Rabu, 01 April 2026

Bursa Asia Tertekan, Kospi Turun Tajam 3 persen di Awal Agustus

Bursa Asia Tertekan, Kospi Turun Tajam 3 persen di Awal Agustus
Bursa Asia Tertekan, Kospi Turun Tajam 3 persen di Awal Agustus

JAKARTA - Pasar saham Asia pagi ini mengalami tekanan signifikan, di mana mayoritas indeks utama mencatat pelemahan tajam. Pada perdagangan Jumat, 1 Agustus 2025 pagi pukul 08.21 WIB, indeks Kospi Korea Selatan turun hingga 3,35%, menjadi sorotan karena penurunan terbesarnya di kawasan pagi ini. Indeks lain seperti Nikkei 225, Taiex, dan ASX 200 juga mengalami koreksi seiring meningkatnya kekhawatiran investor terhadap kebijakan tarif perdagangan terbaru Amerika Serikat.

Dampak Kebijakan Tarif AS Memicu Ketegangan Pasar

Keputusan Presiden AS Donald Trump untuk mengenakan tarif tinggi pada impor dari berbagai negara mitra dagang telah menimbulkan reaksi negatif di pasar saham Asia. Tarif yang diberlakukan berkisar antara 10% hingga 41%, dengan tarif khusus antara lain 25% untuk impor India, 20% dari Taiwan, 19% dari Thailand, dan 15% dari Korea Selatan. Kebijakan ini meningkatkan ketidakpastian dan tekanan pada saham-saham di wilayah Asia Pasifik.

Baca Juga

Bank Jatim Optimalkan Strategi Digital dan Sinergi BPD, Laba Bersih Tembus Rp1,54 Triliun

Bahkan bea masuk atas produk Kanada dinaikkan menjadi 35% untuk barang yang tidak tercakup dalam perjanjian perdagangan dengan Meksiko dan Kanada. Namun, AS memberikan penangguhan 90 hari kepada Meksiko untuk menegosiasikan ulang kesepakatan perdagangan. Situasi ini membuat para investor cemas dan cermat menanti data ketenagakerjaan AS yang akan segera dirilis. Data tersebut dianggap kunci dalam menentukan langkah The Fed terkait potensi penurunan suku bunga pada bulan depan.

Pergerakan Indeks dan Kondisi Pasar Tenaga Kerja Jepang

Selain Kore, indeks pasar saham lain juga terpengaruh. Indeks Nikkei 225 turun 0,62% dan Taiex melemah 1,26%. Di sisi lain, indeks FTSE Straits Times dan FTSE Malay KLCI justru mengalami penguatan masing-masing 0,48% dan 0,64%, menunjukkan adanya pergerakan yang tidak seragam di bursa Asia.

Di sektor ekonomi makro, Jepang merilis data ketenagakerjaan bulan Juni yang menunjukkan tingkat pengangguran stabil di angka 2,5%, sesuai ekspektasi ekonom. Namun, rasio lowongan kerja menurun menjadi 122 lowongan per 100 pencari kerja, menandai sedikit melambatnya pasar tenaga kerja di negara tersebut. Jepang menghadapi tantangan demografi yang membuat pasar tenaga kerja tetap ketat selama lebih dari satu dekade.

Dengan latar kondisi geopolitik dan ekonomi global yang terus dinamis, pasar saham Asia masih bergejolak di awal bulan Agustus ini, dan investor perlu terus memantau perkembangan kebijakan perdagangan serta data ekonomi penting dari AS dan kawasan.

Nathasya Zallianty

Nathasya Zallianty

variabisnis.com adalah media online yang menyajikan berita sektor energi dan umum secara lengkap, akurat, dan tepercaya.

Rekomendasi

Berita Lainnya

Pemerintah Tetapkan DBH CHT 2026 Sebesar Rp3,28 Triliun, Jawa Timur Terima Alokasi Terbesar

Pemerintah Tetapkan DBH CHT 2026 Sebesar Rp3,28 Triliun, Jawa Timur Terima Alokasi Terbesar

KUR BRI 2026 Bunga Rendah 0,5 persen per Bulan, UMKM Bisa Naik Kelas Cepat dan Mengembangkan Usaha

KUR BRI 2026 Bunga Rendah 0,5 persen per Bulan, UMKM Bisa Naik Kelas Cepat dan Mengembangkan Usaha

BNI (BBNI) Catatkan Laba Bersih Meningkat Signifikan Hingga Februari 2026 Didukung Kinerja Kredit dan Dana Pihak Ketiga

BNI (BBNI) Catatkan Laba Bersih Meningkat Signifikan Hingga Februari 2026 Didukung Kinerja Kredit dan Dana Pihak Ketiga

BNI Pastikan Layanan Perbankan Tetap Lancar Selama Libur Hari Paskah 2026 Dengan Kanal Digital dan Cabang Terbatas

BNI Pastikan Layanan Perbankan Tetap Lancar Selama Libur Hari Paskah 2026 Dengan Kanal Digital dan Cabang Terbatas

Transformasi Digital BSI 2026 Dorong Pengguna BYOND Tembus 10 Juta Nasabah Aktif Secara Nasional

Transformasi Digital BSI 2026 Dorong Pengguna BYOND Tembus 10 Juta Nasabah Aktif Secara Nasional