Selasa, 07 Juli 2026

Asing Cetak Net Sell Rp88,89 Triliun, Masa Depan IHSG Masih Sensitif

Asing Cetak Net Sell Rp88,89 Triliun, Masa Depan IHSG Masih Sensitif
Net Sell Asing Rp88,89 T, Analis: Pemulihan IHSG Butuh Dana Asing [FOTO: NET].

JAKARTA - Gelombang aksi lepas bersih (net sell) oleh penanam modal asing di bursa saham domestik kian menggunung hingga menyentuh Rp 88,89 triliun secara year to date (YTD). 

Kendati Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) mulai memperlihatkan sinyal pemulihan lewat pendekatan teknikal, pengamat pasar menilai keberlanjutan tren penguatan indeks masih bertumpu penuh pada kembalinya gairah beli investor mancanegara.

Senior Market Analyst Mirae Asset Sekuritas, Nafan Aji Gusta, mendeteksi secara teknikal IHSG sukses bangkit (rebound) sekaligus mengukir pola grafik candlestick three advancing soldiers dari fase wave (b), yang mengindikasikan adanya ruang terbuka bagi kelanjutan pemulihan pada pekan berjalan ini. 

Baca Juga

Update Harga Emas Pegadaian 6 Juli 2026: Antam, UBS, Galeri 24 Naik

Walau begitu, parameter Stochastics K_D terpantau masih memancarkan sinyal negatif dibarengi volume perdagangan yang menyusut.

Di sisi lain, parameter Relative Strength Index (RSI) mulai menunjukkan potensi pembentukan pola golden cross yang berpeluang menjadi indikator awal dari penguatan lanjutan.

“Walaupun IHSG berhasil rebound, investor asing masih cenderung selektif. Keberlanjutan pemulihan akan sangat bergantung pada apakah terjadi pembalikan menjadi net buy asing dalam beberapa hari ke depan,” ujar Nafan dalam risetnya dipublikasi, Senin (6/7/2026).

Rangkuman data niaga memperlihatkan investor asing masih membukukan penjualan bersih senilai Rp 16,58 miliar pada sesi perdagangan Jumat (3/7/2026). Jika diakumulasikan sejak pembukaan tahun, total nilai net foreign sell telah menembus Rp 88,89 triliun, beriringan dengan merosotnya posisi IHSG sebesar 32,05 persen secara YTD.

Adapun, IHSG merayap di zona merah mendekati jeda penutupan sesi pertama perdagangan Senin ini, usai sempat melesat naik hingga nyaris menyentuh area 5.936. Derasnya tekanan jual mengakibatkan lompatan tersebut tidak bertahan lama hingga membuat IHSG berbalik melemah.

Merujuk data BEI, IHSG terkapar di level 5.861,455 atau terkoreksi 14,324 poin setara 0,24 persen per pukul 11.00 WIB. Indeks dibuka pada posisi 5.893,281, sempat merayap ke angka tertinggi 5.935,683, sebelum akhirnya berbalik turun menuju titik terendah di level 5.859,640.

Nafan memproyeksikan area support IHSG bakal berada di level 5.723 dan 5.568, sedangkan untuk area resistance bertengger di posisi 5.972 dan 6.127.

Di tengah masifnya aliran dana keluar milik asing, bursa saham internasional sebaliknya mengunci perdagangan pekan lalu di zona hijau. Melandainya keperkasaan dollar Amerika Serikat (AS) yang dibarengi lonjakan harga emas ikut mencerminkan pulihnya risk appetite global, sehingga berpotensi menyuntikkan sentimen positif ke bursa saham Asia pada pembukaan pekan ini.

Bukan cuma itu, para pelaku pasar juga menaruh perhatian pada fluktuasi nilai tukar rupiah. Nafan menilai stabilitas kurs rupiah menjadi salah satu instrumen krusial yang sanggup menahan laju hengkangnya dana asing (foreign outflow) dari pasar dalam negeri. Masalahnya, kurs rupiah terpantau masih melemah dan nyaris menyentuh angka Rp 18.000 per dollar AS ketika pasar dibuka pagi tadi.

Ditinjau dari segi penilaian harga (valuasi), ia melihat pasar saham Indonesia sejatinya mulai menapak ke area yang atraktif. Rasio price to earnings (P/E) IHSG berada pada level 9,35 kali, alias lebih rendah bila disandingkan dengan posisi saat fase titik nadir (bottoming) akibat hantaman pandemi Covid-19 silam yang berada di level 9,48 kali.

Kondisi tersebut dinilai membuka celah bagi investor institusi dalam negeri untuk mulai mengeksekusi akumulasi beli pada jajaran saham berkapitalisasi besar (blue chip) yang ditopang fundamental kokoh. Meskipun demikian, pasar modal juga bakal dihadapkan pada potensi perebutan likuiditas dana dari instrumen pendapatan tetap (fixed income).

Mulai Senin ini, pihak otoritas pemerintah resmi menggulirkan masa penawaran Obligasi Negara Ritel (ORI) untuk seri ORI030. Berbekal suku bunga acuan Bank Indonesia (BI Rate) yang tertahan di level 5,75 persen, ORI030 menyajikan imbalan kupon tetap (fixed rate) yang diprediksi kompetitif, sehingga berpotensi menyerap sebagian modal investor ritel yang memilih bermain aman di tengah tingginya volatilitas pasar saham.

Merespons iklim pasar tersebut, Nafan memberikan masukan bagi para pelaku pasar untuk menempuh langkah akumulasi secara bertahap pada saham-saham berfundamental solid, memprioritaskan emiten dengan valuasi murah, mencermati saham yang mulai memperlihatkan sinyal pembalikan tren, serta menerapkan manajemen risiko secara ketat.

Sukirno

Sukirno

variabisnis.com adalah media online yang menyajikan berita sektor energi dan umum secara lengkap, akurat, dan tepercaya.

Rekomendasi

Berita Lainnya

Rupiah Lesu di Pasar Spot, Kurs Jual Dolar AS Sentuh Rp18.120

Rupiah Lesu di Pasar Spot, Kurs Jual Dolar AS Sentuh Rp18.120

Pegadaian Gelar Promo Cicil Emas Batangan, Diskon hingga Rp1 Juta

Pegadaian Gelar Promo Cicil Emas Batangan, Diskon hingga Rp1 Juta

WGC Proyeksi Harga Emas Dunia Semester II 2026 Bergerak Terbatas

WGC Proyeksi Harga Emas Dunia Semester II 2026 Bergerak Terbatas

Bank Mandiri Taspen Targetkan Masuk Kategori KBMI 3 pada 2028

Bank Mandiri Taspen Targetkan Masuk Kategori KBMI 3 pada 2028

Kinerja Kuat, Bank Sultra Raih Penghargaan Terunggul di BIA 2026

Kinerja Kuat, Bank Sultra Raih Penghargaan Terunggul di BIA 2026