RI Bidik Jadi Hub Manufaktur Global 2045 Lewat Hilirisasi
- Rabu, 08 Juli 2026
JAKARTA — Pihak pemerintah menargetkan Indonesia menjelma sebagai hub manufaktur global pada kurun waktu 2040-2045 mendatang lewat akselerasi industrialisasi berbasis hilirisasi, pemantapan sumber daya manusia, serta ekspansi industri berteknologi tinggi demi penggerak pertumbuhan ekonomi yang baru.
Plt. Deputi Bidang Koordinasi Industri, Ketenagakerjaan, dan Pariwisata Kementerian Koordinator Bidang Perekonomian Dida Gardera menyampaikan, sasaran tersebut menjadi kompas jangka panjang pemerintah untuk memacu transformasi ekonomi menuju Indonesia Emas 2045.
Menurut pandangannya, beraneka landasan industrialisasi mulai dirakit dalam rentang satu dekade pamungkas, diawali dari hilirisasi sumber daya alam, pembangunan kawasan industri, sampai penyelesaian sumbatan investasi dan penguatan mutu tenaga kerja.
Baca Juga
“Harapannya di tahun 2040-2045 Indonesia sudah bisa menjadi hub atau menjadi pemasok dari produk-produk manufaktur kami,” ujar Dida ujarnya dalam acara Bisnis Indonesia Forum: Reindustrialisasi Indonesia, Memutar Roda Perekonomian Nasional, di Jakarta pada Rabu (8/7/2026).
Sasaran tersebut dirumuskan di tengah himpitan ekonomi dunia yang hingga kini masih terimbas gesekan geopolitik di kawasan Timur Tengah. Hambatan distribusi pasokan energi serta melonjaknya harga komoditas dinilai memperberat beban biaya operasional industri di bermacam negara.
Kendati demikian, Dida memandang pilar ekonomi Indonesia sejauh ini masih tergolong tangguh. Tingkat konsumsi rumah tangga tetap menjadi pilar fundamental dalam menyokong pertumbuhan ekonomi, di kala fundamental fiskal juga dirasa masih aman.
Oleh karena itu, pemerintah berupaya mengamankan daya beli masyarakat sekaligus meningkatkan kompetensi tenaga kerja.
Keliru satu jalannya yaitu lewat perluasan program magang nasional yang difungsikan demi menekan kesenjangan antara ranah pendidikan dengan kebutuhan riil industri.
Dida membeberkan ada kisaran 1,3 juta lulusan sarjana yang belum memperoleh lapangan kerja dalam rentang waktu di atas 1 tahun pascalulus. Di sisi lain, kalangan pelaku usaha masih menetapkan jam terbang kerja sebagai keliru satu tolok ukur pokok dalam menjaring tenaga kerja.
Pada lini manufaktur, pemerintah tetap memposisikan hilirisasi sebagai pemutar utama roda industrialisasi nasional. Program itu dinilai mulai memberikan buah berupa kenaikan nilai tambah pada sederet komoditas strategis.
Dida mencontohkan sektor industri sawit yang waktu ini telah mempunyai lebih dari 200 produk turunan. Angka tersebut melesat drastis bila dikomparasikan dengan kisaran 50-60 produk pada 1 dekade lampau.
Pencapaian manis lainnya nampak pada ekspansi biodiesel yang saat ini menyentuh fase penerapan B50. Menurutnya, Indonesia menjelma sebagai keliru satu negara yang paling terdepan dalam pendayagunaan biodiesel berbasis sawit.
Bukan cuma sawit, hilirisasi bauksit pun mulai memperlihatkan tren positif. Usai penyetopan ekspor material mentah digulirkan, industri dalam negeri saat ini sudah bergeser dari sekadar pemrosesan bauksit menjadi alumina hingga perluasan kapasitas produksi aluminium.
“Nah, sekarang kami sudah bergerak lagi turunan keduanya dari alumina menjadi aluminium. Seluruh sektor swasta sudah mulai bergerak ke arah tersebut termasuk kami juga melalui BUMN-BUMN,” ujarnya.
Demi memacu laju industrialisasi, pemerintah pun membentuk Satgas Percepatan Peningkatan Penggunaan Produk Dalam Negeri dan Penyelesaian Permasalahan Investasi yang memfokuskan kinerjanya pada penuntasan beraneka hambatan investasi atau debottlenecking.
Kebijakan tersebut mencakup pemberesan perkara lahan, akselerasi investasi, sampai pengukuhan kawasan ekonomi khusus serta proyek strategis nasional.
Andika Riyan Satriya Nugraha
variabisnis.com adalah media online yang menyajikan berita sektor energi dan umum secara lengkap, akurat, dan tepercaya.












