Harga Emas dan Bensin Katrol Inflasi Jawa Barat 0,28 Persen
- Rabu, 01 Juli 2026
JAKARTA — Badan Pusat Statistik (BPS) Provinsi Jawa Barat mendokumentasikan laju inflasi sebesar 0,28% (month to month/MtM) di tatar Pasundan sepanjang Juni 2026, yang dipicu oleh lonjakan harga emas perhiasan serta komoditas energi.
Kepala BPS Jawa Barat Margaretha Ari Anggorowati menerangkan bahwa secara tahunan pergerakan harga di Jawa Barat mengalami inflasi di angka 3,08% (year on year/YoY). Sementara itu, tingkat inflasi untuk tahun kalender pada posisi Juni 2026 tertahan pada level 1,70% (year to date/YtD).
Indikator inflasi tersebut memperlihatkan tren peningkatan jika disandingkan dengan periode Juni 2025 yang tercatat menyentuh 1,78% (YoY) dengan inflasi bulanan di posisi 0,27% (MtM).
Baca JugaPasar Nanti Data Inflasi, Rupiah Dibuka Turun Menjadi Rp17.961
"Based on monitoring by BPS in 10 regencies and cities in West Java, all regions experienced YoY inflation. Majalengka Regency became the area with the highest price increase reaching 3.40% with a CPI of 112.29," ujar Margaretha dalam Berita Resmi Statistik (BRS) di Bandung, Rabu (1/7/2026).
Sementara itu, tingkat inflasi paling landai melanda Kabupaten Subang dengan besaran 2,60% dan catatan IHK sebesar 113,05. Faktor penggerak utama pada inflasi tahunan ini bersumber dari lonjakan harga di mayoritas kelompok pengeluaran.
Sektor perawatan pribadi dan jasa lainnya membukukan kenaikan paling signifikan yakni 12,68%, di mana komoditas emas perhiasan menyumbang andil inflasi paling dominan mencapai 0,70%.
Lini makanan, minuman, dan tembakau mengekor di belakangnya dengan tingkat inflasi 4,28% serta menyokong andil 1,32% bagi akumulasi total inflasi.
Sejumlah komoditas yang dinilai dominan dalam menyumbang angka inflasi tahunan di antaranya mencakup emas perhiasan (0,70%), bensin (0,25%), diikuti komoditas beras serta minyak goreng yang masing-masing menorehkan kontribusi sebesar 0,16%.
Di samping itu, komponen bahan bakar rumah tangga ikut andil menyumbang 0,10%, disusul oleh daging ayam ras, sigaret kretek mesin (SKM), serta bawang merah yang masing-masing berkontribusi sebesar 0,09%.
Untuk kategori pengeluaran transportasi, inflasi terekam berada di level 3,06% dengan andil 0,35%, yang utamanya digerakkan oleh penyesuaian harga bensin dan tarif pemeliharaan kendaraan.
Di pihak lain, kategori pengeluaran informasi, komunikasi, dan jasa keuangan menorehkan inflasi 0,88%, disusul kelompok pendidikan sebesar 1,27%, serta sektor penyediaan makanan dan minuman/restoran di angka 1,72%.
Walaupun tren harga barang umumnya merangkak naik, dijumpai beberapa jenis komoditas yang memberikan andil deflasi secara tahunan sehingga mampu menahan laju inflasi agar tidak meroket lebih dalam.
Deretan komoditas penyeimbang tersebut meliputi telur ayam ras (0,06%), tomat (0,05%), bawang putih (0,02%), serta kacang panjang dan kelapa yang masing-masing berkontribusi sebesar 0,01%.
Bila ditinjau secara subkelompok, sektor makanan tetap menjadi fokus perhatian utama dengan catatan inflasi tahunan menembus 4,53%.
Kenaikan tarif pada komoditas pangan pokok layaknya beras, cabai rawit, cabai merah, serta daging sapi masih menjadi faktor risiko yang membayangi stabilitas daya beli masyarakat di wilayah Jawa Barat hingga pertengahan tahun ini.
Andika Riyan Satriya Nugraha
variabisnis.com adalah media online yang menyajikan berita sektor energi dan umum secara lengkap, akurat, dan tepercaya.












