5 Tantangan Menjalin Hubungan dengan Pasangan Avoidant
- Selasa, 07 Juli 2026
JAKARTA - Merajut hubungan asmara dengan seseorang yang memiliki avoidant attachment style atau gaya keterikatan menghindar kerap kali memicu rasa bingung. Pada satu momen, mereka dapat memperlihatkan atensi dan kehangatan yang intim, namun di momen berikutnya tiba-tiba saja menarik diri ketika relasi emosional di antara keduanya mulai terasa kian mendalam.
Terapis berlisensi Jennifer Jacobsen Schulz, LCSW menjabarkan bahwa karakter keterikatan menghindar ini pada umumnya berakar dari pola asuh orang tua yang kurang konsisten atau cenderung menjaga jarak emosional di masa kanak-kanak.
“Untuk melindungi diri dari rasa sakit emosional, mereka yang memiliki gaya keterikatan menghindar menjaga jarak dalam hubungan dan tampak dingin atau acuh tak acuh,” jelas Schulz, seperti dikutip Marriage, Senin (6/7/2026).
Baca Juga
Imbasnya, ketika menginjak usia dewasa, mereka mengidentifikasi kedekatan afeksi sebagai sebuah hal yang rawan, sehingga memilih membentengi diri dengan memicu jarak di dalam hubungan.
Berikut merupakan rentetan tantangan yang lazim ditemui ketika menjalin jalinan kasih dengan pasangan bertipe avoidant.
Tantangan menjalin hubungan dengan pasangan avoidant
1. Pasangan cenderung menjaga jarak secara emosional
Kendala yang paling kentara dirasakan ialah pembawaan pasangan yang tampak enggan atau kesulitan untuk blak-blakan mengenai isi hatinya.
Tatkala ikatan asmara melangkah ke fase yang lebih intim atau saat diterpa perselisihan, mereka justru memilih untuk mundur dan mengisolasi diri alih-alih duduk bersama menyelesaikan problem.
Situasi pelik ini rentan memicu pasangannya merasa dicampakkan atau meragukan komitmen hubungan. Padahal, aksi menutup diri tersebut sejatinya murni bentuk proteksi psikologis, bukan cerminan hilangnya rasa cinta.
Sebuah riset membuktikan bahwa tindakan saling memaklumi kerapuhan pasangan lewat empati dan dukungan mampu mempererat jalinan batin sejak fase awal hubungan.
2. Sulit mengekspresikan kasih sayang
Individu dengan attachment avoidant juga biasanya kikuk untuk mengutarakan rasa cinta lewat metode konvensional, misalnya mengobral kalimat romantis, memberikan pengakuan emosi, atau menunjukkan kehangatan fisik.
Rasa sayang di dalam lubuk hati mereka mungkin saja sepenuhnya tulus, namun metode penyampaiannya saja yang tidak sama.
Dampaknya, pihak pasangan bisa merasa kurang dicintai atau kurang diapresiasi, meskipun hubungan tersebut sebenarnya dinilai krusial bagi si avoidant.
Menurut pandangan Schulz, kelompok individu ini sengaja membatasi keintiman perasaan demi mengantisipasi luka hati yang mereka khawatirkan bakal terjadi andai terlalu menggantungkan diri kepada orang lain.
3. Takut kehilangan kebebasan
Eskalasi hubungan yang mengarah ke jenjang yang lebih serius kadang kala justru mengundang rasa cemas berlebih bagi pasangan avoidant.
Di satu sisi mereka menginginkan kebersamaan, namun di sisi lain mereka dihantui rasa takut akan kehilangan privasi serta independensi diri.
Dari sinilah lahir pola maju-mundur (push and pull), yakni momen di mana mereka sesekali bersikap dekat lalu seketika menjauh kembali saat keintiman dirasa terlalu intens.
Bagi pasangannya, fluktuasi sikap ini kerap membingungkan dan memicu rasa tidak aman (insecure).
Padahal, gejolak ketakutan itu murni berkorelasi dengan urgensi menjaga otonomi diri, bukan karena adanya iktikad untuk menyudahi hubungan.
4. Cenderung menghindari konflik
Alih-alih menuntaskan silang pendapat lewat forum diskusi yang sehat, pasangan avoidant condong memilih opsi bungkam, membelokkan topik pembicaraan, atau menghilang untuk sementara waktu.
Mereka memandang perdebatan sebagai sebuah dinamika yang menguras energi psikologis. Imbas dari kebiasaan ini membuat tumpukan masalah di dalam hubungan berisiko kian menggunung karena tidak pernah benar-benar dicarikan jalan keluar.
Pihak pasangan pun berpotensi merasa aspirasi dan emosinya tidak digubris. Pola komunikasi yang adem dan tanpa menyudutkan dinilai jauh lebih efektif ketimbang mendesak mereka untuk lekas terbuka seketika.
5. Komitmen jangka panjang terasa menakutkan
Mengulas topik masa depan, rencana hidup bersama, hingga gagasan pernikahan dapat bertransformasi menjadi momok tersendiri bagi seseorang dengan avoidant attachment.
Mereka cenderung memerlukan durasi waktu yang relatif lebih lama sebelum akhirnya memantapkan diri memikul komitmen yang besar. Hal ini bukan berarti mereka tidak menaruh rasa cinta kepada pasangannya.
Kebalikannya, mereka kerap memandang sebuah ikatan komitmen sebagai gerbang yang membawa risiko hilangnya kebebasan personal atau paparan luka batin baru.
Oleh karena itu, merajut asmara dengan pasangan tipe avoidant sejatinya membutuhkan stok kesabaran yang lapang, komunikasi yang ajek, serta jaminan rasa aman agar mereka secara bertahap merasa nyaman memupuk kedekatan emosional.
Andika Riyan Satriya Nugraha
variabisnis.com adalah media online yang menyajikan berita sektor energi dan umum secara lengkap, akurat, dan tepercaya.












