Imbas Isu S&P Dow Jones, Rupiah Ditutup Loyo Tembus Rp18.014
- Rabu, 08 Juli 2026
JAKARTA — Nilai tukar mata uang rupiah diakhiri merosot hingga melewati batas psikologis Rp18.000 per dolar Amerika Serikat (AS) pada akhir perdagangan Rabu (8/7/2026). Kejatuhan mata uang domestik kali ini cenderung digerakkan oleh dinamika dalam negeri serta rilis informasi mengenai langkah S&P Dow Jones Indices yang menempatkan Indonesia dalam daftar pantauan (watchlist).
Merujuk pada data telaah Doo Financial Futures, kurs rupiah ditutup melemah tipis dengan besaran 0,19% menuju posisi Rp18.014. Selain dialami rupiah atas dolar AS, koreksi nilai juga menimpa sebagian besar mata uang di kawasan Asia lainnya.
Pelemahan terdalam terhadap dolar AS dicatatkan oleh rupee India yang terkoreksi sebesar 0,59%, disusul oleh baht Thailand yang menyusut 0,40%, serta mata uang yen Jepang yang terdepresiasi 0,14% atas dolar AS.
Baca JugaHarga Buyback Emas Antam, UBS, & Galeri 24 di Pegadaian Rabu 8 Juli
Selanjutnya, mata uang peso Filipina terhadap dolar AS ikut melemah 0,11%, dolar Singapura terhadap dolar AS turun 0,08%, dan yuan China terhadap dolar AS turut tergerus 0,05%.
Sebaliknya, dolar Taiwan sanggup melaju positif 0,36% atas dolar AS, disusul won Korea yang menguat 0,16%, serta ringgit Malaysia yang merangkak naik tipis 0,02%.
Analis Doo Financial Futures Lukman Leong memaparkan bahwa tekanan pada pergerakan rupiah kian menebal pascarilis survei yang mempertontonkan kejatuhan cukup dalam pada Indeks Kepercayaan Konsumen (IKK) Indonesia sepanjang bulan Juni.
Situasi tersebut memicu kekhawatiran bila sektor konsumsi rumah tangga, yang selama ini menjadi penopang utama pertumbuhan ekonomi domestik, berisiko mengalami perlambatan.
Hembusan sentimen negatif juga berhembus dari pasar modal pascamerebaknya kabar bahwa S&P Dow Jones Indices memasukkan Indonesia ke dalam daftar pemantauan (watchlist) terkait potensi penurunan kasta klasifikasi pasar saham dari Emerging Market menuju Frontier Market.
Walau belum berupa ketetapan final, kabar bersangkutan dinilai memicu peningkatan sikap ekstra hati-hati dari kalangan pemodal asing terhadap aset-aset di Indonesia, tidak terkecuali mata uang rupiah.
"Berita mengenai potensi downgrade klasifikasi pasar ekuitas Indonesia ke frontier dari S&P Dow Jones juga menekan rupiah," ujarnya, Rabu (8/7/2026).
Di samping itu, para pelaku pasar pun tengah menanti rilis dokumen risalah rapat Federal Open Market Committee (FOMC) yang dijadwalkan meluncur pada malam hari nanti.
Berkas itu diproyeksikan bakal menjadi kompas krusial terkait arah kebijakan moneter bank sentral Amerika Serikat ke depan.
Jika Ketua The Fed, Kevin Warsh, kembali menampilkan gelagat hawkish layaknya pada agenda pertemuan FOMC terdahulu, dolar AS berpeluang kembali melambung sehingga melontarkan tekanan tambahan bagi mata uang negara berkembang, termasuk rupiah.
Dari internal tanah air, fokus perhatian penanam modal selanjutnya mengarah pada publikasi data omzet penjualan ritel Indonesia yang direncanakan terbit besok.
Indikator tersebut akan menjadi instrumen penting guna menakar kekuatan daya beli domestik, sekaligus menghadirkan potret estimasi pertumbuhan ekonomi pada paruh kedua tahun ini.
Untuk aktivitas perdagangan durasi pendek, rupiah diproyeksikan masih bakal berfluktuasi pada rentang harga Rp17.950 sampai dengan Rp18.050 per dolar AS, seiring langkah pasar yang menanti titik terang dari sentimen domestik maupun kepastian arah moneter Amerika Serikat.
Andika Riyan Satriya Nugraha
variabisnis.com adalah media online yang menyajikan berita sektor energi dan umum secara lengkap, akurat, dan tepercaya.












