IHSG Anjlok 2,48 Persen, Investor Asing Tarik Dana Rp 85,96 Triliun
- Selasa, 30 Juni 2026
JAKARTA - Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) mengalami keterpurukan pada pembukaan perdagangan Selasa (30/6/2026). Sampai dengan pukul 10.17 WIB, indeks terdampar di zona 5.676,640, merosot 144,149 poin atau 2,48 persen jika disandingkan dengan posisi penutupan hari sebelumnya.
IHSG mengawali hari pada level 5.801,454 dan sempat merangkak naik ke posisi tertinggi di 5.811,669. Kendati demikian, hantaman gelombang jual yang masif menyeret indeks terus melemah hingga menyentuh level terendah di 5.638,574, sebelum akhirnya memulihkan sebagian dari pelemahan tersebut.
Koreksi indeks juga terlihat jelas dari dominasi saham-saham yang terbenam di zona merah. Sebanyak 582 saham mengalami penurunan, berbanding terbalik dengan hanya 80 saham yang menguat, sementara 125 saham lainnya stagnan.
Baca Juga
Aktivitas pasar membukukan volume perdagangan mencapai 8,857 miliar saham dengan nilai transaksi sebesar Rp 5,614 triliun lewat 614.877 kali frekuensi transaksi.
Senior Market Analyst Mirae Asset Sekuritas, Nafan Aji Gusta, memaparkan bahwa kejatuhan indeks tidak lepas dari tekanan aksi jual bersih atau net sell oleh pemodal asing. Secara akumulatif, volume penjualan asing sepanjang tahun berjalan ini sudah menyentuh Rp 85,96 triliun, di mana IHSG masih membukukan koreksi 32,68 persen secara year to date (YTD).
Pada perdagangan awal pekan saja, net sell asing sudah menembus Rp 854,10 miIiar. Saham-saham sektor perbankan dengan kapitalisasi pasar raksasa (big banks) layaknya BBCA dan BMRI menjadi buruan utama pelepasan aset tersebut.
“Investor asing mencatatkan net sell sebesar Rp 854 miliar pada kemarin, dengan saham Big Banks seperti BBCA dan BMRI menjadi target jualan utama,” ujar Nafan kepada Kompas.com, Selasa pagi.
Walau begitu, dia melihat terdapat beberapa sentimen yang berpeluang menahan laju pelemahan IHSG agar tidak merosot lebih jauh.
Salah satunya adalah pergerakan mata uang rupiah yang disokong lewat intervensi moneter oleh Bank Indonesia (BI) melalui mekanisme lelang Sekuritas Rupiah Bank Indonesia (SRBI). Hanya saja, kurs Garuda di pasar spot saat ini terus melemah dan mendekati level Rp 18.000 per dollar Amerika Serikat (AS).
Menilik data Bloomberg, pada pukul 10.20 WIB nilai tukar rupiah terdepresiasi 56 poin atau 0,31 persen menuju level Rp 17.907 per dollar AS.
“Hal ini diharapkan dapat menjadi penahan agar koreksi IHSG tidak terlalu dalam,” paparnya.
Ditinjau dari faktor global, ketetapan Morgan Stanley Capital International (MSCI) yang tetap memposisikan Indonesia di dalam kelompok emerging market semestinya bisa meredakan kecemasan pasar atas risiko penurunan level menjadi frontier market.
Kondisi ini sejatinya dapat berfungsi sebagai pendorong bagi pergerakan IHSG.
“Keputusan MSCI yang tetap mempertahankan Indonesia masuk dalam kategori emerging market telah menepis kekhawatiran downgrade ke frontier market untuk sementara waktu, sejatinya dapat memberikan katalis positif bagi IHSG,” tukas dia.
Di lingkup domestik, para pelaku pasar saat ini tengah menanti perilisan rangkaian data makroekonomi pada permulaan Juli, mulai dari Indeks Manajer Pembelian (PMI) Manufaktur Indonesia, angka inflasi, hingga kondisi neraca perdagangan.
Bila realisasi indikator tersebut melampaui estimasi pasar, maka sentimen terhadap pergerakan IHSG diproyeksikan akan berangsur membaik.
Sementara itu, dari ranah eksternal, para investor masih memantau kelanjutan ketegangan geopolitik di Timur Tengah. Walaupun sempat terdengar kabar upaya gencatan senjata, pasar tetap mengantisipasi risiko eskalasi lanjutan antara Amerika Serikat dan Iran yang dipicu oleh perbedaan pemaknaan atas klausul perdamaian, khususnya terkait kontrol terhadap Selat Hormuz.
Akan tetapi, konflik ini dinilai tidak lagi menjadi beban utama bagi pasar mengingat harga minyak mentah dunia sudah memperlihatkan tren penurunan.
Dinamika tersebut turut andil dalam mendinginkan kecemasan akan potensi pembengkakan beban subsidi bahan bakar minyak (BBM) di dalam negeri maupun tekanan inflasi akibat barang impor (imported inflation).
Di sisi lain, para penanam modal juga cenderung bersikap defensif dan berhati-hati menjelang publikasi data serapan tenaga kerja Amerika Serikat (Non-Farm Payrolls), serta rangkaian pidato dari Gubernur Bank Sentral AS (The Fed) pekan ini.
Apabila terdapat indikasi kebijakan moneter yang lebih ketat (hawkish), situasi tersebut diperkirakan bakal membatasi laju aliran modal menuju aset-aset berisiko di negara berkembang, termasuk Indonesia.
Nafan pun memberikan imbauan kepada para investor untuk tetap selektif dalam menyaring saham di tengah tingginya volatilitas pasar. Dia menyarankan para pemodal untuk memfokuskan portofolio mereka pada saham-saham yang ditopang oleh fundamental kokoh, saham dengan valuasi yang relatif murah, serta saham yang mengindikasikan sinyal pembalikan arah tren (reversal), dengan tetap mengedepankan manajemen risiko secara ketat dan disiplin.
Sukirno
variabisnis.com adalah media online yang menyajikan berita sektor energi dan umum secara lengkap, akurat, dan tepercaya.
Rekomendasi
Berita Lainnya
HUT ke-80: BNI Lanjutkan Transformasi Demi Kinerja Berkelanjutan (65 karakter)
- Selasa, 30 Juni 2026












