Senin, 13 Juli 2026

Surplus Produksi, Peternak Jateng Andalkan Program MBG Jaga Harga

Surplus Produksi, Peternak Jateng Andalkan Program MBG Jaga Harga
Harga Telur di Jateng Anjlok, Peternak Berharap Penyerapan Program MBG [FOTO N: NET].

JAKARTA - Peternak unggas di Jawa Tengah kini menggantungkan harapan pada program Makan Bergizi Gratis (MBG) sebagai solusi penyeimbang harga telur. Saat ini, harga telur di tingkat peternak masih berada di bawah Harga Acuan Pembelian (HAP) pemerintah akibat surplus produksi yang tinggi dan menurunnya daya beli masyarakat.

Ketua Koperasi Peternak Unggas Sejahtera (KPUS) Jawa Tengah, Suwardi, menjelaskan bahwa provinsi ini memiliki populasi ayam petelur sekitar 39 juta ekor. Produksi harian mencapai 2.200 ton, sementara kebutuhan pasar hanya 1.400 ton.

"Kami masih surplus. Jawa Tengah diprediksi menjadi produsen telur terbesar kedua secara nasional dengan populasi ayam petelur sekitar 39 juta ekor," kata Suwardi usai rapat koordinasi penyerapan telur dan ayam untuk program MBG di Kantor Gubernur Jateng, Jumat (19/6/2026).

Baca Juga

Capaian Sensus Ekonomi 2026: Nasional 40%, Papua Pegunungan Terendah

Pemerintah daerah, Badan Gizi Nasional (BGN), serta asosiasi terkait telah menyepakati peningkatan penggunaan telur dalam menu MBG. 

Dengan adanya sekitar 4.000 Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) di Jawa Tengah, penyerapan telur diproyeksikan mencapai 1.050 ton per minggu.

"Kalau seluruh dapur SPPG di Jawa Tengah menggunakan telur dua kali dalam seminggu, diperkirakan terserap sekitar 1.050 ton per minggu. Ini akan sangat membantu sebagai penyeimbang harga di pasar," ujarnya.

Meskipun HAP pemerintah berada di kisaran Rp25.000 hingga Rp26.500 per kilogram, banyak peternak lokal saat ini terpaksa menjual telur di harga Rp22.000 hingga Rp23.000 per kilogram.

"Kebetulan telur yang saya suplai masih dihargai Rp 26.000 per kilogram. Tetapi teman-teman peternak yang lain ada yang menjual Rp 22.000 sampai Rp 23.000 per kilogram," katanya.

Terkait melemahnya harga, Suwardi menambahkan, "Kalau ekonomi melemah dan daya beli turun, barang apa pun cenderung lebih murah. Apalagi produksinya sedang melimpah," ujarnya. 

Sebagai langkah antisipasi, ia meminta agar pengelola SPPG memprioritaskan pasokan dari peternak lokal. "Jangan sampai produksi dari luar daerah masuk dalam jumlah besar sementara kami sendiri sedang surplus. Kalau itu terjadi, harga telur peternak lokal akan semakin tertekan," katanya.

Kondisi serupa juga dialami peternak ayam pedaging. Ketua Pinsar Jawa Tengah, Susilo, mengungkapkan bahwa harga ayam hidup saat ini berada di kisaran Rp17.000, masih jauh di bawah Harga Pokok Penjualan (HPP) yang mencapai Rp20.000.

“HPP saat ini sekitar Rp20.000. Harga yang terjadi sekitar Rp17.000, sehingga peternak mengalami kerugian. Ini karena terjadi over supply,” ucap dia.

Andika Riyan Satriya Nugraha

Andika Riyan Satriya Nugraha

variabisnis.com adalah media online yang menyajikan berita sektor energi dan umum secara lengkap, akurat, dan tepercaya.

Rekomendasi

Berita Lainnya

Risiko Fiskal Menanti, Pemerintah Diminta Evaluasi Mandatori B50

Risiko Fiskal Menanti, Pemerintah Diminta Evaluasi Mandatori B50

Dukung Swasembada Pangan, Lima Bendungan Baru Resmi Beroperasi

Dukung Swasembada Pangan, Lima Bendungan Baru Resmi Beroperasi

Dermaga Minim, Gapasdap: Kapal Penyeberangan Jawa-Bali Menganggur

Dermaga Minim, Gapasdap: Kapal Penyeberangan Jawa-Bali Menganggur

Dekopin Berkomitmen Modernisasi Koperasi Lewat Regenerasi Gen Z

Dekopin Berkomitmen Modernisasi Koperasi Lewat Regenerasi Gen Z

Kemenekraf Jajaki Kolaborasi Strategis dengan Pusat Perbelanjaan

Kemenekraf Jajaki Kolaborasi Strategis dengan Pusat Perbelanjaan