JAKARTA - Harga minyak global kembali menguat, setelah sebelumnya sempat berada di level terendah dua minggu.
Kenaikan ini dipicu oleh meredanya kekhawatiran pasar terhadap potensi kelebihan pasokan, seiring mulai berlakunya sanksi terhadap perusahaan-perusahaan minyak besar Rusia.
Mengutip Reuters, harga minyak mentah Brent berjangka naik 65 sen atau 1% menjadi US$ 64,17 per barel, sedangkan minyak mentah West Texas Intermediate (WTI) AS bertambah 73 sen atau 1,2% menjadi US$ 60,33 per barel pada pukul 09.20 GMT.
Baca JugaHarga Minyak Dunia Terus Naik Terdorong Krisis Timur Tengah dan WTI Menguat Tajam
Sanksi terbaru terhadap perusahaan-perusahaan minyak Rusia memicu kekhawatiran tentang gangguan pasokan, meski peningkatan produksi dari OPEC dan sekutunya menahan dampak signifikan pada harga.
Jorge Montepeque dari Onyx Capital Group menilai, "Ada sedikit dampak pada harga dari sanksi, tetapi tidak besar. Berdasarkan angka-angkanya, dampaknya seharusnya lebih besar, tetapi pasar masih perlu diyakinkan akan adanya dampak."
Produksi OPEC+ dan Pasokan Global
Harga minyak global menurun selama tiga bulan berturut-turut pada Oktober karena kekhawatiran kelebihan pasokan. OPEC dan sekutunya meningkatkan produksi, sementara produksi dari produsen non-OPEC juga terus tumbuh.
Namun, rencana OPEC+ untuk menghentikan sementara peningkatan produksi kuartal pertama 2026 membantu meredakan kekhawatiran pasar terhadap kelebihan pasokan, menurut Haitong Securities. Meskipun begitu, pasar tetap waspada karena permintaan minyak global belum sepenuhnya pulih.
Dalam setahun hingga 4 November, konsumsi minyak global meningkat 850.000 barel per hari, di bawah proyeksi sebelumnya sebesar 900.000 barel per hari dari J.P. Morgan. Aktivitas perjalanan dan pengiriman kontainer di AS yang lemah turut menekan konsumsi energi.
Stok Minyak AS dan Tekanan Turun Harga
Pada sesi sebelumnya, harga minyak turun setelah Badan Informasi Energi AS (EIA) melaporkan peningkatan stok minyak mentah AS sebesar 5,2 juta barel menjadi 421,2 juta barel pekan lalu. Lonjakan stok ini menambah kekhawatiran pasar terhadap potensi oversupply.
Capital Economics menilai tekanan penurunan harga minyak masih berlanjut. Mereka memproyeksikan harga di bawah US$ 60 per barel pada akhir 2025 dan bisa menyentuh US$ 50 per barel pada akhir 2026 jika tren pasokan dan permintaan global tetap seperti saat ini.
Strategi Saudi dan Prospek Pasar Minyak
Arab Saudi, sebagai eksportir minyak terbesar dunia, menurunkan harga minyak mentahnya secara signifikan untuk pembeli di Asia pada bulan Desember. Langkah ini merupakan respons terhadap pasar yang pasokannya cukup memadai, seiring dengan peningkatan produksi dari produsen OPEC+.
Secara keseluruhan, rebound harga minyak terjadi karena kekhawatiran kelebihan pasokan mereda, namun pasar tetap menyoroti permintaan yang melemah dan stok yang tinggi. Pengawasan terhadap produksi global, implementasi sanksi, dan konsumsi energi menjadi faktor kunci yang akan menentukan arah harga minyak ke depan.
Wildan Dwi Aldi Saputra
variabisnis.com adalah media online yang menyajikan berita sektor energi dan umum secara lengkap, akurat, dan tepercaya.
Rekomendasi
Prediksi Starting XI Italia Vs Bosnia Gattuso Andalkan Formasi Pemenang Lagi
- Selasa, 31 Maret 2026
Mohamed Salah Tinggalkan Liverpool, PSG dan Bayern Munich Berebut Tanda Tangannya
- Selasa, 31 Maret 2026
Real Madrid Siapkan Rodri Jadi Rekrutan Perdana Setelah Setujui Kepindahan Musim Panas
- Selasa, 31 Maret 2026
Berita Lainnya
Prediksi Kenaikan Harga BBM Non Subsidi Mulai 1 April 2026 Dampak Konflik AS-Iran
- Selasa, 31 Maret 2026













.jpg)