Rabu, 08 Juli 2026

Menanti Rilis MSCI, Rupiah Ditutup Melemah ke Rp17.859

Menanti Rilis MSCI, Rupiah Ditutup Melemah ke Rp17.859
Rupiah Melemah ke Rp17.859, Pasar Cermati Rilis MSCI Besok [FOTO: NET].

JAKARTA - Nilai tukar rupiah di pasar spot berakhir melemah pada perdagangan Selasa (23/6/2026). Rupiah terdepresiasi 16 poin atau 0,09 persen menuju level Rp17.859 per dollar Amerika Serikat (AS).

Analis Mata Uang dan Komoditas, Ibrahim Assuaibi, menyebut investor kini tengah mengantisipasi hasil evaluasi dari Morgan Stanley Capital International (MSCI). MSCI Annual Market Classification Review sendiri dijadwalkan terbit pada 24 Juni 2026 waktu Indonesia.

“Pasar sebelumnya sempat mengalami tekanan setelah MSCI merilis Global Market Accessibility Review yang menurunkan penilaian indikator Information Flow Indonesia dari positif menjadi negatif,” ujar Ibrahim kepada wartawan, Selasa sore ini.

Baca Juga

Bank Mantap Siapkan Produk dan Ekosistem Kesehatan bagi Kaum Lansia

MSCI menyoroti sejumlah kendala, mulai dari transparansi struktur kepemilikan saham publik atau free float hingga indikasi aktivitas perdagangan yang dinilai terkoordinasi. Selain itu, informasi emiten seringkali dinilai tidak tersedia lengkap dalam bahasa Inggris.

Di sisi lain, pasar juga memantau tekanan yang dialami sejumlah perusahaan manufaktur. Penghentian produksi, perumahan karyawan, keterlambatan gaji, hingga relokasi investasi ke luar negeri menjadi sinyal penurunan daya saing industri nasional. 

Empat perusahaan yang bergerak di bidang komponen otomotif di Pasuruan dan Mojokerto bahkan terancam merumahkan ribuan pekerja akibat konflik global antara Iran dengan Amerika Serikat dan Israel.

Kondisi tersebut mendorong prinsipal asal Jepang untuk melakukan diversifikasi produksi ke komponen kendaraan listrik. 

Dampak dari relokasi ini akan bergantung pada orientasi produksi; apakah untuk memenuhi kebutuhan domestik yang membutuhkan pemasok baru, atau untuk ekspor yang dapat memengaruhi penerimaan negara.

Sentimen pasar sedikit membaik setelah Washington memberikan izin umum selama 60 hari untuk penjualan dan pengiriman minyak mentah Iran sebagai bagian dari negosiasi dengan Teheran.

 Presiden AS, Donald Trump, menyampaikan posisinya melalui Truth Social bahwa Iran diharapkan mematuhi inspeksi senjata demi kejujuran nuklir.

“Jika Iran tidak memenuhi kesepakatan mereka, atau jika mereka tidak berperilaku baik, saya akan melakukan apa yang harus saya lakukan,” kata Trump kepada wartawan.

Pengecualian sanksi ini meningkatkan ekspektasi peningkatan ekspor minyak Iran, yang berpotensi menambah pasokan global di saat kekhawatiran atas distribusi di Selat Hormuz mulai mereda. 

Meski risiko geopolitik masih membayangi, tambahan pasokan minyak dari Iran dianggap mampu menutupi kekhawatiran pasar untuk sementara waktu.

Andika Riyan Satriya Nugraha

Andika Riyan Satriya Nugraha

variabisnis.com adalah media online yang menyajikan berita sektor energi dan umum secara lengkap, akurat, dan tepercaya.

Rekomendasi

Berita Lainnya

Sentimen Positif Menguat, IHSG Berpeluang Uji Level 6.000 Pekan Depan

Sentimen Positif Menguat, IHSG Berpeluang Uji Level 6.000 Pekan Depan

Mulai 15 Juli, Isi Saldo GoPay via Mandiri Dikenakan Biaya Rp1.200

Mulai 15 Juli, Isi Saldo GoPay via Mandiri Dikenakan Biaya Rp1.200

Syarat dan Cara Tukar Uang Rusak di Bank Indonesia via Aplikasi

Syarat dan Cara Tukar Uang Rusak di Bank Indonesia via Aplikasi

Perkuat Swasembada Pangan, Mentan Amran Fokus Kembangkan Lahan di Papua

Perkuat Swasembada Pangan, Mentan Amran Fokus Kembangkan Lahan di Papua

BPS Berupaya Tingkatkan Pendataan UMKM Perempuan di Sensus Ekonomi 2026

BPS Berupaya Tingkatkan Pendataan UMKM Perempuan di Sensus Ekonomi 2026