Pengguna Dukung Tarif Langganan Transjakarta Rp 200.000 per Bulan
- Rabu, 08 Juli 2026
JAKARTA - Sejumlah pengguna Transjakarta menyambut positif usulan Dewan Transportasi Kota Jakarta (DTKJ) yang berniat menghadirkan skema tarif langganan Transjakarta senilai Rp 200.000 per bulan.
Menurut pandangan mereka, regulasi tersebut sanggup menghemat pengeluaran transportasi, khususnya bagi kalangan pekerja yang saban hari bergantung pada layanan Transjakarta.
Salah seorang penumpang, Gita (27), mengutarakan bahwa dirinya amat sepakat dengan usulan tersebut. Lantaran, tuntutan pekerjaannya mengharuskan ia berpindah-pindah tempat sehingga hampir setiap hari memanfaatkan Transjakarta.
Baca JugaHarga Bawang Putih Masih Tinggi, Importir Terganjal Kurs dan Tata Niaga
“Setuju banget. Karena memang aku kerjanya moving, berpindah-pindah dan memang setiap kemana-mana naiknya Transjakarta. Jauh lebih hemat kalau benar terjadi,” kata Gita, Rabu (8/7/2026).
Selama ini, Gita memaparkan bahwa dirinya menghabiskan dana mendekati Rp 300.000 tiap bulannya sekadar untuk ongkos Transjakarta. Jikalau benar-benar terwujud, alokasi belanja bulannya dipastikan bakal berkurang.
“Biasanya sebulan itu ngisi hampir Rp300.000 kalau dikasih tarif Rp 200.000 sebulan amat sangat untung jadi enggak bikin kantong jebol,” katanya.
Di lain sisi, Gita pun tidak mempersoalkan andai tarif reguler Transjakarta mengalami penyesuaian harga. Sebab, tarif Transjakarta dinilai sudah bertahun-tahun lamanya tidak pernah mengalami kenaikan.
“Kalau pun tarif Transjakarta naik, saya terima. Karena dari saya SMP masih Rp 3.500 aja itu,” tutur Gita.
Poin senada dilontarkan oleh pengguna lainnya, Fatimah (33). Ia menyatakan bakal segera mendaftarkan diri andai paket langganan Rp 200.000 per bulan tersebut betul-betul diaplikasikan.
“Kalau ada paket langganan Rp 200.000 sepertinya aku orang yang pertama daftar kak,” kata Fatimah.
Fatimah mengisahkan, saban hari dirinya bertolak dari kediamannya di area Jakarta Barat menuju ke tempat kerja di bilangan Jakarta Pusat memanfaatkan dua kategori layanan Transjakarta, yakni koridor BRT dan non-BRT.
“Aku naik BRT terus nyambung Non BRT. Nah biasanya kalau tap di BRT Rp 3.500 pas nyambung ke Non BRT bayar lagi Rp 3.500. Hitung aja satu kali perjalanan aku bisa Rp 7.000 dikali pulang habis Rp 14.000. Jauhnya hemat,” katanya.
Lewat pengeluaran tersebut, Fatimah memaparkan harus mengalokasikan dana berkisar Rp 350.000 per bulan untuk urusan mobilitas menuju tempat kerja, lewat kalkulasi 25 hari kerja.
Oleh karena itu, ia menyokong penuh andai paket langganan seharga Rp 200.000 per bulan resmi diberlakukan.
“Sebulan buat Transjakarta aja Rp 350.000 jadi kalau cuma daftar paket Rp 200.000 aku milih itu,” katanya.
Sementara itu, penumpang berbeda, Salma Fauziah (25), turut menyampaikan respons baiknya atas wacana tarif langganan tersebut.
Menurut pandangannya, metode berlangganan bakal meringankan beban finansial masyarakat yang intensif menggunakan Transjakarta setiap hari demi bekerja ataupun bermobilitas.
“Setuju-setuju aja. Asumsinya pemerintah ngasih usulan biasanya ada opsi jauh lebih murah,” katanya.
Salma menaruh harapan agar usulan ini bisa lekas diimplementasikan. Berdasarkan penilaiannya, sisa uang yang disimpan dari ongkos perjalanan dapat dialokasikan untuk membiayai keperluan lainnya.
“Bisa buat langganan bulan depannya. Soalnya kerja uangnya habis sama ongkos,” tutur Salma.
Sebelumnya, Ketua DTKJ periode 2026-2028 Sugihardjo mengajukan opsi paket Rp 200.000 per bulan untuk para pengguna Transjakarta.
Metode tersebut diajukan beriringan dengan rancangan penyesuaian tarif reguler Transjakarta menjadi Rp 5.000 untuk skema layanan BRT, non-BRT, serta Mikrotrans yang saling terintegrasi.
"Nah kami mendorong tarif langganan. Kan di luar negeri banyak tuh langganan,” kata Sugihardjo usai dilantik Gubernur DKI Jakarta Pramono Anung di Balai Kota DKI Jakarta, Jumat (3/7/2026).
Lewat skema tersebut, para pengguna bakal mengantongi reduksi biaya jika dikomparasikan dengan pembayaran tarif harian secara konvensional.
Formulasi tarif langganan ini dipatok berlandaskan estimasi pengguna melangsungkan perjalanan pergi-pulang selama 25 hari kerja dalam kurun satu bulan.
“Jadi kalau orang yang bekerja kan kami hitungannya sehari sebulan kan 25 hari kerja kan. Nah itu kan tarifnya mestinya kalau Rp 5.000 berangkat, Rp 5.000 pulang, udah Rp 10.000. Kan jadi kali 25 berapa? Rp 250.000," kata Sugihardjo.
Melalui estimasi hitungan tersebut, pihak DTKJ mengusulkan supaya para pengguna yang menjatuhkan pilihan pada paket langganan bisa mengantongi potongan harga sebesar 20 persen.
Andika Riyan Satriya Nugraha
variabisnis.com adalah media online yang menyajikan berita sektor energi dan umum secara lengkap, akurat, dan tepercaya.












