Rabu, 08 Juli 2026

Proyeksi Rupiah Senin 22 Juni 2026: Dampak Kebijakan The Fed

Proyeksi Rupiah Senin 22 Juni 2026: Dampak Kebijakan The Fed
Rupiah Awal Pekan: Analisis Proyeksi di Tengah Sentimen The Fed [FOTO : NET].

JAKARTA - Nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) kembali melemah pada Jumat (19/6/2026). Melansir Bloomberg, rupiah di pasar spot terkoreksi 0,06% secara harian ke level Rp17.804 per dolar AS. Berdasarkan data Jisdor Bank Indonesia (BI), rupiah berada di posisi Rp17.826 per dolar AS, angka yang sama dengan penutupan perdagangan sebelumnya pada 18 Juni 2026.

Presiden Komisaris HFX International Berjangka, Sutopo Widodo menuturkan bahwa di awal pekan nanti, pasar diprediksi masih akan merespons dampak keputusan FOMC (Federal Reserve) yang baru saja diumumkan. 

Mengingat adanya sinyal hawkish dari The Fed—di mana sekitar separuh anggota FOMC mengantisipasi kenaikan suku bunga di tahun 2026—tekanan terhadap mata uang pasar berkembang, termasuk rupiah, akan terus dirasakan. Namun, BI diperkirakan tetap hadir di pasar untuk menjaga stabilitas agar pergerakan tidak terlalu liar.

Baca Juga

Fokus Dana Murah dan Digital, Laba BRIS Melaju hingga Mei 2026

"Secara teknikal dan fundamental, rupiah kemungkinan besar masih akan bergerak dalam rentang konsolidasi yang cenderung fluktuatif, diperkirakan berada di kisaran Rp 17.800 hingga Rp 17.950 per dolar AS," ujar Sutopo, Jumat (19/6/2026).

Sutopo melihat ada tiga poin krusial yang menggerakkan pasar, termasuk rupiah pada Senin nanti. Pertama, dampak lanjutan kebijakan The Fed terkait prospek kebijakan moneter AS dan penguatan dolar AS (DXY). 

Kedua, respons pasar atas kebijakan devisa baru BI per 1 Juli 2026 yang bersifat ganda; sebagai upaya penguatan cadangan devisa, namun sekaligus pengetatan likuiditas valas. 

Ketiga, ketidakpastian geopolitik dan MSCI Review yang memantau stabilitas Timur Tengah serta potensi aliran modal keluar dari investor asing.

Di sisi lain, Research and Development ICDX, Muhammad Amru Syifa, memproyeksikan rupiah di awal pekan depan bergerak fluktuatif dengan potensi penguatan terbatas di rentang Rp17.700 hingga Rp17.860 per dolar AS. 

Meskipun BI telah menaikkan BI-Rate sebesar 25 basis poin menjadi 5,75 persen, rupiah masih ditutup melemah.

"Kondisi ini menunjukkan bahwa sentimen global masih menjadi faktor utama yang mempengaruhi pergerakan rupiah," ucap Amru.

Amru menambahkan, kenaikan BI-Rate diharapkan dapat menjaga stabilitas nilai tukar dan meningkatkan daya tarik aset domestik. 

Namun, dari sisi eksternal, dolar AS tetap tangguh setelah The Fed memberi sinyal suku bunga tinggi lebih lama, ditambah tingginya imbal hasil obligasi AS.

"Kondisi tersebut membatasi ruang penguatan mata uang negara berkembang, termasuk rupiah," kata Amru.

Pada perdagangan Senin, pasar juga akan mencermati perkembangan kesepakatan antara AS dan Iran terkait aktivitas di Selat Hormuz. 

"Dengan demikian, perkembangan hubungan AS–Iran, pergerakan harga minyak dunia, kekuatan dolar AS, yield obligasi AS, serta sentimen terkait MSCI akan menjadi faktor utama yang memengaruhi pergerakan rupiah pada awal pekan depan," jelas Amru.

Andika Riyan Satriya Nugraha

Andika Riyan Satriya Nugraha

variabisnis.com adalah media online yang menyajikan berita sektor energi dan umum secara lengkap, akurat, dan tepercaya.

Rekomendasi

Berita Lainnya

Suku Bunga Tinggi Jadi Pemicu Maraknya IPO pada Semester II/2026

Suku Bunga Tinggi Jadi Pemicu Maraknya IPO pada Semester II/2026

OJK Catat Kredit Perbankan Mei 2026 Tumbuh 11,51 Persen

OJK Catat Kredit Perbankan Mei 2026 Tumbuh 11,51 Persen

Uang Primer Indonesia Tembus Rp2.228 Triliun per Juni 2026

Uang Primer Indonesia Tembus Rp2.228 Triliun per Juni 2026

Rupiah Hari Ini Diprediksi Tertekan di Rentang Rp17.950-Rp18.050

Rupiah Hari Ini Diprediksi Tertekan di Rentang Rp17.950-Rp18.050

Sore Ini, Rupiah Ditutup Menguat 0,11 Persen ke Level Rp17.975

Sore Ini, Rupiah Ditutup Menguat 0,11 Persen ke Level Rp17.975