Menko Pangan Kenalkan Lahsamor BRIN Atasi Sampah Organik Bali
- Rabu, 08 Juli 2026
JAKARTA - Menko Pangan Zulkifli Hasan memperkenalkan teknologi pengolahan sampah organik bernama "lahsamor" untuk menjadi alternatif dalam menangani persoalan sampah di Pulau Bali.
“Hari ini tadi ya apel pemilahan sampah karena kuncinya itu memang di pemilahan organik anorganik, nah ini ada alat, ini buatan BRIN,” kata Zulkifli di Denpasar pada Selasa (07/07/2026).
Saat menghadiri Apel Siaga Pilah Sampah di Lapangan Renon, Zulkifli memantau secara langsung mekanisme kerja "lahsamor", yang dibuat khusus untuk mengolah sampah organik dari rumah tangga tiap harinya.
Baca JugaTarif Transjakarta Diusulkan Naik, 15 Golongan Ini Tetap Gratis
Melalui teknologi berbasis drum tersebut, volume sampah harian rumah tangga yang masuk ke tempat pemrosesan akhir (TPA) dapat dipangkas hingga 40 persen, walaupun pemanfaatannya saat ini masih terbatas pada skala domestik.
“Alatnya kecil tapi ini bisa mengolah 1 kg per hari, 3 tahun tidak penuh-penuh, tapi saya minta juga yang agak besar. Bisa untuk misalnya 50 kg ya. Jadi 50 kg untuk satu sekolah itu pas,” ujar Menko Bidang Pangan.
"Lahsamor" merupakan inovasi yang dirancang oleh Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN).
Kehadiran inovasi ini bukan untuk menggeser inovasi lain seperti teba modern di Bali, melainkan menjadi opsi penunjang bagi warga yang areanya tidak memungkinkan untuk mendirikan teba di pekarangan rumah.
Sistem kerja teknologi ini adalah dengan memasukkan sampah organik busuk seberat 0,5 kg sampai 1 kg setiap hari, lalu memutar bagian tuasnya sebanyak lima kali.
Perbedaannya dengan kantung kompos yang umum dipakai terletak pada proses pemanenan; hasil komposter kantung kompos mesti dikeluarkan manual dan butuh bermacam bahan campuran, sedangkan "lahsamor" cukup dibuka dan diputar agar komposnya terlepas sendiri.
Walaupun sekarang ada beragam solusi, Menko Pangan menegaskan kembali bahwa memilah sampah tetap menjadi tahapan paling utama dalam menuntaskan masalah sampah.
Apabila penerapan di rumah terasa berat lantaran harus mengubah kebiasaan, ia menilai hal tersebut harusnya tidak sukar dijalankan di lingkungan sekolah, kantor, ataupun mal karena sifatnya yang lebih terstruktur.
Ke depannya, sewaktu sampah sudah terpisah dan jenis organik telah teratasi, barulah diterapkan beberapa teknologi berskala lebih besar untuk memproses sampah anorganik, contohnya PSEL yang pembangunannya di Bali dimulai pada 8 Juli 2026.
“Kami akan luncurkan PSEL atau Pengelolaan Sampah menjadi Energi Listrik. Ini bisa menyelesaikan open dumping yang sekarang menjadi masalah utama kami, sudah kategori darurat seperti kemarin terjadi di Jatiwaringin kebakaran, lalu sebelumnya Bantar Gebang ada tujuh meninggal,” kata Zulkifli.
Andika Riyan Satriya Nugraha
variabisnis.com adalah media online yang menyajikan berita sektor energi dan umum secara lengkap, akurat, dan tepercaya.












