ini Diprediksi Tertekan di Rentang Rp17.950-Rp18.050

Sore Ini, Rupiah Ditutup Menguat 0,11 Persen ke Level Rp17.975

Sore Ini, Rupiah Ditutup Menguat 0,11 Persen ke Level Rp17.975