Harga Ponsel Terancam Naik dan Stok HP Murah Bakal Makin Terbatas
- Minggu, 14 Juni 2026
JAKARTA - Sektor industri smartphone secara global diproyeksikan bakal melewati periode yang cukup sulit sepanjang tahun ini. Lembaga riset pasar TrendForce memperkirakan volume produksi smartphone di tingkat dunia akan mengalami penyusutan berkisar 16,2 persen secara tahunan (year-on-year/YoY), sehingga menjadi hanya 1,051 miliar unit. Kemerosotan tersebut dipicu oleh lonjakan harga komponen memori yang terus menerus membebani pengeluaran biaya produksi dari para vendor smartphone.
Di kuartal pertama 2026, angka produksi smartphone global berada di kisaran 284 juta unit, atau melemah 1,7 persen jika dikomparasikan dengan periode yang sama pada tahun lalu.
Kendati demikian, konsekuensi dari meroketnya harga memori pada masa itu dinilai masih belum terlalu terasa lantaran pihak produsen masih memanfaatkan persediaan komponen yang dibeli ketika harga pasaran sedang murah.
Baca JugaKapolri Janji Tingkatkan Logistik Buatan Dalam Negeri untuk Polri
Kondisi diproyeksikan mulai bergeser sejak kuartal kedua 2026. Berdasarkan analisis TrendForce, sediaan memori murah saat ini sudah kian menipis. Di sisi lain, harga jual memori justru merangkak naik dan terus memangkas persentase keuntungan produsen.
Kondisi tersebut memaksa sejumlah vendor untuk mengubah strategi rencana manufaktur mereka. Apabila tren kenaikan harga memori ini terus berjalan, efeknya tidak hanya memukul pihak produsen, melainkan juga berimbas langsung pada konsumen.
Dalam kemungkinan terburuknya, TrendForce memberikan peringatan bahwa produsen bisa saja terpaksa menaikkan harga jual smartphone secara berkala demi mempertahankan margin profit perusahaan. Jika skenario tersebut berjalan, penurunan angka produksi di sepanjang tahun ini berpeluang menjadi jauh lebih anjlok daripada prediksi semula.
HP murah semakin terbatas?
TrendForce memproyeksikan bahwa efek dari tekanan biaya operasional ini akan memicu dampak yang berlainan pada setiap manufaktur smartphone. Vendor ponsel yang memiliki portofolio produk premium yang kuat serta sokongan dana yang besar, dipandang akan lebih tangguh dalam mengatasi peningkatan harga komponen.
Sebaliknya, sejumlah produsen ponsel asal China yang lebih banyak berfokus pada segmen ponsel ekonomis, berpotensi mengambil langkah produksi yang jauh lebih konservatif akibat melonjaknya biaya produksi serta ketatnya kompetisi pasar dari Huawei.
Hal ini berarti mereka bakal bertindak lebih selektif dalam menetapkan kuantitas gawai yang akan dirakit, termasuk opsi menyusutkan target produksi jika beban biaya komponen tidak kunjung mereda. Situasi ini berisiko menempatkan segmen smartphone kelas murah dan menengah sebagai sektor yang paling terdampak.
Masalahnya, celah keuntungan pada perangkat segmen entry-level pada umumnya jauh lebih tipis apabila dikomparasikan dengan ponsel kelas premium. TrendForce menjabarkan bahwa ketidakpastian ini tampak pada performa Xiaomi, Oppo, dan Vivo yang berturut-turut memproduksi 26 juta unit, 29,5 juta unit, dan 22 juta unit pada kuartal pertama 2026.
Ketiga produsen tersebut dikabarkan tengah menghadapi himpitan profitabilitas akibat melambungnya harga memori, sehingga target perakitan tahunan mereka berpeluang dipangkas jika iklim industri tidak kunjung membaik.
Kondisi serupa membayangi Transsion, grup korporasi yang menaungi merek Infinix, Tecno, serta Itel. Mengingat fokus utamanya bertumpu pada lini smartphone berharga miring, korporasi ini dinilai amat rentan terhadap gejolak harga suku cadang akibat margin profitnya yang tergolong minim.
Samsung dan Apple relatif lebih aman
Di tengah gempuran krisis industri ini, Samsung bersama Apple dinilai berada pada posisi yang jauh lebih diuntungkan. Samsung berhasil mengamankan statusnya sebagai produsen ponsel paling produktif dengan mencatatkan total produksi di kisaran 62,6 juta unit, atau tumbuh sebesar 2,3 persen YoY.
Lonjakan ini didorong oleh langkah antisipasi pasokan untuk peluncuran lini seri Galaxy S paling anyar. Sementara itu, Apple menguntit di posisi kedua lewat perolehan produksi di kisaran 60,2 juta unit. Volume produksi perusahaan asal Cupertino tersebut melesat hingga 19,7 persen dibanding tahun lalu, yang ditopang oleh peningkatan manufaktur unit iPhone generasi terbaru serta peluncuran produk iPhone 17e.
TrendForce berpandangan bahwa kedua raksasa teknologi ini dinilai lebih cakap dalam meredam dampak kenaikan harga memori berkat keunggulan finansial serta kepemilikan portofolio gawai premium yang dominan.
Oleh sebab itu, Samsung dan Apple memiliki kesempatan besar untuk menjaga sekaligus memperluas dominasi pasar di saat kompetitor lainnya memilih untuk menahan laju produksi mereka.
Untuk gambaran lebih detail, berikut adalah data rincian dari 6 vendor smartphone paling produktif sepanjang kuartal I-2026:
PeringkatMerekTotal produksi (juta unit)Perubahan antar kuartalPerubahan antar tahunPangsa pasar1Samsung62,68 persen2 persen22 persen2Apple60,2-31 persen20 persen21 persen3Oppo29,5-25 persen8 persen10 persen4Xiaomi26-37 persen-38 persen9 persen5Vivo22-8 persen-8 persen8 persen6Transsion19,8-6 persen-3 persen7 persen
Andika Riyan Satriya Nugraha
variabisnis.com adalah media online yang menyajikan berita sektor energi dan umum secara lengkap, akurat, dan tepercaya.












