Sabtu, 11 Juli 2026

Pertamina Tetap Untung Meski Harga LNG Industri Turun ke US$13

Pertamina Tetap Untung Meski Harga LNG Industri Turun ke US$13
Harga LNG Industri Dipangkas, Pertamina Pastikan Tetap Cuan [FOTO: NET].

JAKARTA — PT Pertamina (Persero) menjamin entitasnya bakal tetap meraup profit kendati nilai jual gas alam cair atau liquefied natural gas (LNG) untuk sektor industri dipotong menjadi US$13 per MMBtu.

Langkah pemangkasan ini baru saja ditetapkan pemerintah, dari kisaran semula US$20 hingga US$23 menjadi tinggal US$13 per MMBtu. 

Kebijakan penyesuaian tarif ini menyasar para pelaku industri di area Jawa bagian Barat guna memelihara daya saing sekaligus mengantisipasi risiko pemutusan hubungan kerja (PHK).

Baca Juga

Genjot Ekspor, Trias Sentosa Bidik Pertumbuhan High Single Digit

Penurunan harga LNG tersebut pastinya membawa pengaruh bagi Pertamina Group. Hal ini mengingat Pertamina mengoperasikan lini bisnis serta anak usaha yang terintegrasi dari hulu hingga hilir gas.

 Pada sektor hulu migas, perusahaan milik negara ini mengandalkan PT Pertamina Hulu Energi (PHE), sedangkan untuk segmen hilir dan distribusi gas digawangi oleh PT Perusahaan Gas Negara (Persero) Tbk atau PGN.

Vice President (VP) Corporate Communication Pertamina, Muhammad Baron, memaparkan bahwa pihaknya telah menjalin komunikasi yang intens dengan para pemangku kepentingan.

 Berlandaskan hal itu, pihaknya menegaskan Pertamina tetap mengantongi profit sekalipun harga LNG industri melandai.

"Harga gas sudah ditentukan harganya, kemudian dari kami Pertamina Group, baik dari PGN, baik dari Subholding Upstream, melaksanakan koordinasi secara intensif and secara kuat agar harga tersebut tetap secara Pertamina bisa mendapatkan keekonomian yang baik," ujar Baron ditemui di Grha Pertamina, Jakarta, Kamis (2/7/2026).

Ia mengimbuhkan bahwa Pertamina Group berkomitmen penuh mendukung ketetapan dari pemerintah tersebut. Pihaknya pun memberikan garansi bahwa proses distribusi serta penyaluran LNG akan berjalan tanpa kendala.

"Tentu upaya ini tidak hanya oleh PGN dalam penyaluran, tapi juga oleh Pertamina Group lainnya mendukung kegiatan tersebut sehingga dari sisi hulu sampai dengan nanti penyalurannya di hilir di PGN itu bisa terlaksana dengan baik," tutur Baron.

Sebelumnya, Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Bahlil Lahadalia mengemukakan bahwa penurunan tarif LNG bagi sektor industri ini tidak seluruhnya dibebankan pada satu entitas saja. 

Pemerintah membagi porsi penyesuaian tarif dari lini hulu sampai hilir, termasuk dengan memotong jatah penerimaan negara serta menginstruksikan badan usaha untuk melakukan efisiensi pada pos biaya operasional.

Koreksi harga LNG diwujudkan lewat kontribusi bersama dari tiap-tiap lini dalam rantai pasok gas. Dari sisi hulu, pemerintah merelakan porsi bagi hasil hak negara berkurang, sementara kontraktor kontrak kerja sama (KKKS) pun diminta ikut menyesuaikan margin keuntungan.

 Di sektor hilir, pemerintah mendorong PGN dan Pertamina memangkas ongkos operasional agar harga jual LNG kepada industri bisa ditekan.

Optimalisasi Struktur Biaya

Corporate Secretary PGN, Fajriyah Usman, menguraikan bahwa penurunan tarif LNG industri yang diputuskan pemerintah ditempuh melalui penataan ulang struktur pengeluaran dan peningkatan efisiensi di segenap rantai pasok LNG.

 Kebijakan ini meliputi penyesuaian harga gas hulu, ongkos pengolahan LNG, hingga aspek infrastruktur dan tata niaga, agar manfaatnya bisa disalurkan secara berimbang kepada konsumen industri.

Menurut penjelasannya, lonjakan tarif LNG industri pada periode sebelumnya dipicu oleh volatilitas harga energi di pasar internasional serta melorotnya volume produksi energi di dalam negeri. 

Ia menggarisbawahi bahwa skema harga LNG industri tidak bisa disetarakan dengan gas pipa sebab melibatkan komponen biaya ekstra seperti proses liquefaction, transportasi, penyimpanan, komersialisasi, hingga proses regasifikasi.

"Sebagai bentuk dukungan atas kebijakan pemerintah, Perseroan siap mengimplementasikan kebijakan tersebut dengan tetap menjaga profitabilitas bisnis niaga gas dan bisnis Perseroan secara keseluruhan," kata Fajriyah dalam keterangan resmi.

Ia mengklaim bahwa sampai saat ini, kebijakan penyesuaian tersebut belum mengganggu aktivitas operasional perusahaan, sedangkan pengaruhnya terhadap performa finansial bakal dianalisis lebih mendalam selaras dengan aturan teknis yang akan dirilis pemerintah.

PGN juga menegaskan bakal terus membangun koordinasi yang aktif bersama pihak regulator serta pemangku kepentingan eksternal, demi menyelaraskan strategi komersial korporasi dengan arah kebijakan pemerintah, sembari memastikan pasokan gas bumi tetap andal, aman, dan berkesinambungan.

Di sisi lain, Pendiri Reforminer Institute, Pri Agung Rakhmanto, berpendapat bahwa lonjakan harga gas industri yang sempat menembus angka di atas US$20 per MMBtu merupakan dampak riil dari merosotnya produksi gas pipa domestik di kawasan barat Indonesia, utamanya Jawa Barat dan Sumatra. 

Situasi ini menuntut pengalihan sebagian pasokan ke sistem regasifikasi LNG yang dikirimkan dari wilayah timur seperti Papua, Sulawesi, dan Kalimantan, yang secara operasional memicu ongkos logistik lebih tinggi.

"Penyebab kenaikan harga gas industri bukan semata soal margin niaga, melainkan konsekuensi struktural dari pergeseran sumber pasokan," kata Pri Agung.

Ia mengutarakan bahwa keberlanjutan daya saing sektor industri di masa mendatang akan sangat bertumpu pada percepatan pembangunan infrastruktur pipa gas bumi yang terintegrasi, termasuk penyelesaian jalur transmisi yang menghubungkan wilayah surplus gas pipa secara langsung ke pusat industri. 

Lewat langkah itu, ketergantungan pada LNG yang berongkos tinggi dapat dipangkas secara gradual.

Andika Riyan Satriya Nugraha

Andika Riyan Satriya Nugraha

variabisnis.com adalah media online yang menyajikan berita sektor energi dan umum secara lengkap, akurat, dan tepercaya.

Rekomendasi

Berita Lainnya

Lewat Anak Usaha, AKRA Kontrak Hyundai Industries Bangun FSRU

Lewat Anak Usaha, AKRA Kontrak Hyundai Industries Bangun FSRU

Nusantara Sawit Tuntas Realisasikan Dana IPO Rp430,5 Miliar

Nusantara Sawit Tuntas Realisasikan Dana IPO Rp430,5 Miliar

Catat Jadwal Pembagian Dividen Rp10,6 Miliar dari Surge (WIFI)

Catat Jadwal Pembagian Dividen Rp10,6 Miliar dari Surge (WIFI)

KRAS Jual The Royale Krakatau Hotel Rp312 Miliar Demi Restrukturisasi

KRAS Jual The Royale Krakatau Hotel Rp312 Miliar Demi Restrukturisasi

Danantara: Seluruh BUMN Rampungkan Laporan Keuangan 2025

Danantara: Seluruh BUMN Rampungkan Laporan Keuangan 2025