Harga Emas Terus Menurun, Benarkah Akibat Hilangnya Peminat?
- Selasa, 30 Juni 2026
JAKARTA - Komoditas emas konsisten mencatatkan penurunan harga dalam kurun waktu belakangan ini. Per Selasa (30/6/2026), nominal buyback Antam terpantau merosot Rp25.000 menuju level Rp2.335.000 per gramnya.
Nilai emas tersebut menjadi representasi dari harga terakhir yang sempat bertengger pada pengujung tahun 2025. Padahal terhitung sejak awal tahun 2026, emas konsisten diproyeksikan merangkak naik secara bertahap hingga mampu menyentuh angka Rp3,1 juta per gramnya.
Padahal, logam mulia telah lama tersohor sebagai instrumen investasi yang tergolong aman sekaligus stabil.
Baca Juga
Akan tetapi pada pergerakannya, grafik harga emas tidak selamanya berada dalam tren menanjak. Merosotnya harga emas dapat dipicu oleh bermacam faktor global, mulai dari dinamika kebijakan suku bunga hingga fluktuasi nilai tukar mata uang.
Berkaca pada rilis World Gold Council, emas selaku aset lindung nilai (safe haven) umumnya ramai diburu ketika situasi ekonomi makro global sedang tidak menentu.
Kebalikannya, di saat iklim ekonomi cenderung kondusif, nilai jual emas berpotensi menempuh fase koreksi. Oleh sebab itu, mempelajari indikator penyebab harga emas merosot menjadi esensial untuk mendeteksi arah pergerakan pasar secara lebih objektif.
Alasan Emas Terus Mengalami Penurunan
Komoditas emas diprediksi terus melanjutkan tren penurunan harga beriringan dengan posisi penguatan mata uang dolar Amerika Serikat (AS). Di samping itu, melesatnya imbal hasil obligasi pemerintah AS, serta ekspektasi pasar seputar suku bunga tinggi yang masih bertahan ikut menjadi faktor pemicu lainnya.
Analis Dupoin Futures Geraldo Kofit memproyeksikan secara teknikal arah harga emas masih bergulir dalam zona bearish.
Berdasarkan analisis teknikal pada grafik H4, harga emas terpantau menyentuh area support utama pada level US$3.956 per troy ounce yang bakal menjadi indikator penentu bagi arah pergerakan selanjutnya.
Menurut penilaiannya, sepanjang tekanan aksi jual masih dominan serta belum memicu konfirmasi pergeseran tren menuju bullish, maka peluang pelemahan harga emas tetap terbuka lebar.
"Dari sisi teknikal, tren turun masih menjadi skenario utama. Harga memang sudah berada di area support penting, namun hingga saat ini belum ada konfirmasi yang menunjukkan perubahan tren dari bearish menjadi bullish," ujar Geraldo dalam risetnya, Selasa (30/6/2026).
Peminat Berpindah
Selanjutnya merujuk pada laman resmi milik Pegadaian, indikator lain yang melatarbelakangi mengapa harga emas tak kunjung memperlihatkan tren kenaikan dan malah sebaliknya yaitu dipicu oleh kenaikan suku bunga acuan, khususnya yang dirilis oleh bank sentral Amerika Serikat (The Fed).
Di saat suku bunga mendaki, instrumen investasi di luar emas lazimnya menjadi lebih atraktif lantaran sanggup menyuguhkan imbal hasil yang lebih kompetitif ketimbang emas.
Kondisi ini memicu sebagian pelaku pasar mengalihkan modalnya dari instrumen emas menuju instrumen berbasis bunga seperti deposito serta obligasi.
Di samping itu, ekspektasi pasar akan suku bunga tinggi juga mampu memperkokoh indeks dolar AS, sehingga pergerakan harga emas kian berada dalam tekanan.
Sejalan dengan hal tersebut, pergerakan emas juga memiliki korelasi yang berkebalikan dengan dolar. Manakala emas kian melemah, maka kedudukan dolar AS bakal makin bertenaga.
Di saat dolar menguat, harga emas cenderung bergerak melorot akibat ongkos pembelian emas menjadi semakin tinggi bagi kalangan investor global.
Apresiasi dolar biasanya disokong oleh performa ekonomi Amerika Serikat yang dinilai mapan serta berkat ketetapan kebijakan suku bunga tinggi dari The Fed.
Tekanan inflasi yang bersumber dari kenaikan harga sektor energi dan pangan juga memicu pasar memprediksi era suku bunga tinggi masih bakal bertahan dalam tempo yang lumayan lama. Situasi tersebut sanggup mendongkrak daya pikat dolar AS sekaligus menekan nilai jual emas.
Meredanya Ketegangan Geopolitik
Faktor lain yang menyebabkan emas terus merosot yakni disinyalir karena aspek geopolitik ikut mendikte arah harga emas.
Sepanjang pecah konflik atau ketidakpastian global, emas umumnya menjadi buruan utama sebagai aset safe haven. Kebalikannya, di saat tensi geopolitik mulai melandai, angka permintaan terhadap emas dapat ikut menyusut.
Untuk saat ini, pelaku pasar ikut memantau dinamika konflik di kawasan Timur Tengah, termasuk hubungan bilateral antara Amerika Serikat, Israel, dan Iran serta perundingan mengenai Selat Hormuz.
Apabila tercapai titik temu kesepakatan yang sanggup meredam konflik sekaligus memelihara alur jalur perdagangan agar tetap aman, kondisi pasar berpeluang bergeser menjadi lebih stabil sehingga grafik harga emas dapat menempuh penurunan.
Selain itu, meredanya eskalasi perang dagang antara pihak Amerika Serikat dan China juga dianggap sanggup menekan harga emas.
Penurunan Permintaan Pasar
Faktor terakhir, pergerakan harga emas juga dipengaruhi oleh volume tingkat permintaan di pasar. Di saat minat dari publik maupun kalangan investor terhadap komoditas emas menyusut, grafik harga emas dapat ikut terkoreksi.
Penurunan tingkat permintaan lazimnya bergulir di saat kondisi ekonomi mulai pulih, pasar keuangan bergerak lebih stabil, atau para pelaku investasi mulai beralih memilih instrumen alternatif lain yang dirasa menyuguhkan potensi keuntungan yang lebih menggiurkan.
Oleh sebab itu, pergerakan harga emas amat didikte oleh perpaduan faktor ekonomi, arah kebijakan moneter, beserta sentimen global.
Andika Riyan Satriya Nugraha
variabisnis.com adalah media online yang menyajikan berita sektor energi dan umum secara lengkap, akurat, dan tepercaya.
Rekomendasi
Berita Lainnya
HUT ke-80: BNI Lanjutkan Transformasi Demi Kinerja Berkelanjutan (65 karakter)
- Selasa, 30 Juni 2026












